×

Iklan

\
Menuturkan Sejarah dengan Ringan, Dia Lagi...Dia Lagi, Kaje Lagi

03 Maret 2024 | 22:00:07 WIB Last Updated 2024-03-03T22:00:07+00:00
    Share
iklan
Menuturkan Sejarah dengan Ringan, Dia Lagi...Dia Lagi, Kaje Lagi
Novel Sejarah

Oleh: EKO YANCHE EDRIE

(Penyuka Buku) 

Dia lagi, dia lagi. Perkara menuturkan sejarah tanpa kerumitan, ringan dan menyentuh, maka dia lagi yang berada di depan. Kaje – sapaan Khairul Jasmi—wartawan, penulis, cerpenis, novelis, anggota masyarakat sejarawan dan komisaris pabrik semen yang satu ini memang tukangnya. Jadi dia lagilah.

    Data, angka, dokumen, fakta dalam novel, di tangan Kaje menjadi buku sejarah dalam bentuknya yang lain. Enak dibaca tanpa harus berulang-ulang kita ikut merujuk ke catatan kaki, index, bibliografi yang rumit.

    Selepas menyelesaikan novel sejarah, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, Kaje bersitungkin menyelesaikan novel sejarah teranyarnya,  "Singa Podium Rasuna Said". Kitab tebal yang ditaja oleh penerbit Republika itu, merupakan kisah perjalana  hidup pahlawan perempuan dari Sumatera Barat, Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

    Rasuna memang lahir tiga dasawarsa setelah kelahiran RA Kartini, bisa jadi pada masa belianya, Rasuda telah membaca juga perjalanan dan pejuangan Kartini untuk emansipasi kaum perempuan di Tanah Hindia Belanda lewat surat menyuratnya dengan teman penanya di Belanda. Tapi Rasuna sebagaimana dituturkan dengan cara yang khas Kaje, lebih terasa lagi perjuangannya –meski sama-sama dengan pena--, Rasuda menjadi wartawati dan penulis.

    Dan yang tak dimiliki Kartini adalah kemampuannya beretorika dengan verbal. Kartini lebih sebagai seorang perempuan rumahan, tetapi Rasuna mengaum bak singa betina. Ia seorang orator kawakan.

    Begitulah Kaje menggambarkan Rasuna yang sampai membuat Belanda cemas bisa membangkitkan senimen anti-Belanda di Sumatera Barat, khususnya di Payakumbuh pada tahun 30an, saat Rasuda sedang mekar-mekarnya.

    Cobalah cari buku sejarah yang bertutur seperti ini: Perempuan cerdas dan berani, ini dianggap bahaya, melanggar aturan berbicara di depan umum. Juru bicara PMI, dimasukkan ke dalam tahanan preventif di Pajakoemboeh karena pelanggaran berbicara, begitulah dikabarkan oleh koran Sumatra Bode, (Rabu 30 November 1932). Dua ribu massa itu, terperanjat. Lalu terdiam. Mencekam. Belum pernah terjadi sepanjang sejarah, polisi mengepung pentas, tempat seorang nyonya muda berusia 22 tahun, lalu mengepung dan memborgolnya. Lidahnya mesti digunting, kakinya mesti diikat, ia harus diusir dari kampungnya, karena pidatonya bisa meruntuhkan tembok kolonial. Dua ribu massa, yang 90 persen adalah perempuan kota dan desa, kini sudah tak diam. Mereka berteriak, berombak, menggulung, suara mereka lengking, “Rangkayo Rasuna Said, kami bersamamu.”

    Hanya ditemukan dalam novel-novel sejarah karya Kaje.

    Rasuna bahkan disanjung Kaje lebih besar dari seharusnya. Sebab menurut Kaje, nama Rasuna Said oleh sebagian besar kaum milenial hanya dikenal sebagai nama jalan-jalan protokol di berbagai kota. Generasi X yang mengenalnya lebih jauh, kalau tidak sejarawan, tentu orang Minangkabau.

    Novel ini, akan lebih memberi menu baru kepada kaum milenial untuk mengenali para pehlawannya. Karena Rasuna  memang pahlawan di hati rakyat dan secara formal diakui oleh negara lewat Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 yang bertarikh 13 November 1974. Tak banyak perempuan yang menyandang gelar pahlawan nasional, hanya sembilan orang, Rasuna yang kesembilan.

    Membaca novel ‘Singa Podium Rasuna Said’ berarti membaca sejarah Minangkabau kontemporer pada permulaan pergerakan nasional menuju Indonesia Merdeka.

    Saya tidak tahu apakah style akan ikut menentukan sebuah buku sejarah –tentu saja berikut isinya—dapat ‘diunduh’ oleh kaum milenial agar mereka tahu sejarah bangsanya? Apakah penulisan sejarah –agar bisa sampai pesannya ke kaum milenial—harus pula dengan menggunakan style Gen-Z? Wallahualam, sejarah jua yang akan menjawab nanti.

    Tetapi apapun, novel ini adalah bovel yang bukan sembarang novel. Bacalah, Anda akan mengerti Minangkabau dan mengerti Indonesia.  

    Kaje, memang tukang menulis. Jemarinya sulit untuk diajak tenang, maka tak heran, kalau ada buku, eh dia lagi…dia lagi.

    Sebelum ini sudah ada hasil kelincahan jemarinya jadi novel sejarah juga: Inyiak Sang Pejuang, Syekh Sulaiman Arrasuli (Republika, 2020), Perempuan yang Mendahului Zaman, Syekhah Rahmah el Yunusiyyah, Pendiri Sekolah Perempuan Pertama di Indonesia, Diniyyah Puteri (Republika, 2020), Syekh Ibrahim Musa Parabek, Sang Ulama Penggerak (Republika, 2022), dan Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Guru Para Ulama Indonesia (Republika, 2023) Maka jadilah kelima novel itu sebagai Pentalogi yang komplit.

    Dan satu dari Kaje yang patut dicatat: ia menulis dengan riang!