×

Iklan

LINTAS PADANG - BUKITTINGGI
Mulai Hari ini Jalan Malalak Bebas dari Antrean Truk, Pengemudi Lega

01 Juli 2024 | 10:32:13 WIB Last Updated 2024-07-01T10:32:13+00:00
    Share
iklan
Mulai Hari ini Jalan Malalak Bebas dari Antrean Truk, Pengemudi Lega
Kondisi lalu-lintas di ruas Padang Luar sampai simpang Malalak

Padang, Khazanah -- Mulai hari ini 1 Juli 2024 truk angkutan barang dilarang melintasi jalur Sicincin – Malalak sampai kondisi perbaikan jalan Lembah Anai- Padang Panjang dinyatakan selesasai. Larangan itu dinyatakan oleh Gubernur Mahyeldi, Jumat (28/6)

Makin parahnya kondisi jalan dari Simpang Balingka sampai ke Padang Luar Agam, membuat jalur yang merupakan bottle neck dari arus Sicincin-Malalak dan Lubuk-Basung Maninjau itu belakangan macet alahurabi.

    Limpahan arus kendaraan akibat terputusnya jalur Lembah Anai – Padang Panjang – Bukittinggi membuat para pengemudi acap dilanda stress lantaran berjam-jam macet total. Apalagi jika ada kendaraan truk yang terpeleset, rusak dan dan mogok.

    Keluhan itu sudah bertubi-tubi dialamatkan para pengemudi kepada Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat. Karena kerusakan parah berbagai jalan di Sumatera Barat ini telah memperlelet mobilitas barang dan orang.

    Yuliahendra (44), warga Pasar Baru Padang misalnya, kemarin mengaku kepada wartawan Khazanah harus menempuh perjalanan bersama keluarganya dengan mobil dari Bukttinggi pukul 17.00 Sabtu 29 Juni dan sampai di Padang pada pukul 08.30 WIB hari Minggu 30 Juni. Ia sudah mencoba masuk ke Simpang Malalak tapi karena terjadi kemacetan total, ia balik lagi keluar dan mengambil arah menuju Solok. "Sayangnya di Sitinjau Lauik juga sama parah macetnya," kata Hendra, sapaannya.

    Tentu tidak Yuliahendra saja yang mengalami nasib seperti itu dan senantiasa berulang sejal terputusnya jalan Lembah Anai – Padang Panjang. pengalaman pahit Adit (30) berangkat dari Sijunjung pukul 16.00 WIB Minggu 30 Juni baru sampai di Padang pada pukul 06.30 WIB hari Senin 1 Juli 2024.

    Gubernur Mahyeldi menjawabnya dengan mengeluarkan aturan baru: “Truk angkutan barang kita larang dulu lewat ke Malalak, silahkan ambil jalan lain dulu,” kata Mahyeldi usai rapat dengan instansi terkait seperti Dishub, Dinas BMCKTR, Ditlantas dan sebagainya akhir pekan di Padang.

    Keputusan itu diambil setelah masukan yang diterima rata-rata mengeluhkan banyaknya truk yang rusak, terpeleset dan beriringan sehingga membuat laju kendaraan terhambat.

    Pemprov Sumbar, kata Mahyeldi, untuk sementara membatasi kendaraan angkutan barang melintasi ruas jalan Simpang Koto Mambang – Balingka – Padang Luar. Kendaraan dengan konfigurasi sumbu roda I-II-II tidak diperkenankan melewati ruas jalan tersebut, kecuali atau khusus bagi kendaraan tanki  yang membawa BBM dan gas elpiji.

    Pembatasan tersebut tertuang dalam sebuah pengumuman dan mulai berlaku 1 Juli 2024 sampai ruas jalan Padang - Bukittinggi via Lembah Anai dibuka kembali. Tujuan pembatasan ini untuk memastikan keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas pada jalur alternatif tersebut jelang tuntasnya perbaikan jalan nasional di kawasan Lembah Anai.

    “Ketentuan pembatasan kendaraan ini efektif mulai 1 Juli sampai jalan Lembah Anai dibuka kembali,” tegas  Mahyeldi.

