×

Iklan


Naik Bus ke Jakarta

08 September 2022 | 11:00:22 WIB Last Updated 2022-09-08T11:00:22+00:00
    Share
iklan
Naik Bus ke Jakarta
Gamawan Fauzi

Oleh: Gamawan Fauzi

SEJAK wabah Covid-19 melanda negeri ini lebih dua tahun lalu, persyaratan terbang dengan pesawat semakin ketat. Antigen lah, PCR lah, harus vaksin dua kali, bahkan sampai harus booster. Knndisi ini membuat peminat pengguna jasa penerbangan anjlok. 

Kondisi ini juga ternyata dengan cerdas ditangkap pengusaha jasa transportasi darat (mobil). Beberapa perusahaan transportasi darat yang sebagian sudah mulai megap-megap, seperti mendapat angin segar. Tiba-tiba bermunculan bus-bus baru yang menjanjikan beragam pelayanan. Mulai yang reguler dan standar non AC hingga  kelas istimewa dengan bermacam-macam brand. 

    Ada yang menyebut Eksekutif, Sultan, Super Eksekutif hingga Royal Eksekutif dengan tempat duduk nyaman bak di pesawat business class, karena bisa bersolonsor meluruskan kaki dengan tempat duduk yang lebar dan jarak yang renggang. Lebih dari itu, ada bus yang double dek menyediakan kamar-kamar sendiri dengan fasilitas tempat tidur, makanan, buah dan minuman gratis.

    Seorang teman yang beberapa kali menggunakan jasa bus Padang-Jakarta bercerita kepada saya, bahwa dia merasa sangat senang naik bus bolak balik Padang-Jakarta. Dia merasa sangat enjoy. 

    Disamping bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan, tidak merasa lelah seperti dulu, karena disamping lega dan sejuk, juga bisa rebahan di kursi sambil nonton film di tv yang di sediakan atau dengar lagu sepanjang perjalanan.

    Diam-diam termakan juga promosi teman tadi oleh saya. Dan beberapa waktu kemudian, saya juga mendapatkan promosi yang sama dari teman lain, hingga saya makin tergoda unruk mencobanya. 

    Belakangan ini perkembangan transportasi bus memang sedang bangkit. Banyak bisnis transportasi yang sepertinya kembali berjaya. Maka di sepanjang jalan,  kita lihat merk bus-bus baru dan bus lama dengan wajah baru yang menarik serta menjanjikan layanan istimewa. 

    Tuhan Maha Adil, setelah lama terpuruk, kini seperti bangkit kembali. Rupanya memang hidup ini di pergilirkan, seperti firman Allah dalam Alquran.

    Dua puluh sembilan Agustus, pukul 09.30 saya tiba di Pool ANS,  jalan Chatib Soeleman. Saya sudah mengantongi tiket dengan jadwal keberangkatan jam 10.00 pagi. 

    Padang masih di siram hujan sejak sehari sebelumnya. Matahari seperti enggan tersenyum. Ada rasa khawatir, karena akan melewati pendakian Sitinjau Lauik yang rawan longsor. 

    Tak lama saya duduk diruang tunggu dengan dua orang sahabat saat SMA dan Kuliah, Fakhril Murad dan Toni Martin yang kebetulan berangkat dengan mobil yang sama, tiba-tiba penumpang di persilahkan menaikkan barang-barangnya dan sekalian mengisi tempat duduk masing-masing. 

    Setelah pihak manajemen memastikan penumpang lengkap, maka tepat jam 10.05 mobil bergerak meninggakan kota Padang dengan tenang tanpa pengumuman apa-apa. Saya duduk di barisan terdepan di belakang sopir. 

    Posisi duduk yang lebih tinggi dari sopir membuat pemandangan lepas ke depan, kekiri dan kekanan. Saya seperti berada di anjungan, di panggung kaca yang sejuk ber AC. 

    Mobil terus berjalan hingga memasuki kawasan Sitinjau Lauik. Kabut ternyata sudah pergi. Kawasan yang biasanya berteman halimun tampak cerah. Matahari tersenyum dibalik ranting-ranting kayu yang rimbun. Mobil dengan mulus menyelesaikan rute Sitinjau Lauik tanpa terhalang longsoran.

