×

Iklan


Nasehat IPW: Kasus Afif di Padang, Polisi tak Usahlah Cari yang Memviralkan Videonya

01 Juli 2024 | 10:42:20 WIB Last Updated 2024-07-01T10:42:20+00:00
    Share
iklan
Nasehat IPW: Kasus Afif di Padang, Polisi tak Usahlah Cari yang Memviralkan Videonya
Kapolda Sumbar Suharyono

Jakarta, Khazanah --  Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polda Sumatera Barat tidak mencari orang yang memviralkan dugan penyiksaan terhadap Afif Maulana di Kuranji, oleh polisi di  Padang. Viralnya video dan berita itu menurut Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, bisa membantu polisi untuk membereskan hal-hal yang tidak beres dalam institusu dan bisa untuk instrospeksi.

“Saya berharap ucapan pak kapolda untuk mencari siapa yang memviralkan tuduhan polisi menganiaya itu dihentikan,” kata Sugeng saat dihubungi, Sabtu, 29 Juni 2024 sebagaimana dilansir laman tempo.co.

    Seperti diberitakan media-media sebelumnya, kasus yang bermula dari ditemukannya jasad Afif Maulana di Batang Kuranji. Awalnya ia disebut meninggal karena terjatuh. Tapi kemudian berkembang menjadi kecurigaan adanya penyiksaan yang menyertai kematiannya.

    Kematian Afif yang  terjadi pada 9 Juni 2024 lalu menjadi viral di media sosial dan media massa. Yang mempertanyakan kematian Afif sebagai kematian tak wajar.

    Selidik punya selidik ketika itu memang terjadi operasi antitawuran yang dilaksanakan Tim Sabhara Polda Sumbar di Kuranji. Sejumlah pelajar SMP terlibat.  Polisi yang berpatroli menghalau mereka di sekitar Jembatan Kuranji, Kota Padang, pada 9 Juni 2024 dini hari.

    Polisi pun menangkap 18 orang yang diduga hendak tawuran. Namun, beberapa di antara mereka diduga mendapat perlakuan ‘melebihi kewenangan’ oleh anggota polisi. Salah satu diantaranya adalah Afif.

    Jenazah Afif  ditemukan di aliran sungai di bawah Jembatan Kuranji sekira pukul 11.00 pada hari yang sama. Penemuan jenazah itu pun viral di media sosial dan narasi yang beredar bahwa korban diduga tewas setelah disiksa polisi.

    Lalu Kapolda Sumatera Barat Inspektur Jenderal Suharyono menyatakan bahwa institusinya telah menjadi korban pengadilan pers (trial by the press) maka dia ingin mencari orang yang pertama memviralkan kasus ini. Dia beralasan akibat memviralkan video itu, menjadi justifikasi seolah-olah polisi bertindak salah, polisi telah menganiaya seseorang sehingga berakibat hilangnya nyawa orang lain.

    “Sejauh mana dan apa yang dia ketahui terhadap apa yang diucapkan di media sosial itu,” kata perwira tinggi Polri tersebut.

    Namun Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso mengingatkan agar polisi tidak mencari-cari ‘kambing hitam’ untuk dikriminalkan. Viralnya kasus dugaan penyiksaan ini justru membuat publik lebih perhatian kepada apa yang terjadi.

    “Kapolda Sumatera Barat tampaknya telah melupakan instruksi kapolri bahwa kritik kepada kapolri adalah satu masukan yang harus diterima didalami, bukan kemudian dikriminalisasi,” ucap Sugeng.

    Tapi sehari lalu, Kapolda Sumatera Barat Irjen Suharyono mengakui adanya kesalahan prosedur anggotanya dalam penanganan 18 remaja terduga pelaku tawuran di Kota Padang. Namun, hal ini tidak berkaitan dengan tewasnya Afif.

    Ia menyebut ada 45 anggotanya yang melampaui kewenangan dalam menangani 18 pelaku tawuran di Polsek Kuranji. "Ada 45 personel anggota yang diperiksa Propam terkait 18 orang yang diperiksa di Polsek Kuranji," kata Suharyono seperti dikutip dari Antara, Rabu, 26 Juni 2024.

    Berdasarkan penjelasan Suharyono, terdapat dua lokasi penanganan aksi tawuran yang menjadi fokus kepolisian, yakni di Jembatan Kuranji dan di Polsek Kuranji. Ia mengklaim, penanganan tawuran di atas Jembatan Kuranji telah sesuai prosedur. 

    "Kalau di Polsek Kuranji ada yang melampaui kewenangan anggota," ucapnya saat menemui keluarga Afif Maulana  dan kuasa hukumnya yang menggelar aksi di depan gerbang Polda Sumatera Barat. (eko/tempo.co/ant)