×

Iklan


Kisah Pilu dari Pariaman, Miris! Tak Mampu Bayar Rumah Sakit, Mayat Bayi Ditahan Sampai Enam Jam

05 Apr 2021 | 22:08:22 WIB Last Updated 2021-04-05T22:08:22+00:00
    Share
iklan
Kisah Pilu dari Pariaman, Miris! Tak Mampu Bayar Rumah Sakit, Mayat Bayi Ditahan Sampai Enam Jam
Kasus pasien tidak terlayani dengan maksimal memang sudah sering terjadi dan menimpa keluarga yang kurang mampu. Seperti pengakuan sebuah keluarga dari Kota Pariaman yang mayat bayinya ditahan pihak rumah sakit karena tidak mampu mebayar biaya pengobatan Rp7 juta (foto: Syafrial Suger).

Pariaman, Khazminang.id--  Kasus pasien tidak terlayani dengan maksimal memang sudah sering terjadi dan menimpa keluarga yang kurang mampu. Seperti pengakuan sebuah keluarga dari Kota Pariaman yang mayat bayinya ditahan pihak rumah sakit karena tidak mampu mebayar biaya pengobatan Rp7 juta.

 

    Hanya 13 hari menghirup udara dunia, si Buyang yung terlahir Prematur itu mengembuskan napas terakhirnya pada saat dirawat di Rumah Sakit Aisyah Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman.

     

    Bayi pasanagan Vebri Andi Suseno dan Ani Putri Dewita warga Nagari Malai III Koto, Kecamatan Sungai Geringging itu lahir pada hari Selasa (23/3) dan meninggal Minggu (4/4) lantaran keterbatasan alat medis di rumah sakit tersebut.

     

    Pihak rumah sakit itu berupaya untuk merujuk ke rumah sakit lain guna perawatan si bayi laki-laki malang itu mendapatkan penanganan lebih baik.

     

    “Karena kami urang miskin pak, jadi kami tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan anak kami ini. Apalagi kami sangat buta dalam hal ini, kami hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kata Ani Putri Dewita, Senin (5/4).

     

    Ani mengatakan, usai melahirkan bayinya yang prematur tersebut  di RS. Aisyah, dirinya dirawat selama tiga hari, dan sudah bisa untuk pulang kerumah setelah melunasi pembayaran perawatan selama dirinya dirawat sebesar Rp5.100.000.

     

    “Dengan cara meminjam kesana kesini oleh suami saya mendapatkan uang sebanyak itu, maka saya dapat keluar dari RS Aisyah. Kemudian, bayi saya lahir prematur maka dengan penuh kepercayaan saya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit itu,” kata dia.

     

    Menurut Ani, sebelum banyinya meninggal, pihak rumah sakit mengusulkan kepada Ani dan suaminya untuk dirujuk ke RSUD M. Djamil Padang.

     

    “Dengan kondisi keluarga kami saat ini, dirinya tidak dapat memenuhi keinginan dari pihak RS. Aisyah untuk merujuk anaknya ke RSUD M. Djamil Padang. Alhasil, anak laki-laki saya itu sudah tidak dapat tertolong lagi, hingga menghembuskan napas terakhirnya di RS. Aisyiyah Pariaman,” ujarnya.

     

    Dijelaskan Ani, meski bayinya sudah meninggal masalahnya belum selesai, beruntung masih ada keluarga yang berbaik hati membantunya, terutama dalam masalah keuangan.

    “Sehingga bayi kami meninggal pukul 01.00 WIB baru dapat keluar sekitar pukul 18.00 WIB,” jelasnya.

     

    Dituturkan Ani,  saat proses pengambilan jemnazah bayinya, pihak RS. Aisyah menyodorkan kwitansi  sisa-sisa perawatan sebesar Rp7 juta lebih. Sekiranya tidak dapat memenuhi yang diajukan pihak rumah sakit itu, si mayat tidak dapat dibawa pulang.

     

    “Untuk pengambilan bayi yang sudah menjadi mayat ini, pihak keluarga kamin harus dapat melunasi segala biaya perawatan selama bayi dirawat dirumah sakit tersebut. Alahamdulillah setelah 5 jam pihak keluarga kami dapat bantuan dari ibuk Suarni yang telah kami anggap sebagai orang tua angkat kami itu,” ujarnya.

     

    Beruntung satu keluarga warga Sungai Geringging yang telah dianggap orang tua angkat bagi Ani dan suaminya menjaminkan satu unit sepeeda motor beserta STNK dan kunci motor, dengan jaminan itu akhirnya mayat bayi dapat dibawa pulang dan dimakamkan.

     

    Sementara anggota DPPRD Padang Pariaman Dwi Warman menyebutkan, pihak rumah sakit tersebut seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya RS. Aisyah itu melayani masyarakat dengan secara islami dan dapat memahami pasien yang ditangani.

     

    “RS. Aisyah itu kan milik Muhammadiyah dan seharusnya melayani masyarakat secara Islami. Dengan kejadian seperti ini sangat keterlaluan menahan mayat bayi sampai 6 jam. Kalau tidak ada yang datang menjaminkan motornya, mungkin mayat bayi tersebut masih ditahan di RS tersebut,” kata dia.

     

    Dipihak lain, Direktur Rumah Sakit Aisyiyah melalui Maneger Operasional dr. Fauzi menyebutkan, pihak rumah sakit tidak pernah menahan pasien yang telah menjadi mayat di rumah nsakit tersebut.

     

    Menurut Fauzi terlambatnya proses pengambil mayat bayi tersebut, karena tidak adanya komunikasi dari pihak keluarga.

     

    “Padahal, kalau sekiranya ada orang yang menjamin pasien yang di buat kesepakatan diatas matrai atau bentuk lainya, pihak kami untuk segera mengeluarkan mayat dari rumah sakit. Hal seperti ini tidak dilakukan oleh pihak pasangan suami itu. Sekitar pukul 17.30 WIB ada salah satu warga dari pasien itu sebagai jaminannya,” tutupnya  (Syafrial Suger).