×

Iklan


Moeldoko Sebut Ada Lalat Politik, Demokrat: Sampah dan Bangkainya Siapa?

11 Jul 2021 | 21:35:07 WIB Last Updated 2021-07-11T21:35:07+00:00
    Share
iklan
Moeldoko Sebut Ada Lalat Politik, Demokrat: Sampah dan Bangkainya Siapa?
KETUM Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono dan KSP Moeldoko. IST

Jakarta, Khazminang.id—Pernyataan Kepala Staf Presiden, Moeldoko yang mengingatkan agar semua pihak agar tidak menjadi lalat-lalat politik yang mengganggu konsentrasi pemerintah menangani pandemi COVID-19, mendapat reaksi dan kritikan keras dari Partai Demokrat (PD).

"Lalat itu berkerumun di tumpukan sampah dan bangkai. Jadi, kalau benar ada lalat politik, Istana perlu introspeksi diri. Siapa yang menjadi sampah dan bangkai di lingkungan Istana, sehingga mengundang datangnya lalat politik?" kata Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP PD Herzaky Mahendra Putra kepada wartawan, Minggu (11/7).

Lantas, siapa lalat-lalat politik yang dimaksud Moeldoko? Herzaky punya dugaan tersendiri.

    "Saat Presiden berusaha bekerja serius menangani pandemi dan menyelamatkan nyawa rakyat, siapa di Istana yang sibuk menyelamatkan ekonomi rekanan dan atau mencari cuan di tengah pandemi? Mungkin itu yang dimaksud Moeldoko," ucap Herzaky.

    Khusus untuk Moeldoko, Herzaky menyarankan agar yang bersangkutan fokus menjalankan tugas dan fungsinya, membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menangani pandemi COVID-19 yang kini semakin mengganas.

    "Moeldoko juga selaku KSP bisa fokus dengan tugasnya membantu Presiden menyelamatkan nyawa rakyat, daripada sibuk bermanuver politik berusaha mengambil paksa Partai Demokrat seperti yang terus berusaha dilakukannya selama ini. Kerja benar, dan tunjukkan hasil nyata bantu rakyat. Tunjukkan kalau beliau pelaku demokrasi, bukan pelaku abuse of power," papar Herzaky.

    Tak sampai di situ. Partai Demokrat juga menyarankan agar Moeldoko ikut membantu Presiden Jokowi memberantas para lalat-lalat politik tersebut.

    "Kasihan Bapak Jokowi kalau ada orang di sekelilingnya yang malah menjadi lalat politik, atau tumpukan sampah politik. Mungkin Moeldoko selaku KSP bisa bantu Bapak Presiden untuk bersih-bersih sampah politik, bangkai politik, dan lalat politik di sekitar Istana, jika memang ada lalat politik sesuai dengan statement Moeldoko sendiri," terang Herzaky.

    Lebih lanjut Ketua Umum (Ketum) PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini. AHY menilai pemerintah gagal memitigasi pandemi COVID-19, sehingga membuat oksigen, obat-obatan, dan vitamin saat ini menjadi langka.

    "Kalau pemerintah kemudian gerah dengan kritik kami, itu tanda pemerintah saat ini memang belum optimal dalam membantu rakyat. Masih belum fokus pada penyelamatan nyawa. Masih gamang, entah tidak tahu harus fokus ke mana, atau gamang karena ada kepentingan lain yang mesti didahulukan, selain menyelamatkan nyawa rakyat? Padahal seluruh dukungan sudah diberikan kepada pemerintah selama setahun lebih pandemi ini," pungkas Herzaky.

    Sebelumnya, KSP Moeldoko mengingatkan soal lalat politik di tengah banyak pihak yang mengkritik dan merongrong kala situasi pandemi covid-19 yang melonjak di Indonesia. Dia pun mengingatkan jangan lagi ada lalat-lalat politik, sebab hal itu justru mengganggu konsentrasi pihak-pihak yang tengah berjuang melawan Covid-19.

    "Saya ingatkan semua pihak jangan jadi lalat politik yang justru mengganggu konsentrasi mereka yang tengah bekerja keras bahkan mempertaruhkan hidup, kerja antara hidup dan mati," kata Moeldoko dalam rekaman wawancara yang diterima, Sabtu (10/7).

    Saat ini kata dia, yang tengah dihadapi Indonesia adalah permasalahan kemanusiaan. Dia pun meminta semua pihak agar membuang kepentingan golongan atau kelompoknya dan ikut serta bersama-sama menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi bangsa saat ini.

    Sebab kata dia, persoalan yang saat ini tengah dihadapi akan mudah selesai apabila dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama. "Saya imbau, lepas perbedaan kita sementara pikirkan satu kepentingan besar yaitu kemanusiaan itu penting, dari pada kepentingan pribadi dan golongan, hanya bersama persoalan bangsa jadi ringan kalau diselesaikan bersama," kata dia. ryn/dtc