×

Iklan


Kreatif! Napi di Rutan Maninjau Produksi Miniatur, Dijual hingga Rp300 Ribu

21 September 2022 | 13:52:50 WIB Last Updated 2022-09-21T13:52:50+00:00
    Share
iklan
Kreatif! Napi di Rutan Maninjau Produksi Miniatur, Dijual hingga Rp300 Ribu

Lubuk Basung, Khazminang.id-- Narapidana Rutan Kelas IIB Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam memproduksi kerajinan tangan berupa miniatur rumah gadang hingga kapal layar.

Pembuatan kerajinan tantan program pembinaan kemandirian dari barang bekas itu menjadi kesibukan sehari-hari bagi narapidana selama menjalani hukuman di dalam 'Hotel Prodeo'.

Kepala Rutan Maninjau, Desrianto mengatakan, program yang diberikan kepada narapidana tersebut, bertujuan meningkatkan keterampilan atau kreativitas narapidana di bidang tertentu, salah satunya kerajinan tangan.

    "Aktivitas pembuatan miniatur ini merupakan pembekalan yang diberikan kepada narapidana untuk mengasah dan meningkatkan keterampilan mereka selama di dalam rutan," ujar Desriant, Selasa (20/9).

    Ia menjelaskan, selain menciptakan miniatur rumah gadang dan kapal layar dari bambu bekas, narapidana itu juga membuat karya seni lainnya berupa kendi dan tempat tisu dari kartu koa/ceki, hingga dompet yang terbuat dari kain bekas.

    Untuk memproduksi kerajinan tangan tersebut, pihak rutan hanya memfasilitasi bahan baku mulai dari barang-barang bekas, lem, dan cat pernis.

    Sementara, pengerjaan pembuatan karya miniatur rumah gadang dan kapal layar itu membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu.

    "Pembuatan karya kerajinan tangan ini diserahkan sepenuhnya kepada para napi, namun tetap dalam pengawasan petugas rutan," katanya.

    Sementara itu, karya kreativitas narapidana tersebut dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp50 ribu, hingga Rp300 ribu.

    Harga kerajinan tangan itu bervariasi, tergantung dari ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Untuk miniatur kapal layar dan rumah gadang misalnya dijual dengan harga Rp300 ribu per unit.

    Ia mengakui, saat ini pihaknya mengeluhkan pemasaran karya dari narapidana. Biasanya karya tersebut hanya dibeli oleh tamu yang berkunjung ke rutan.

    "Kendati begitu kami berharap pemerintah daerah bisa ikut serta mempromosikan hasil karya kerajinan tangan narapidana, dan mengikutsertakan dalam berbagai kegiatan pameran," jelasnya. (khz)