×

Iklan

MESKI HANYA TAMAT SD
Melani Mampu Terbang Tinggi Menggapai Mimpi

19 Desember 2021 | 14:41:07 WIB Last Updated 2021-12-19T14:41:07+00:00
    Share
iklan
Melani Mampu Terbang Tinggi Menggapai Mimpi
Melani Kurniawati memperlihat beberapa novel karyanya

Bila dunia punya William Shakespeare, seorang penyair, penulis naskah, penulis terbesar dan populer sepanjang masa namun tak memiliki pendidikan formal, Indonesia juga memilik sosok itu. Ia adalah Melani Kurniawati, seorang remaja yang tinggal di Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan. Meski hanya tamat SD ia berhasil membuktikan dirinya bisa sukses meski tanpa jenjang pendidikan formal yang tinggi.


Padang, Khazminang.id—Kalaulah hanya mengenal Melani Kurniawati Zebua (18 tahun) secara sekilas, orang pasti akan berkesimpulan bahwa dia adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi, paling tidak saat ini dia merupakan seorang pelajar SMA. Sebab tutur bahasa dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya cukup “berkelas”.

Ternyata penilaian itu keliru ! Melani hanya merupakan seorang remaja pelosok desa yang hanya bermodal pendidikan Sekolah Dasar (SD) tapi ia berhasil menjadi seorang penulis muda produktif dan telah melahirkan empat karya novel dan delapan buku antalogi bersama penulis-penulis hebat Indonesia.

Karena “pendakian hidup” yang dilalui anak bungsu dari empat orang bersaudara ini teramat tinggi, tajam dan berliku, maka ia tak obahnya bagai elang yang tersesat di rimba raya, yang hanya bisa berkulik ketika hendak “pulang bersarang”.

Itulah fakta pahit dan getir yang harus dilalui Melani ! Lantaran keterbatasan ekonomi keluarga, akhirnya remaja kelahiran Tanjung Beringin, 23 Maret 2003 ini hanya bisa menamatkan pendidikan hanya hingga jenjang SD saja.

Kendati begitu anak dari pasangan Bazero Zebua dan Sugiati ini tak hendak menyesali siapa-siapa, dan tidak pula melewati waktu dengan nyanyian duka lara belaka. Ia berupaya tabah menerima kenyataan yang menyinggahi dirinya. Namun demikian atittude dan kematangan emosional serta intelengensinya terus diasahnya hingga tumbuh luar biasa.

Selama melakoni diri dengan pendidikan terakhir tamat SD, sebenarnya banyak obsesi yang bergelayut di benaknya. Di sisi lain, untuk membantu ekonomi keluarga, ia pun berupaya berjualan bakso dan gorengan sekali sepekan di Pasar Lunang 2 Blok C.

Hingga pada suatu kesempatan, saat ia mendapatkan sebuah smart phone (telepon pintar) butut dari seorang teman, smart phone yang rata-rata dimanfaatkan para remaja menenggelamkan diri untuk bersosial media dan selfie ria, justeru dijadikannya modal untuk menggali ilmu.

Bermodalkan smart phone bekas itu Melani mulai menata diri untuk terbang tinggi menjadi seorang penulis. Melalui smart phone itu jualah remaja desa ini belajar banyak tentang literasi, dari tahun 2014 sampai 2018. Hingga pada suatu hari di tahun 2018, Melani mulai membaranikan diri untuk bangkit mengembangkan diri.

Perlahan namun pasti ia pun mulai meliterasi dirinya mengembangkan diri untuk “terbang tinggi” menggapai mimpi bermodal pengetahuan melalui IT.

Meski hanya mengantongi ijazah dari SD 04 Lunang, namun Melani terus belajar dan belajar dari hari ke hari, melalui kamus besar bahasa Indonesia dan Individual Growth and Development (IGDI). Ia pun tak pernah patah semangat untuk “mencuri” ilmu dari “mbah google”. Bila tak lagi memiliki paket data, maka ia tak sungkan untuk bersegera menuju kantor Camat Lunang untuk mendapatkan Wifi gratis.

Kendati tidak memiliki Komputer PC (Personal Computer) atau laptop, melalui smart phone butut itu pulalah Melani berupaya mengetik naskah-naskah cerita dalam menuangkan inspirasinya. Sehingga lahirlah karya-karya novel luar biasa, diantaranya berjudul Aldonara, Lantera Senja, Desa Berdarah dan Narapidana.

Tak hanya novel, Melani juga melahirkan buku-buku antalogi, diantaranya berjudul Ibu Pertiwi Indonesia, Janda Bukan Noda, Berjuta Rasanya, Mereka yang Tak Nyata, Misteri di Balik Kenyataan, Cokelat dan lainnya.

Perlahan namun pasti, berkat kegigihannya menimba ilmu. Kini Melani tak lagi bagai tersedu di depan pintu dalam mengais bahagia, karya-karya tulis yang dihasilkan telah mengantarkannya meraih berbagai prestasi. Novelnya berjudul Desa Berdarah berhasil meraih Juara Harapan 2 Tingkat Nasional dalam ajang menulis yang diselenggarakan Penerbit Lintang Semesta Publisher.

Belum berhenti sampai di situ, novelnya dengan judul Lantera Senja berhasil masuk tujuh besar dalam ajang Tantangan Menulis Bersama RNA Publisher. Bahkan pada tahun 2020 lalu Melani Kurniawati juga berkesempatan menjadi Juri Menulis Nasional.

Novel berjudul Lentera Senja dengan tebal 357 halaman berukuran 14 x 20 cm itu kini telah beredar luas secara nasional di toko-toko buku dan bisa dipesan melalui online.

Dalam novel itu Melani dengan lugas mengisahkan bahwa keengganan seseorang perempuan untuk membuka hatinya menjadikan dirinya merasakan kesepian. Dalam novel itu ia menceritakan hingga datanglah, sosok lelaki tampan yang membuat sang wanita luluh dan kembali ceria.

Melalui novel berjudul Lentera Senja ini Melani mampu mengemas kebahagiaan, kesenangan, kesedihan, canda tawa yang dilalui tokoh dalam cerita tersebut dengan apik.

Meski telah sukses mengembangkan potensi diri, Melani sambil berjualan bakso dan gorengan hari Jumat dan Sabtu, berupaya menyibukan diri berliterasi mendampingi anak-anak SD, SMP dan SMA di kampungnya untuk belajar bersama, terutama belajar menulis kreatif.

Ia pun tak mau hanya menjalani kehidupan bermodal ijazah SD. Saat ini kata Melani ia telah mengantongi ijazah paket B dan dilanjutkan tahun depan mengambil paket C. (Milhendra/F. Fahlevi)