×

Iklan

TITIK BANJIR DI BUKITTINGGI BERTAMBAH
Latak No Lai Tinggi, Tapi No Banjir Juo!

04 Mei 2021 | 15:46:05 WIB Last Updated 2021-05-04T15:46:05+00:00
    Share
iklan
Latak No Lai Tinggi, Tapi No Banjir Juo!
Dua titik daerah banjir di Bukittinggi yakni Jembatan Besi dan Manggis belum selesai penanganannya, timbul lagi permasalahan baru, yakni munculnya titik banjir di persimpangan daerah Jirek Kelurahan Puhun Pintu Kabun Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (foto: Iwin SB)

Bukittinggi, Khazminang.id- Mungkin terdengarnya sangat aneh, jika kota yang berada di dataran tinggi seperti Bukittinggi dilanda banjir.

 

Anehnya pula banjir bukannya dari luapan sungai, tapi banjir datangnya dari dalam drainase (selokan) yang melimpah ke jalan dan banyak merendam rumah di sekitar tempat banjir tersebut.

     

    Meski berada di daerah ketinggian, beberapa tempat di Kota Bukittinggi dikenal sebagai titik langganan air menggenangi jalan dan mengarah pada kerusakan rumah maupun jalan raya di sekitar tempat tersebut.

     

    Daerah lokasi sebagai langganan air banjir saat hujan turun, yaitu di sekitar jembatan besi, karena aliran air di dalam drainase sekitar jembatan besi tidak dapat menampung ledakan kiriman air dari pasar padang luar.

     

    Daerah jembatan besi ini dapat pula disebut sebagai daerah banjir kiriman, dari tahun ke tahun tidak juga ada jalan keluarnya?

     

    Dan kini di masa Wali Kota Bukittinggi Erman Safar dapatkah mencari jalan keluarnya agar tidak lagi daerah jembatan besi ini kebanjiran, ini mungkin kinerja 100 hari setelah dilantik menjadi Wali Kota.

     

    Selain di daerah jembatan besi, daerah lainnya yang juga menjadi pelanggan air banjir yaitu di jalan Soekarno Hatta tepatnya di daerah Manggis, daerah ini yang berdekatan dengan persimpangan jalan.

     

    Pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintasi jalan tersebut perlu ekstra hati-hati dan mengurangi kecepatan jika ingin tidak mengenai orang yang melintas.

     

    Dua titik daerah banjir ini belum tuntas dikerjakan sempurna, timbul lagi permasalahan di persimpangan daerah Jirek Kelurahan Puhun Pintu Kabun Kecamatan Mandiangin Koto Selayan.

     

    Kamis kemarin (29/4) hujan deras mengguyur Kota Bukittinggi, sehingga di dalam drainase aliran air dari daerah pasar bawah tidak terbendung, tepatnya air di dalam drainase persimpangan Jirek meluap dan mengakibatkan korban 4 rumah terendam.

    Keempat rumah tersebut berada di RW 04 Kelurahan Puhun Pintu Kabun Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, yaitu tiga rumah di RT 2 dan 1 rumah di RT 1, bahkan dari musibah ini pemilik rumah di RT 1 RW 4 itu harus mengungsi ke rumah saudaranya di kawasan Pasa Dama Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam.

     

    Hal itu dikarenakan genangan air cukup tinggi sehingga tidak dapat ditempati, sementara 3 rumah lainnya masih dapat dihuni si pemilik.

     

    Kepada Khazanah/Khazminang.id, Senin (3/5) Asri Bakar, SH., anggota Komisi I DPRD Kota Bukittinggi megatakan, pihaknya  akan memanggil dinas PUPR guna berunding membahas persoalan-persoalan banjir di Kota Bukittinggi, ini Kota yang berada di dataran tinggi tersebut.

     

    Dijelaskan Asri Bakar, apakah ukuran kedalam maupun lebar drainase yang ada di Kota Bukittinggi sudah menurut ukuran dan ketentuan yang ada, sehingga debit air yang cukup kencang dapat mengalir dengan baik dan lancar.

     

    Elevasi tanah dengan drainase ini juga perlu diperhitungkan agar nantinya tidak lagi terjadi banjir, Dinas PUPR harus meneliti dan menganalisis kembali, jelasnya.

     

    Masalahnya kini jika tersumbat drainase dengan banyak beragam sampah-sampah itu pasti akan terjadi banjir, maka Asri Bakar menghimbau dan mengajak semua warga masyarakat untuk bersama-sama peduli dengan lingkungan dan menjaga kebersihan dan jangan membuang sampah ke dalam drainase atau bandar.

     

    Memang pernah disampaikan dinas PUPR bahwa mendapat bantuan dari tingkat 1, tapi karena musibah non alam yaitu Covid-199 maka dana tersebut tidak turun.

     

    Selain itu Hendra staf DPRD Kota Bukittinggi juga menyampaikan bahwa yang menjadi permasalahan terjadinya banjir adalah elevasi tanah yaitu teori mencari kemiringan tanah, ukuran kedalaman dan lebar drainase yang akan mempengaruhi debit air yang mengalir.

     

    Sementara itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bukittinggi Rahmat AE mengatakan Dinas PUPR Kota Bukittinggi membuktikan fakta lapangan bahwa setelah dibukanya penutup drainase atau trotoar di kawasan tersebut terdapat adanya banyak tumpukan sampah di dalamnya.

      Dijelaskannya nanti dinas PUPR akan menambah keberadaaan bak kontrol di kawasan drainase yang rawan terhadap sampah yang terbawa air di dalam drainase, bak kontrol ini guna mempermudah pengawasan dan pembersihan  (Iwin SB).