×

Iklan

CATATAN OPERASI KEMANUSIAAN PMI (1)
Mentawai tak Henti Dirundung LIndu

12 September 2022 | 21:43:30 WIB Last Updated 2022-09-12T21:43:30+00:00
    Share
iklan
Mentawai tak Henti Dirundung LIndu
Bantuan PMI diserahkan untuk disalurkan ke korban gempa Mentawai

Catatan : Hidayatul Irwan

(Kamarkas PMI Sumbar)

     

    Tua Pejat, Khazminang – Bulan tampak ranum bundar ketika jangkar kapal Tenggiri diangkat dari pelabuhan Bungus. Peluit kapal itu melengkingm lalu mesinnya perlahan mengayuh menghela palka secara perlahan ke tengah samudera meninggalkan bibir pantai Sumatera Barat menuju Tua Pejat, Kepulauan Mentawai.

    Saya bersidekap untuk menahan desiran angin yang lumayan dingin tapi sesekali mengambil juga ponsel untuk mengirim pesan-pesan ke teman-teman di Markas maupun para pengurus PMI Sumbar.

    Malam itu –Minggu 11 September 2022 saya bersama tim BPBD Sumbar, akan berlayar selama kurang lebih 11 jam untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan bagi para korban terdampak gempa yang mengguncang Mentawai terutama di Siberut Utara.

    Kapal yang saya tumpangi adalah kapal patroli milik Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat, terbilang kapal yang bagus dan sehat. Total penumpang kapal itu ada 19 orang termasuk ABK nya. Kami berlayar dengan kecepatan kira-kira 7 sampai 7,5 knot. Biasanya kalau ke Mentawai kami pakai kapal KMP Ambu-ambu atau kapal cepat Mentawai Fast. Tapi karena kondisinya darurat, tim kami harus secepatnya tiba di daerah bencana, jadi kami bersama BPBD mendapat fasilitas menumpang kapal Tenggiri.

    Alhamdulillah cuaca sepanjang pelayanan malam itu amat bersahabat. Langit memang seang cantik berhias rembulan bundar. Sungguh pemandangan yang membuat kita terayun. Tetapi saya kembali menyadari  bahwa perjalanan ini bukanlah perjalana  wisata, melainkan perjalanan untuk melihat sebuah dampak kekuasaanNYA. Gempa atau Lindu yang berkali-kali mengguncang Mentawai, sungguh kontradiksi dengan pemandangan malam sepanjang pelayaran kami itu. Mentawai, negeri indah nan tak sepi diguncang lindu.

    Selepas subuh, gundukan hitam di sebelah barat terlihat. Itu adalah Kepulau Mentawai, atau setidaknya adalah pulau Siberut, salah satu yang terbesar dari pulau-pulau di bibir Samudera Indonesia ini.

    Menjelang mentari naik, pada pukul 8.30 WIB kapal kami merpat di dermaga pelabuhan Tua Pejat. Saya dan Drakar dari PMI Mentawai mengemasi semua bawaan kami, begitu juga kawan-kawan dari BPBD Sumbar.

    Kami kemudian diterima oleh Pj. Bupati Mentawai Martinus Dahlan, ada juga Sekda Kepulauan Mentawai, Kalaksa BPBD Sumbar dan Kalaksa BPBD Mentawai, pengurus dan Kamarkas MPI Mentawai.  Bupati lalu menyampaikan eksposes skilas tentang kondisi terkini pascagempa 11 September itu.

    Kondisi saat ini lumayan baik, masyarakat  yang terdampak meninggalkan tenda pengungsian pada siang hari untuk bekerja, dan kembali berkumpul ke tenda pada malam hari. Untuk berjaga-jaga agar tidak terjebak pada malam hari bila gempa berulang,” kata Pj. Bupati.

    Seperti diketahui  gempa yang berlangsung beberapa kali (2 kali cukup besar) itu, merusak sejumlah fasilitas umum dan rumah warga.

    BUpati merinci bangunan yang rusak ringan antara lain  Puskesmas Betaet,  SDN Sagulubbeg, SMPN Siberut Daya,  Labor SMAN Siberut Daya,  Gedung TK, 1 unit Pustu, dan 1 unit Balai Dusun Muara Utara.

    Lalu, kondisi rusak sedang 1 unit Puskesmas Betaet, 8 unit rumah warga lepas sandi. Selanjutnya, kondisi rusak berat yakni 5 unit rumah warga ambruk, dan 1 unit Masjid Al Amin di Simalegi Muara, Kecamatan Siberut Barat.

    Kami lalu menyerahterimakan bantuan-bantuan yang dibawa kepada Bupati untuk diteruskan kepada yang berhak dan memerlukan di pengungsian.

    Koordinasi teknis, atas arahan bupati  dilanjutkan di kantor BPBD Mentawai bersama Ketua dan Pengurus PMI Kepulauan Mentawai. Saya kemudian jadi teringat gempa tahun sebelumnya di Mentawai, maupun gempa Pasman Barat, rata-rata kebutuhan mendesak para korban adalah  terpal (kebutuhan terpal 1.100 pcs / utk tiap keluarga yang di pasang di lokasi mereka mengungsi. Saya juga mencatat untuk di Mentawai ini, kebutuhan mendesak lainnya adalah beras.

    Tapi bagaimana pastinya, saya ingin memetakan kebutuhan kongkretnya di daerah yang terpisah-pisah itu. Malam ini –saya saya menulis kan catatan ini—saya masih menunggu kepastian bisa berangkat untuk distribusi bantuan ke desa Tigapogna yang berpenduduk 580 KK di Kecamatan Siberut Barat. Untuk ke sana memerlukan long boat.

    Saya mulai mencari tahu dan menghitung biayanya. Perkiraan  dana transportasi untuk 2 longboat (1 utk barang, 1 untuk personil) pulang pergi Tua Pejat - Siberut Barat kurang lebih Rp22 juta.

    Untuk mencapai Siberut Barat diperlukan waktu pelayaran 4 sampai 6 jam dan tentu saja itu sangat tergantung cuaca. Bisakah dibayangkan bagaimana melakukan operasi pertolongan di wilayah ini, jika jarak dari Tua Pejat ke Siberut Barat kurang lebih sama dengan jarak dari Padang ke Tua Pejat.

    Tapi apa boleh buat, operasi harus berlangsung. Doktrin PMI yang menyatakan paling lambat 6 jam setelah bencana maka relawan PMI harus sudah sampai di lokasi bencana. Tapi tidak demikian dengan di Mentawai. Luasnya wilayah, berpulau-pulau, ombak yang besar, badai, ketersediaan transportasi dan sebagainya tentu tidak bisa dilakukan penerapan doktrin enam jam itu.

    Doakan saya bisa mendapatkan dua longboat untuk bisa membawa bantuan dan mendistribusikannya ke Siberut Barat. Dan saya berharap sebelum air mata para korban kering, bantuan ini benar-benar sudah sampai. Insya sesampai di Sebirut Barat  saya kabari lagi dengan catatan baru. Salam kemanusiaan!