×

Iklan

DI SDN 04 KUDU GANTIANG
Miris! Siswa Terpaksa Belajar di Kelas yang Atapnya Bocor, Dinding Berlumut

23 November 2021 | 15:50:46 WIB Last Updated 2021-11-23T15:50:46+00:00
    Share
iklan
Miris! Siswa Terpaksa Belajar di Kelas yang Atapnya Bocor, Dinding Berlumut
Puluhan anak di sebuah Nagari Kudu Gantiang di Kecamatan V Koto Timur Kampuang Dalam, Padang Pariaman, menelan pilunya dunia pendidikan.

Lubuk Alung, Khazminang.id-- Puluhan anak di sebuah Nagari Kudu Gantiang di Kecamatan V Koto Timur Kampuang Dalam, Padang Pariaman, menelan pilunya dunia pendidikan. Pasalnya, sekolah yang menjadi tempat untuk menimba ilmu ditempat mereka, tak seindah Sekolah Dasar (SD) pada umumnya.

Dalam proses belajar mengajar (PBM), para siswa SD Negeri 04 di Kudu Gantiang ini harus belajar di kelas yang bocor, beralaskan lantai semen kusam, dengan plafon yang sudah bolong-bolong, serta dikelilingi dinding yang ditumbuhi lumut termakan usia.

Secara keseluruhan, kondisi gedung SD Negeri 04 ini rusak berat seperti halnya lantai sekolah, dinding dan plafon. Ironisnya lagi, satu ruang dibuat dua kelas di sekat menggunakan dinding pembatas darurat.

    Kondisi memprihatinkan ini, seakan sudah menjadi hal yang lumrah bagi guru dan murid di sekolah tersebut. Ruang kelas tak layak itu, masih digunakan meski sangat membahayakan. 

    Sudah setahun lebih para siswa dan siswi SD N 04 V Koto Timur merasakan kesulitan menjalankan aktivitas belajar di sekolahnya.

    Jika hujan, pelajar harus bersiap-siap untuk bergotong royong untuk menyelamatkan buku-buku agar tidak basah, menyapu air yang menggenang di lantai kelas.

    Tidak jarang mereka harus melipat bagian bawah celana agar tidak basah, sedangkan kaos kaki dan sepatu juga harus dicopot.

    Bangunan gedung SD N 04 terdiri dari 2 lantai. Atapnya yang berbahan karet tampak bolong di banyak titik.

    Kepala SD 04 V Koto Timur, Zuraina mengatakan 3 kelas yang berada di lantai 2 sekolah tersebut paling terdampak jika hujan deras melanda.

    Ia menuturkan bahwa jika hujan turun, maka aliran air akan masuk ke dalam kelas-kelas tersebut.

    Dengan keterbatasan dana, pihak sekolah hanya mampu mengantisipasi hal tersebut dengan memasang plastik terpal agar kucuran air hujan tidak langsung mengganggu aktivitas belajar mengajar.

    "Kondisi seperti ini sudah sejak Juli 2020 kami alami hingga sekarang, kasihan anak-anak kita (pelajar SD 04 V Koto Timur," ujar Zuraina kepada wartawan, Senin (22/11).

    Kata dia, meskipun sudah dipasangi terpal, tetap saja air hujan bisa masuk ke dalam kelas, karena terpal yang ada tidak bisa menutupi keseluruhan luas kelas tersebut.

    Parahnya lagi, kata Zuraina, jika hujan deras 3 kelas di lantai 2 akan tergenang, dan merembes ke lantai 1.

    Di lantai 1 kelas yang ada, juga terdapat kantor kepala sekolah dan ruang majelis guru.

    "Jadi jika hujan lebat, air dari lantai 2 akan merembes ke dalam kelas yang ada di lantai 1, serta juga ke dalam kantor kepala sekolah dan ruangan guru," ujar dia lagi.

    Zuraina menyampaikan kesedihannya atas infrastruktur sekolah yang rusak tersebut.

    "Setiap malam saya selalu cemas jika saja hujan lebat mengguyur pada malam atau pagi, karena kasihan sama anak-anak (pelajar SD 04 V Koto Timur)," kata Zuraina.

    Ia juga mengungkapkan, sebelumnya aktivitas sekolah juga pernah dialihkan ke sebuah musala yang berada tidak jauh dari SD tersebut.

    "Saat itu hujan yang sangat deras, jadi sekolah kami alihkan ke musala," imbuhnya.


    Namun, aktivitas belajar mengajar dialihkan kembali ke sekolah, karena masyarakat setempat mengadakan salat 40, yakni salat berjamaah dan ibadah lainnya yang dilakukan masyarakat selama 40 hari di masjid atau musala.

    Lebih lanjut dikatakan, aktivitas belajar mengajar dilanjutkan kembali di gedung sekolah, antisipasi terhadap dampak hujan dilakukan dengan memasang plastik terpal.

    Selain sebagian besar atap yang sudah bocor, SD N 04 V Koto Timur juga kekurangan bangku tempat duduk untuk siswa.

    "Masih ada siswa yang duduk sebangku berdua, bahkan juga memakai bangku dari ruangan guru," lanjut dia.

    Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Padang Pariaman, Anwar menyebutkan, dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh pemerintah setempat, pihaknya akan mengupayakan mencari peluang dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat.

    Ia menyebutkan, sebanyak 410 bangunan Sekolah Dasar (SD) yang ada di daerah ini, 52 persen rusak. Artinya, sebanyak 52 persen kondisi bangunan sekolah SD di Padang Pariaman rusak berat. (Syafrial Suger)