×

Iklan

PITAN DASLANI MELIHAT KRISIS FINANSIAL AS (5)
Krisis Finansial AS, Pelajaran untuk Indonesia

22 Mei 2023 | 14:12:35 WIB Last Updated 2023-05-22T14:12:35+00:00
    Share
iklan
Krisis Finansial AS, Pelajaran untuk Indonesia
Krisis moneter Indonesia 1998, kita dipandang enteng saja oleh IMF

Apakah Amerika akan bangkrut? Kita harapkan tidak. Kita masih berharap akan ada solusi cepat untuk mengatasi krisis finansialnya saat ini. Sebab kebangkrutan perekonomian Amerika akan berdampak sangat massif bagi banyak negara, termasuk Indonesia, sebab akan menghantam capaian di perdagangan dan investasi sektor real, serta pasar modal. Juga akan memacetkan semua komitmen bantuan Amerika.

Selain itu, Amerika yang lemah juga akan membahayakan keseimbangan kekuatan atau 'balance of power' di berbagai belahan dunia. Sebab China yang semakin kuat secara militer dan ekonomi bisa menjadi ancaman baru bagi banyak negara. Tak seperti Rusia yang tidak akan merusak hubungannya dengan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Untuk menjaga agar 'balance of power' tetap aman terkendali, maka dibutuhkan keseimbangan kekuatan atau 'power equilibrium' yang didasari pada interdependensi dan komplementaritas antarnegara. Itulah sebabnya maka Indonesia perlu terus aktif terlibat dalam berbagai kelompok kerjasama regional guna mengamankan kepentingan nasional terus ke masa depan.

    Bagi Indonesia, yang jadi masalah adalah posisi politik luar negerinya yang terlalu lemah. Pamor politik luar negeri kita sekarang tak sekuat di masa silam, antara lain karena hanya berlandaskan prinsip bebas-aktif yang sudah tak cocok diterapkan dalam konstelasi dunia multipolar masa kini.

    Paradigma politik luar negeri Indonesia sudah harus di-'upgrade' agar lebih asertif, proaktif, dan antisipatif, setara dengan semakin meningkatnya kekuatan dalam negeri, baik dari sisi capaian ekonomi, kapasitas SDM, maupun kemampuan pelaku ekonomi, agar dapat berperan secara signifikan dalam mengamankan kepentingan nasional terus ke masa depan.

    Tapi krisis finansial Amerika bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia agar berhati-hati mengelola utang negara. Sebab, sebetulnya, yang membayar kembali utang negara bukannya pemerintah yang merupakan 'net spender' melainkan pelaku ekonomi yang merupakan 'value creator' serta rakyat pembayar pajak yang menggaji pemerintah.

    Di negara mana pun, baik di Amerika maupun di Indonesia, kalau setiap kali terjadi pergantian pemerintahan, 'legacy' yang ditinggalkan termasuk utang pemerintah, maka pemerintahan itu belum bisa dikatakan berhasil.

    Sebetulnya tujuan didirikannya Kementerian BUMN pada 1999 (saat itu bernama Kementerian Negara Pendayagunaan BUMN), antara lain agar BUMN menjadi kekuatan penyeimbang (counterbalanancing force), serta untuk melunasi semua utang negara, seperti dijelaskan oleh Tanri Abeng yang menjadi Menteri pertama di kementerian itu. Dan kini utang Indonesia pun tidak semakin lunas, malah semakin membengkak. 

    PITAN DASLANI: Wartawan Pemerhati Politik Luar Negeri, Dinamika Hukum & Masyarakat ini adalah Staf Ahli Hubungan Luar Negeri di DPD RI