×

Iklan


Mencabut Subsidi BBM dengan Smart

18 Agustus 2022 | 16:05:02 WIB Last Updated 2022-08-18T16:05:02+00:00
    Share
iklan
Mencabut Subsidi BBM dengan Smart

Oleh : Ir. Abdul Aziz, MM

 Pengamat Ekonomi dan Teknologi

Mahasiswa PDIM Univesitas Andalas, Padang

     

    Rakyat Indonesia terbiasa untuk merespon orang lain dengan senyuman, hal ini seringkali menjadi sesuatu yang langka di tempat lain. Dikutip dari berbagai sumber bahwa, sebutan Indonesia sebagai bangsa yang ramah, banyak diceritakan oleh para wisatawan mancanegara yang berlibur ke Indonesia. Ternyata, sebutan Indonesia sebagai bangsa yang ramah itu disebabkan oleh tradisi dan budaya yang dianut oleh bangsa Indonesia itu sendiri.

    Sifat orang Indonesia yang ramah merupakan perwujudan dari nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat. Hampir seluruh budaya di Indonesia mengajarkan tentang sopan santun dan bersikap baik. Mayoritas masyarakat Indonesia sendiri masih memegang teguh nilai-nilai itu.

    Penghargaan sebagai bangsa yang ramah bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Menurut Pandji Pragiwaksono dalam bukunya “Menemukan Indonesia”, jika dibandingkan dengan negara Singapura, sifat ramah itu akan sangat terlihat. Menurutnya sangat sulit menemukan sopir taksi di sana yang tersenyum kepada penumpang. Keramahan sudah menjadi mitos, legenda, dan mengakar di semua pulau di Indonesia. Bahkan keramahan inilah yang banyak diminati bangsa asing untuk datang. Mereka datang untuk bersahabat lewat berbagai kerajaan. Mereka ke Indonesia untuk membangun relasi. Mereka berkunjung untuk menikmati anugerah manusia dan alam Indonesia. Dan bahkan mereka juga datang dan berlabuh untuk menjajah.

    Agreeableness merupakan salah satu dari lima elemen dasar kepribadian menurut teori kepribadian Big 5. Istilah agreeable digunakan untuk menggambarkan tingkat keramahan, kebaikan, kerja sama, dan kesopanan. Agreeableness, dilansir Very Well Family, Senin, 4 April 2022, disejajarkan dengan empat sifat lainnya, yaitu ekstraversi, kehati-hatian, neurotisme, dan keterbukaan.

    Keramahan yang tinggi sangat mudah tergerak untuk memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang lain. Mereka juga cerdas secara emosional dan memiliki empati tinggi. Seringkali juga mudah tersentuh dengan rasa sakit dan penderitaan orang lain, yang semua ini diartikan sebagai simpatik.

    Demikianlah gambaran kepribadian rakyat Indonesia yang sangat ramah dan juga mendambakan perlakuan ramah dalam hidup dan kehidupannya. Ketika semua rakyat yang ramah tamah itu diperlukan dengan ramah, maka apapun yang diinginkan oleh Negara dari rakyat akan diberikannya dengan senang hati karena sikap kegotong royongan, santun, suka menolong sudah menjadi budaya dan mandarah daging pada rakyat Indonesia.

    Seperti diketahui, sejak tanggal 3 Agustus 2022 yang lalu, Pertamina menaikan harga Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp16.200-16.500 menjadi Rp17.900-Rp18.250. Sementara itu, harga Dexlite dari yang tadinya berkisar Rp15.000-15.700, kini menjadi Rp17.800-18.150, sedangkan harga Pertamina Dex dari yang semula Rp16.500-17.200 kini naik menjadi Rp18.900-19.600. (Bisnis.com 3 Agustus 2022).

    Keputusan kenaikan harga BBM yang terkesan mendadak dan mengagetkan semua orang itu memang tidak menimbulkan keributan pada masyarakat dan terkesan aman-aman saja. Apakah memang rakyat Indonesia sudah memahami kondisi beratnya subsidi yang ditanggung pemerintah ataukah rakyat sudah masa bodoh dengan sering terjadinya kenaikan harga BBM ? Entah lah….!

    Kenaikan harga BBM yang terjadi pada tanggal 3/8/2022 yang lalu, sepertinya diarahkan kepada pengguna mobil-mobil mewah milik orang-orang berduit dan kendaraan niaga yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan dengan kewajiban pajak yang cukup tinggi. Pemilik dan penggemar mobil Eropa, Ferrari, BMW Seri 3, Lamborghini, VW Golf sudah pasti akan menggunakan Pertamax Tubo sebagai bahan bakar mobilnya dan sangat tidak mungkin mereka akan mencoba-coba menggunakan Pertalite. Pertamina jenis Dexlite dan Pertamina Dex sudah pasti akan digunakan oleh mobil bermesin diesel modern dari fabrikan Jepang dan beberapa jenis mobil mewah dari fabrikan Korea.