    Sebelumnya rencana pembatasan ini juga telah dibahas dalam rapat forum Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Provinsi Sumbar pada Kamis (27/06/2024) lalu. Hasil rapat itulah yang kemudian dijadikan dasar pertimbangan pengambilan keputusan ini.

    Menjawab pertanyaan pers, Mahyeldi mengatakan bahwa ketentuan ini tidak kaku tapi penting untuk ditaati. “Jika dalam kondisi tertentu, kondisinya bisa dilewati truk, kita persilahkan pihak kepolisian mengambil langkah diskresi (keluar dari ketentuan ini-red) asal aman dan tetap lancar arus lalu-lintasnya,” tutur dia.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar, Dedi Diantolani menyebut dalam rapat forum LLAJ Kamis (27/6), tidak hanya fokus membahas tentang pembatasan kendaraan barang pada ruas jalan Simpang Koto Mambang - Balingka - Padang Luar. Tapi juga, membahas tentang penutupan total ruas jalan Lembah Anai.

    Meski pun selama ini jalur tersebut telah ditutup karena berada dalam tahap pengerjaan, tapi masih saja ada sejumlah pengendara roda dua yang memaksa melintas dengan berbagai alasan. Kedepan, itu tidak boleh lagi terjadi, kecuali bagi yang mempunyai kepentingan percepatan pengerjaan proyek.

    “Hasil rapat tersebut, telah kami tuangkan kedalam surat gubernur. Itulah nanti yang akan menjadi dasar bagi petugas bertindak di lapangan,” terangnya.

    Jalan Diperbaiki

    Kini  Jalan rusak yang menyebabkan kemacetan akut mulai dari Simpang Padang Lua –Simpang Malalak, mulai diperbaiki oleh Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumbar.

    “Sebenarnya, Pak Gubernur sudah menginstruksikan agar kondisi jalan alternatif ini diperhatikan. Namun, saat itu kondisinya belum separah sekarang, karena itu kita lebih fokus kepada tanggap darurat dulu,” ungkap Erasukma Munaf, Kepala Dinas BMCKTR Provinsi Sumbar kepada pers.

    Erasukma menyebut, ruas jalan provinsi tersebut sebenarnya berkelas IIIA atau hanya cocok untuk dilalui kendaraan bersumbu 8 T, dengan kondisi saat ini  lebar variasi 3,5 - 4,5 M. Saat ini, jalur tersebut dilalui oleh kendaraan bertonase total sampai 40 T. Sehingga sangat wajar, jika kemantapannya menurun.

    “Kombinasi overload dengan tingginya curah hujan, serta padatnya arus kendaraan yang melintas, membuat proses pemeliharaan dan perbaikan tidak berjalan optimal,” jelasnya.

    Menyikapi kondisi tersebut, Erasukma mengaku pihaknya telah melakukan sejumlah upaya penanganan. Diantaranya, melakukan penimbunan pada setiap badan dan bahu jalan yang berlobang menggunakan sirtu. Kemudian saluran drainase yang rusak juga diperbaiki sehingga aliran airnya tidak lagi meluber ke badan jalan.

    “Perbaikan ini diperkirakan akan memakan waktu 7 - 14 hari ke depan,” katanya.

    Pihaknya juga terus berupaya untuk memperlebar akses, sehingga jalur tersebut aman untuk dilewati dua kendaraan berpapasan. Sebab, selama ini hal tersebut merupakan salah satu keluhan utama dari para pengendara yang melintas.

    “Kita telah siapkan anggaran sekitar Rp 2 miliar untuk kebutuhan tersebut. Prioritas utama tentu pada titik yang dinilai kerusakannya paling parah,” ungkapnya.

    Diperkirakan, total panjang jalan yang bisa diperbaiki pada tahap ini lebih kurang 4 Kilometer. Sisanya nanti akan dianggarkan kembali pada APBD Perubahan Tahun 2024 dan kucuran Dana Siap Pakai (DSP) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (devi/eko)