×

Iklan


Massalkan Pupuk Organik, Kementan Respon Permintaan Presiden

07 Mei 2023 | 12:33:31 WIB Last Updated 2023-05-07T12:33:31+00:00
    Share
iklan
Massalkan Pupuk Organik, Kementan Respon Permintaan Presiden
Pupuk orgnik bisa membantu petani agar tidak tergantung lagi dengan pupuk kimia

Jakarta, Khazminang.id – Kementerian Pertanian bertekad menyegerakan penerapan penggunaan massal pupuk organik untuk mengatasi ketergantungan yang tinggi sektor pertanian Indonesia kepada pupuk kimia (anorganik).

Tekad itu diujudkan dalam bentuk merevisi  Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 tahun 2022 tentang penetapan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi. “Kita merespon apa yang diminta oleh Presiden dalam rapat terbatas (ratas) kabinet beberapa hari lalu. Kita harap daam waktu dekat revisi Permentan itu bisa diselesaikan dan tahun depan Permentan yang baru sudah bisa diterapkan dimana termaktub juga ketentuan tentang pupuk organik,” kata  Ardi Praptono, S.P.,M.Agr., Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma di Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

    Seperti dikutip dari laman www.elaeis.co, Ardi menyebutkan  dalam sebuah rapat terbatas (ratas) tersebut Presiden Joko Widodo meminta pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia dengan meningkatkan penggunaan pupuk organik bagi para petani.

    Ardi, yang baru sejak 14 April lalu menduduki pos yang tergolong baru di Kementan RI tersebut mengatakan, bahwa dalam Ratas itu Presiden meminta pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia dengan meningkatkan penggunaan pupuk organik bagi para petani, antara lain didasarkan atas pertimbangan harga. "Harga pupuk kimia  mahal karena adanya kenaikan bahan baku pupuk kimia," jelas Ardi.

    Penggunaan pupuk organik diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas tanah yang digunakan, sehingga kesuburan tanah dapat dikembalikan untuk membudidayakan tanaman.

    Merujuk hasil sejumlah riset, menurut Ardi, menunjukkan bahwa sebagian dari 7 juta hektar tanah sudah mengalami degradasi kualitas, terutama di Pulau Jawa, sehingga untuk menyuburkan kembali salah satunya melalui penggunaan pupuk organik

    Masih merujuk arahan Presiden, menurut Ardi, pengurangan penggunaan pupuk kimia harus diimbangi dengan membangun produsen produsen pupuk organik yang ada di masyarakat baik dalam bentuk usaha mikro, kecil dan menengah.

    "Dengan demikian, selain mendorong industri pupuk organik nasional untuk lebih meningkatkan produksinya, kita juga harus membangun industri pupuk organik dalam skala UMKM," terangnya.

    Ditanya soal kebijakan itu akan berdampak pada industri pupuk kimia, menurut Ardi,  Industri pupuk bisa melakukan diversifikasi produknya dengan memproduksi pupuk organik yang berkualitas sehingga masih bisa mempertahankan kesinambungan usahanya.

    Dikutip dari laman www.greenplanet.co.id dapat disimak bahwa pupuk organik merupakan pupuk yang dibuat dari pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya.

    Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

    Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu.

    Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin.Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani.

    Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau di Indonesia. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian. Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. n (eko/ombak)