×

Iklan

SOSIALISASI BAHAYA RADIKALISME OLEH BNPT-FKPT DI MENTAWAI
Meski Relatif Teduh, tapi Bahaya Radikalisme Tetap Harus Diwaspadai di Mentawai

25 Juni 2024 | 11:39:21 WIB Last Updated 2024-06-25T11:39:21+00:00
    Share
iklan
Meski Relatif Teduh, tapi Bahaya Radikalisme Tetap Harus Diwaspadai di Mentawai
Peserta Kenduri FKPT di Tua Peijat Kepulauan Mentawai sedang mendiskusikan bagaimana membangun partisipasi mencegah radikalisme

Tuapeijat, Khazanah – Mentawai dikenal sebagai kepulauan yang dihuni oleh beragam etnis termasuk kawasan yang dikenal hampir tidak pernah mengalami peristiwa-peristiwa   terorisme yang dipicu oleh penganut paham radikalisme. Tetapi, sebagai wilayah terluar dari Indonesia, kondisi kedamaian di Mentawai mesti terus terjaga dan dipelihara.

Demikian benang merah dari pertemuan tokoh masyarakat, perangkat desa, wartawan, perwakilan Ormas, TNI/Polri dalam acara ‘Kenduri’ (Kenali dan Peduli Lingkungan Sendiri) yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di aula hotel Bundo, Tuapeijat, Selasa (25/6)

Menurut Ketua FKPT Sumbar Adil Mubaraq meski kondisi damai dan harmonis di Mentawai, namun tetap masih diperlukan kewaspadaan dan upaya makin memperteguh masyarakat untuk senantiasa menjaga kerukunan, jauh dari pergesekan karena berbeda paham, jauh dari sikap intoleran.

    “Dengan alasan itulah, maka salah satu idiom yang dipakai sebagai tema kegiatan Kenduri ini adalah kata ‘resiliensi’ yang bermakna bagaimana mempertangguh dan membuat masyarakat senantiasa menyadari bahwa radikalisme dan terorisme adalah sesuatu yang harus ditiadakan,” kata Adil.

    Bupati Kepulauan Mentawai, Fernando J Simanjuntak menyambut baik kegiatan FKPT yang ditempatkan di Kepulauan Mentawai. “Penggunaan idiom resiliensi menjadi sangat tepat. Agar seluruh elemen bangsa menjadi tangguh dan tahan terhadap susupan paham-paham radikalisme yang bermuara ke arah penyebaran teror yang merusak persatuan nasional.” kata Fernando.

    “Walaupun saya dapat memastikan bahwa tidak ada gerakan paham radikalisme di Mentawai, tetapi sebagai sebuah upaya antisipasi, penting artinya mensosialisasikan bahaya dari radikalisme dan terorisme kepada masyarakat Mentawai,” ujar dia menambahkan.

    Kemiskinan yang menjadi salah satu sumber pintu masuk bagi para penebar paham radikalisme untuk memperbanyak sebaran paham yang merusak itu. Baik dalam pertemuan face to face maupun dengan penggunaan internet dan media sosial. “Jadi di situ menjadi penting dilakukan literasi kepada masyarakat agar tidak gampang terpapar radikalisme lewat medsos dan internet,” ujar Fernando.

    Sementara itu Sekda Kabupaten Kepulauan Mentawai, Martinus Dahlan yang tampil jadi narasumber menyatakan bahwa kewaspadaaan terhadap susupan paham radikalisme terhadap masyarakat Mentawai tidak boleh dilengahkan. “Karena para penganut paham radikal senantiasa mencari wilayah-wilayah baru sebaran paham radikalisme,” kata Martinus Dahlan.

    Bagaimana Ancaman Terjadi?

    Kasub Koordinator Partisipasi Masyarakat BNPT, Maira Himadhani dalam paparan menjelaskan segala sesuatu tentang ancaman dari paham radikal dan aksi teror. “Terorisme saat ini sudah menjadi common ennemy atau musuh bersama nagara-negara di dunia, karena ia amat merusak sendirip-sendi kehidupan manusia,” kata Maira.

    Ia juga memberi contoh tentang apa yang tejadi di Timur Tengah. Konflik sektarian yang akut di sana telah menjadi picu untuk mencari dukungan kepada para radikalis-radikalis baru di berbagai negara. “Padahal apa yang mereka kampanyekan tentang jihad dan sebagainya, tidak lebih dari aksi-aksi ekstrem yang akhirnya merugikan harta dan nyawa para pengikutnya,” ujar Maira.

    Gelombang terorisme sudah ada sejak dahulu kala. Tapi gelombang terorisme modern lebih banyak dipicu isu-situ sekuler, komunisme, nasionalis, hingga isu keagamaan. “Saat ini yang terbanyak dipicu oleh masalah ideologi keagamaan, itu sekitar 45 persen,” ujar Maira.

    Agar ancaman dari bahaya radikalisme dan terorisme tidak jadi atau tidak terujud, maka narasumbe nasional Diah Kusuma Dewi mengajak para peserta mensimulasikan bagaimana upaya terbaik mencegah radikalisme tapi tetap melibatkan masyarakat.

    Para peserta dibagi menjadi lima kelompok, lalu diberikan case story untuk dipecahkan jalan keluarnya oleh tiap kelompok dengan cara berdiskusi dalam kelompok. Kelima kelompok kemudian mempresentasikan kesimpulan  dari bagaimana meredam radikalisme di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Menurut Kabid Media FKPT Sumbar Heranof Firdaus, peserta ini selain melibatkan tokoh masyarakat dan ormas juga melibatkan sejumlah wartawan yang bertugas di Mentawai. “Wartawan menjadi besar perannya untuk menyebarluaskan bahaya radikalisme ke tengah masyarakat melalui medianya masing-masing,” kata Heranof Firdaus. (eko)