×

Iklan

MENGENANG ALWI KARMENA
Laga di Tambara

17 Juni 2024 | 08:52:20 WIB Last Updated 2024-06-17T08:52:20+00:00
    Share
iklan
Laga di Tambara
Alwi Karmena

Oleh: Syafrizal Harun


INNALILLAHI WA INNAILAIHI RAJIUN. Telah meninggal dunia, Bung Alwi Karmena, Jumat siang, 14/6/2024, di rumahsakit di Kota Padang. Turut berbelasungkawa. Tidak banyak kenangan peristiwa yang dapat saya tulis tentang urusan saya dengan almarhum. Bagaimanapun kami saling kenal, meskipun jarang bicara. Tatkala jumpa secara fisik, paling banter kami saling tatap, dan seolah sepakat tidak akan membicarakan apapun karena semuanya sudah jelas dan sama-sama mahfum. Jumpa Bung Alwi kalau tidak di Taman Budaya Padang, atau di markas koran Singgalang di Jalan Veteran 17 Padang. Judul tulisan ini merupakan memori saya tentang almarhum, yaitu judul dari cerita tulisan karya almarhum yang pernah saya baca di koran cetak, sekitar tahun 1990-an. Judul mengesankan, dan terkait dengan sebagian dari pekerjaan saya sebagai geolog, yakni soal tambang batubara. Laga di Tambara – tambara disini akronim dari tambang batubara – mengisahkan suasana keras di suatu tambang batubara. Cerita Bung Alwi menyorot aspek paling brutal dari pertambangan batubara, yaitu perkelahian (laga) diantara para buruh (pekerja) tambang. Sebagai hiburan di area tambang batubara, para petarung diadu berkelahi bebas di atas ring, dikelilingi penonton yang juga para pekerja tambang. Bung Alwi merinci bagaimana jalannya pertarungan, dan bagaimana sikap penonton ikut memanasi arena dengan bersorak, bertepuk, dan bercarut sambil melemparkan ke atas ring beraneka benda (kulit kacang, botol, puntung rokok, dan sebagainya). Bung Alwi memaparkan jalannya pertarungan, dan memberikan penilaian tentang momen paling indah dari jalannya pertarungan. Membaca cerita tersebut, tampaknya peristiwa di suatu tambang batubara yang berada di Indonesia (para pelakunya bertutur Bahasa Indonesia). Sebagai kreasi seniman (sastrawan), cerita tersebut tentu saja sah,  dan tidak ada masalah.

        Bagaimana sebetulnya realitas suasana kerja di tambang-tambang batubara, ambil contoh tambang batubara di Sumatera Barat. Secara umum, suasana kerja tergantung dari organisasi pengelola tambang. Untuk tambang dikelola perusahaan besar, memang keras dalam artian berdisiplin, namun tidak sebrutal dalam kisah “Laga di Tambara”.

    Pada tambang batubara liar atau “peti” (pertambangan tanpa izin) mungkin saja para pekerjanya berkelahi karena berbagai sebab. Pekerjaan tambang batubara itu memerlukan otot, berkeringat, akrab dengan lumpur dan mesin peralatan, dan karenanya berisiko – terlebih bagi yang tidak biasa atau tidak terlatih. Saya pernah menulis satu cerita pendek (cerpen) berjudul “Penggali Batubara”, dipublis di Singgalang Edisi Minggu, 2/4/2000. Cerpen tersebut mengisahkan kecelakaan fatal pada dua penggali batubara, disertai narasi perihal manajemen dan aspek ekonomi batubara. Tidak ada bakuhantam antar buruh di cerpen saya yang diilhami dari suatu tambang real. Namun, seorang insinyur tambang yang saya kenal, dan membaca cerpen itu, mengkritiknya karena soal manajemen yang dinarasikan. 

        Pekerjaan tambang (batubara, emas, pasir, dan sebagainya) memang kurang berkenan bagi masyarakat di Sumatera Barat yang berbudaya Minangkabau, meskipun alam Sumbar mengandung bahan tambang batubara, emas, batu, dan logam.  Hal ini juga dikonfimasi oleh Christine Dobbin, 1992 dalam buku tentang  Sumatra Tengah 1784 – 1847. Di halaman 33 bukuDobbin menulis bahwa: “penambangan emas adalah pekerjaan yang sangat tidak disukai, sehingga tak pernah ada kelas penambang secara tradisonal ….., “diantara penduduk pribumi ada ungkapan bahwa tidak ada yang lebih malang daripada anak tambang …”. Semoga di masa depan, kegiatan pertambangan di Sumbar, lebih semarak, mendatangkan kemakmuran, dan manusiawi. 

                                                                           16/6/2024 – SH