    Di Kota Solok mobil berhenti beberapa menit di terminal Bareh Solok, menaikkan penumpang dan untuk shalat Dzuhur serta makan. Di Muaro Kelaban mobil berhenti lagi di restoran Palapa. Penumpang turun untuk shalat Ashar dan makan. Tak lama mampir disana, mobil melanjutkan perjalananya. 

    Saat magrib datang, mobil kembali berhenti di depan mesjid daerah Sungai Rumbai, meskipun hujan turun dengan derasnya. 

    Jam 04 pagi, mobil kembali berhenti untuk memberi kesemptan penumpang mandi, ganti pakaian dan makan dan shalat subuh. Semua pemumpang turun, tidak berapa lama, lalu perjaanan di lanjutkan. 

    Sejak itu mobil tak lagi berhenti hingga sore sampai di Kalianda Lampung, kecuali hanya untuk mengisi bahan bakar di SPBU. 

    Selama siang hari kedua, praktis penumpang tak ada kesempatan untuk makan siang. Perut terasa sangat lapar. Untung sahabat saya Toni Martin membawa sedikit bekal dan sayapun membawa bebeberapa roti dan air mineral yang di sediakan anak saya sebelum berangkat dari Padang. 

    Saya dan Toni Martin sudah sangat akrab dengan ke dua orang sopir dan kenek bus itu. Sopir senior bernma Buyung, asal Sicincin yang sudah lebih 30 tahun bekerja di PO. ANS. 

    Buyung type pegawai setia, dia bertahan disana disaat perusahaan maju dan sulit. Dia terlihat masih muda dalam usia sekitar 65 tahun. Katanya dia kelahiran 1957.

    Sopir juniornya adalah Beni, putra Tanah Datar yang terdidik dan cekatan. Dia Pernah kuliah di ISI Yogya walaupun tak sampai selesai. Kata pak Buyung, si Deni itu serba bisa, pekerjaannya merapi-rapikan mobil ini.

    Deni tamatan SMSR Padang, sejak itu berbagai pekerjaan dan usaha di cemplunginya. Pernah sebagai pelukis, pematung, tukang las dan terakhir disain interior. 

    Dalam perjalanan itu, Saya dan Toni lebih banyak duduk di kursi samping sopir. Pak Buyung type pendiam. Beliau hanya semangat bercerita bila menyangkut kendaraan, pengalaman sebagai sopir dan maju mundurnya usaha transportasi perusahaan saja.

    Sementara dengan Deni, kami bercerita macam-macam, gado-gado, apo nan takana. Terlihat dia punya banyak keterampilan dan pengetahuan, karena pernah juga bekerja pada salah satu perusahaan rokok. 

    Diantara para sopir, tidur dan bekerja dilakukan bergantian. Kelihatannya tak ada aturan yang ketat waktunya, tapi lebih kepada saling pengertian dan saling memahami. Bila yang satu tidur, maka yang satu lagi menyetir. Mereka saling menghargai satu sama lain. Tak ada protes bila sopir yang satu lebih lama menyetir mobil dari yang lain.

    Pukul 16.30 sore, mobil sudah sampai di pelabuhan Bakaehuni. Menunggu giliran sebentar, langsung naik ke kapal. Kami sempat makan sebelum naik ke kapal. Saya sangat beruntung. Sepanjang jalan makan bersama rombongan sopir. Saya ingin membayarkan mereka, tapi mereka melarangnya, karena setiap rumah makan, sopir di gratiskan. Saya bagian dari mereka, artinya juga ikut gratis.

    Udara di kapal sangat bersahabat, tidak panas dan juga tidak hujan. Angin berkelana sepoi-sepoi. Kami duduk di palka paling atas dan bersila bersama para sopir dan teman lain, ngobrol lepas tentang banyak hal. 

