×

Iklan


Menuju "Jalan Tol" Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat

04 Mar 2021 | 21:44:15 WIB Last Updated 2021-03-04T21:44:15+00:00
    Share
iklan
Menuju \"Jalan Tol\" Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat
Foto: IST

Tak terbantahkan, setiap daerah tentu sangat mendambakan kehadiran jalan tol di wilayahnya, tak terkecuali di Sumatera Barat. Perencanaan jalan tol ini telah diawali dengan membangun konektivitas antar kabupaten/kota berupa peningkatan kapasitas jalan menjadi dua lajur dan juga konektivitas antar provinsi bertetangga sejak 2005 silam. 

Namun konkritnya pembangunan jalan tol di Ranah Minang baru terwujud pada 2017, ketika Presiden Republik Indonesia Jokowi meresmikan pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru dengan anggaran yang diperkirakan Rp78,09 triliun. Jalan tol ini melintasi lembah, bebukitan, lahan masyarakat dan tebing-tebing terjal. Ruas tol yang berada di Sumatra Barat pembangunannya dibagi dalam 6 seksi.  Seksi 1 Padang–Sicincin sepanjang 28 km, Seksi 2 Sicincin–Bukittinggi (41 km), Seksi 3 Bukittinggi–Payakumbuh (36 km), Seksi 4 Payakumbuh–Pangkalan (43 km), Seksi 5 Pangkalan–Bangkinang (56 km), dan Seksi 6 Bangkinang–Pekanbaru (38 km). 

Harapan besar seluruh stakeholder terkait di daerah ini tertumpang pada pemerintah pusat untuk segera menuntaskan pembangunannya sehingga segera beroperasi sesuai rencana pada 2025. Seperti disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Unand, Werry Darta Taifur, Ketua Kadin Sumatera Barat yang juga pelaku ekspor, Ramal Saleh dan Anggota DPR RI Nevi Zuairina. Kepada Khazanah kemarin, Werry Darta Taifur menyebut, jalan tol adalah roh bagi pertumbuhan ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daerah. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, segala perencanaan dan program pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat bisa dicapai.

    Namun Sumbar dinilai terlambat untuk memulai pembangunan jalan tol. Dan dalam pelaksanaannya ternyata tidak berjalan lancar. Banyak menimbulkan masalah sehingga pembangunannya sempat terhenti. Hal ini adalah kerugian besar bagi daerah jika tak segera mendorong percepatan pembangunan jalan tol itu. 

    “Pembangunan jalan tol itu butuh anggaran besar, tak sanggup APBD kita. Jadi, karena saat ini kita mendapat kesempatan melaksanakan proyek strategis nasional jalan tol, maka harus didorong untuk percepatan pembangunannya,” jelas Werry.


    Ditambahkan Ramal Saleh, jalan tol adalah anugrah dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Jalan tol Padang – Pekanbaru memberikan dampak positif yang sangat banyak bagi masyarakat dan daerah ini. Jalan tol ini berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi Sumbar ke depan. Lalu lintas barang dan orang antara Sumbar dan Riau semakin lancar. 

    “Jalan tol juga akan memangkas waktu tempuh perjalanan menjadi lebih cepat, sehingga produk pertanian dan lainnya asal Sumbar yang selalu dikirim ke provinsi tetangga Riau, dapat bersaing karena ongkosnya makin murah, distribusinya lancar dan prosesnya cepat,” katanya.


    Dari sisi pariwisata yang menjadi unggulan Sumbar, lanjut Nevi Zuairina, jalan tol akan mendorong wisatawan terutama dari provinsi tetangga Riau berdatangan ke Sumbar menikmati beragam objek wisata dan juga kulinernya. Selama ini, mereka selalu datang di akhir pekan ke Ranah Minang. Ketika ada jalan tol, animo mereka ke Sumbar tentu makin besar. Hal ini diyakini bakal menghidupkan ekonomi masyarakat, meningkatkan pendapatan mereka, seperti tingkat hunian hotel dan penginapan akan selalu penuh serta kelompok UMKM dengan berbagai bisang usaha bisa pula menangguk rezeki. 

    “Kehadiran jalan tol tentu terhubung dengan kawasan-kawasan produktif dan akan mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri sehingga akan memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan menciptakan pusat-pusat ekonomi baru,” jelas Nevi.


    Sebagai pelaku usaha ekspor rempah-rempah, Ramal Saleh sangat berharap seluruh perangkat daerah dan pihak terkait dalam pembangunan jalan tol dapat duduk bersama dan menjalin komunikasi yang baik. Lakukan komunikasi informal secara langsung kepada masyarakat dan jelaskan semua aspek tentang kemanfaatan jalan tol, tempat usaha, dan seterusnya.

    “Jangan ada dusta di antara kita. Jangan dibuat rumit pelaksanaannya di lapangan,” tegasnya.

    Jika tidak direspon cepat, tambah Werry, maka belum tentu 50 tahun lagi proyek jalan tol ini akan ada di Sumatera Barat, karena daerah lain juga berlomba-lomba ingin membangun jalan tol. Dan jangan lupa, seiring pembangunan jalan tol, benahi pula ruas jalan di kabupaten/kota yang terhubung dengan jalan tol. Dalam sistem perencanaan nasional, ada koridor pemeratan dan pertumbuhan. Jalan tol dibangun untuk terhubung ke koridor utama.

    “Yang jelas, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang saat ini -1,6 persen mampu terdongkrak selama proyek pembangunan jalan tol. Apalagi jika nanti jalan tol sudah rampung dan dioperasikan,” tandasnya. (devi diany)