×

Iklan

DARI RAPIMPUS III KBFKPPI
Letjen (Purn) Kiki Syahkri: Bela Negara itu Sebuah Keharusan

13 Maret 2021 | 12:15:36 WIB Last Updated 2021-03-13T12:15:36+00:00
    Share
iklan
Letjen (Purn) Kiki Syahkri: Bela Negara itu Sebuah Keharusan
Letjen (Purn) Kiki Syahnakri di depan Rapimpus III KB FKPPI

Padang, Khazminang.id – Bela Negara adalah sebuah kegiatan atau program yang jadi keniscayaan bagi semua bangsa. Tentu saja termasuk Bangsa Indonesia di tengah pusaran global yang ancaman beragam, bisa dari luar bisa dari dalam.

“Bela Negara tidak lagi dilakukan dalam bentuk perang konvensional dengan mengandalkan peluru dan bayonet, tetapi kini jauh lebih besar dan lebih hebat dari itu. Senjata musuh tidak saja dalam bentuk fisik tetapi juga dalam bentuk non fisik seperti ideologi, paham dan doktrin yang bisa merusah tatanan satu bangsa dan negara,” kata Pengamat Militer Kiki Syahnakri ketika berbicara di depan Rapimpus III KB-FKPPI hari ini.

    Purnawirawan berbintang tiga yang Mantan Wakasad itu mengatakan bahwa tiap negara memiliki ancanam beragam. Tapi negara seperti Indonesia yang pintu masuknya sangat banyak ini,  memiliki ancaman dari dalam dan dari luar.

    Ia melihat dari luar ancaman itu berasal dari tiga titik. Pertama dari Barat, kedua dari China dan ketiga dari Timur Tengah. Tapi rata-rata serangan itu dalam bentuk ideologi dan ekonomi.

    “Dari Barat, ancaman yang mesti kita hadapi adalah perang dalam melawan penguasaan modal dan sumber daya alam yang dilakukan Barat lewat penggunaan teknologi, setidak-tidaknya teknologi itu ada di tangan mereka dan kita hanya sebatas anuser ” kata dia.

    Maka, kata Kiki, perlawanan dilakukan untuk membela negara kita adalah dengan menguasai juga teknologi dan memperkuat pertahanan dari serangan.

    Sementara dari China, yang belakangan hubungan RI dengan negeri tirai bambu itu menjadi demikian mesra, bukan tidak sedikit menjadi ancaman apabila kita tidak berhati-hati. “Uang mereka yang banyak dapat digunakan untuk apa saja demi meluaskan pengaruh. Tak bisa kita abaikan fakta bahwa penduduk China sudah sudah mendekati 1,5 miliar. Secara alamiah, daya dukung geografis mereka pasti akan terus melemah. Mereka perlu tempat-tempat untuk bermigrasi, bahkan berekspansi. Ke utara menurut saya tidak mungkin, pastilah ke selatan, ya ke Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina dan Indonesia ini,” ujar Kiki.

    Lalu Timur Tengah merupakan ancaman juga?

    Menurut Kiki, ada ideologi yang tidak memberi toleransi dari sana. Kelompok-kelompok kecil dari sana mentrasformasikan ajaran tanpa toleransi ke berbagai negara termasuk Indonesia. “Ini sekaligus membuat tatanan kita berbangsa dan bernegara yang dibingkai dengan semangat keberagaman jadi tergerus dan melemahkan ketahanan,” kata Kiki.

    Sedangkan dari dalam juga ada ancaman berupa sikap-sikap sekelompok orang yang terpancing doktrin dari liar. Ini memunculkan sikap separatisme, radikalisme dan bahkan terorisme. “Selain itu, prilaku kita juga ada yang membuat ketahanan negara jadi lemah, misalnya sikap koruptif, feodalisme yang masih ada dan sebagainya. Semua harus jadi pertimbangan kita untuk menyusun satu kesatuan sikap guna membela negara. Saya kira FKPPI sangat relevan memainkan peran untuk ini,” katanya.

    Sementara Mayjen Purn. Dewa Putu Rai mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi informatika. Kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mesti menjadi bagian penting dari pengembangan ekonomi nasional. “Bagaimana kita membangun ekonomi berbasis Iptek, agar kita tidak tercecer dari bangsa lain dan mampu membela bangsa dan negara sendiri,” ujar Putu Rai.

    Sementara itu Ketua Umum PP Pepabri, Jenderal Purn. Agum Gumelar mengingatkan bahwa pada era industri 4.0 dan 5,0 ini, bangsa Indonesia tidak harus menunggu dari pemerintah saja. Peran masyarakat sangat penting artinya bagi ketahanan negara.

    “Industri 4.0 sudah tidak ada alasan kita lagi agar bangsa ini mampu ikut bergulir dengan era yang perubahannya sangat cepat ini. Bagaimana bangsa ini terutama warga FKPPI memainkan peranan dalam hal ini,” kata Agum.

    Ketiga narasumber termasuk Ketua Umum PP KBFKPPI, Pontjo Soetowo sepakat mengatakan bahwa ancaman yang sedang dialami bangsa ini sekarang adalah pandemi Covid-19. “Pandemi ini menimbulkan ancaman serius ke banyak sektor kehidupan, maka semua kita harus melawannya,” kata Pontjo Soetowo. (eko)