    Saya lebih banyak menikmati pembicaraan mereka. Banyak hal yang saya tak tau tentang kehidupan orang-orang yang hidup berpuluh tahun diatas bus. Saya menikmatinya. Benar kata Einstaein. Setiap orang yang saya temukan mereka pasti lebih baik dari saya, minimal dalam satu hal. Dan setiap orang adalah jenius di bidangnya.

    Hanya sekitar satu jam lamanya berlayar, kapal telah merapat di pelabuhan Merak. Pluit kapal berbunyi keras sahut bersahut dan kami segera naik ke atas mobil untuk melanjutkan perjalanan.

    Tiga puluh enam jam lamanya, mobil yang kami tumpangi sampai di terminal Pondok Pinang.

    Dari pejalanan saya naik bus Padang-Jakarta kali ini, saya semakin meyakini bahwa Allah Subhanahu wata'ala mempunyai khazanah yang luar biasa banyaknya. Manusia amat miskin memahami dan mengetahui liku-liku kehidupan ummat manusia dengan segala suka duka, sakit senangnya, bahagia dan dukanya dari sekian banyak pekerjaan atau profesi.

    Bagaimana kehidupan pelaut, pemulung, pedagag asongan, penunggu mercusuar,  nelayan, tukang arit kayu di hutan, penambang, operator alat-alat berat, tukang las bawah laut, pekerja minyak laut lepas/off shore, pemain sirkus, pemetik kelapa, tukang gali kubur, pemahat, pelukis, penari, penyanyi, pemain drama, penulis dan pembaca puisi, olahragawan, dan ribuan profesi lainnya?

    Memahami pekerjan orang lain, menambah rasa tawadhuk, rendah hati dan sikap profesional, bahwa kita hanya tau sedikit dan hanya bisa sedikit dari berjuta sisi kehidupan. 

    Seorang profesor filsafat yang saya kenal, pernah mengomentari calon sarjana yang akan ujian. Badan sekecil ini mau jadi sarjana? Kebetulan calon sarjana itu memang berbadan agak kecil. 

    Dengan confidance calon sarjana itu tegas menjawab. Saya memang kecil, tapi kalau bertanding memanjat kelapa dengan bapak, saya siap. Sang profesor kaget dan spontan berkata. Tak usah ikut ujian. Kamu lulus, karena sarjana itu harus percaya diri. Kamu sudah memiliki apa yang menjadi penting menjadi seorang sarjana. 

    Profesor telah mengajarkan sikap profesional kepada muridnya. Sikap profesional memang akan muncul bila seseorang menyadari bahwa dia tidak memahami semua hal, dan dia berkeyakinan bahwa setiap orang yang dijumpai pasti memiliki kelebihan daripada dirinya, minimal dalam satu hal. Karena itu dia menghargai setiap orang, bukan hanya karena kaya atau punya kedudukan tinggi, tapi kepada semua munusia.

    Perjalanan saya menaiki bus dari Padang ke Jakarta bulan Agustus lalu, menambah keyakinan saya terhadap banyak hal. Saya berharap, kemajuan transportasi bus antar wilayah ini akan menambah pilihan banyak orang untuk berpindah tempat dengan rasa aman, nyaman dan nikmat. 

    Satu hal yang menurut hemat saya perlu dibenahi selain soal management perusahaan pelayanan dengan segala aspeknya, adalah tempat persinggahan dan jadwal persinggahan yang harus sebaik, sebersih, senyaman bus yang menjual brand Eksekutif, Super Eksekutif, Royal Eksekutif atau kelas Sultan dan sebagainya yang menggambarkan sesuatu yang "berkelas". 

    Menikmati perjalanan darat dengan bus yang bagus saja tak cukup. Penumpang ingin semua perjalanan itu memang istimewa.

    Tak ada yang sempurna sekaligus, kesempurnaan akan terjadi secara bertahap, asal mau berubah.

    Kata prahalad, if you dont change, you will die.

    Nasib yang dialami dinosourus yang berbadan besar, tapi lebih dahulu punah dibanding semut yang kecil. Mungkin karena ia sudah merasa hebat karena basar tubuhnya. I am in my position, adalah sikap yang ternyata merugikan diri sendiri.

    Jakarta, 29 Agustus 2022

    Gamawan Fauzi.