    Yang menjadi persoalan adalah, ketika orang-orang kaya tidak menggunakan mobil mewah untuk kebutuhan operasional mereka sehari-hari, yang jumlahnya mencapai puluhan juta unit di Indonesia. Pengusaha angkutan dan mobil-mobil operasional perusahaan-perusahaan masih menggunakan bio solar bersubsidi. Mereka menggunakan bahan bakar Pertalite dan Bio Diesel bersubsidi sebagai bahan bakar yang seharusnya menggunakan Pertamax dan Pertamina Dex. Disinilah perlu dicarikan cara bijak agar orang-orang kaya Indonesia itu tidak menggunakan BBM bersibsidi. Bagaimana caranya ? Perlakukan orang kaya dan pengusaha-pengusaha Indonesia yang ramah itu dengan cara yang ramah pula.

    Pertama, tidak bisa dipungkiri bahwa orang kaya memiliki gaya hidup senang pamer dan pamor. Lihat saja mobil-mobil mewah dengan nomor polisi khusus. Ada yang merasa tersanjung dengan memakai plat nomor dengan akhir RF…, ada juga yang menggunakan plat nomor dengan angka tunggal atau dua digit, demi sebuah prestise. Padahal dengan kemewahan mobilnya saja orang sudah akan mengerti bahwa mereka adalah orang kaya. Barangkali, berangkat dari kegemaran orang berduit untuk menggunakan plat nomor mobil khusus ini, bisa dimanfaatkan sebagai identifikasi orang-orang yang tidak berhak atas subsidi BBM itu. Misalnya, penggunaan huruf akhir plat nomor RFN yang bisa diartikan sebagai mobil orang kaya di Indonesia dengan bahan bakar non subsidi. Kepemilikan mobil dengan plat nomor berakhiran RFN adalah sebagai identintas orang kaya. Orang-orang kaya sebagai pemilik mobil, akan merasa tersanjung karena tidak semua orang bisa memiliki plat nomor dengan huruf akhir RFN.

    Kedua, mengelompokan mobil yang disebut sebagai kendaraan mewah dengan batasan kapasitas dapur pacu mesin, tahun produksi dan harga mobil. Sebagai perumpamaan, yang dikatergorikan sebagai mobil mewah adalah ; kapasitas dapur pacu diatas 1800 cc, memiliki umur dibawah 10 tahun dan harga jual diatas Rp. 500 juta. Kendaraan atau mobil dengan kategori ini wajib menggunakan plat nomor dengan akhiran RFN.

    Ketiga, mengelompokan truck yang dianggap sebagai truck niaga dengan kategori perusahaan besar, misalnya truck pengangkut CPO, Truck yang memiliki ban lebih dari 6 buah dengan umur dibawah 10 tahun. Truck dengan kategori seperti ini tidak diperbolehkan menggunakan solar bersubsidi dan dianggap sebagai truck niaga. Pick up dan minibus milik perusahaan perseroan terbatas (PT) juga harus dikategorikan sebagai mobil niaga yang tidak diizinkan menggunakan bahan bakar bersubsidi.

    Keempat, membuat jalur khusus untuk pengisian bahan bakar non subsidi disetiap SPBU. Mengingat bahwa semua pembeli bahan bakar non subsidi adalah kelompok masyarakat berduit dan perusahaan-perusahaan dengan harga lebih mahal dari BBM bersubsidi maka, mereka wajib disediakan jalur pengisian BBM khusus. Jalur pengisian BBM Non Subsidi pada setiap SPBU harus dibuat lebih nyaman dan tanpa antrian karena mereka layak menerima perlakuan khusus sebagai penghargaan dari pamor yang mereka sandang. Pembayaran untuk pembelian BBM non subsidipun tidak dapat dilakukan dengan cara pembayaran tunai. Mungkin banyak lagi keistimewaan yang bisa diberikan kepada mereka yang membeli BBM dengan harga lebih mahal itu.

    Ketika semua itu diberlakukan maka, secara otomatis pembeli BBM bersubsidi dan pembeli BBM non subsidi akan ter split-up dengan sendirinya. Mereka akan merasa sama-sama dihargai sesuai dengan taraf kehidupan yang mereka miliki masing-masing. Disisi lain tidak akan ada lagi orang yang seharusnya menggunakan BBM non subsidi akan membeli BBM bersubsidi karena budaya malu yang dimiliki oleh rakyat akan menjadi penghalang mereka ketika dilihat orang banyak saat melakukan pembelian BBM.

    Sudah saatnya kita menghindarilah cara-cara memberlakukan masyarakat seperti di zaman feodal, karena semua orang berhak atas perlakuan yang nyaman didalam masyarakat. Pemerintah harus peka dengan situasi dan kondisi rakyatnya dan harus mampu memberikan perlindungan penuh kepada rakyatnya untuk menumbuh kembangkan rasa empati rakyat kepada para pemimpin-pemimpin bangsa ini. Disaat rakyat diberlakukan dengan cara-cara smart seperti ini, maka semua kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah sudah pasti akan ditaati oleh rakyat Indonesia untuk menggapai cita-cita nasional yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

    Artikel ini hanyalah sebagian kecil dari bentuk kepedulian untuk sesama rakyat yang mencintai kedamaian diantara berjuta gagasan dan ide-ide brilian lainnya.