×

Iklan


Kerikil-kerikil Kerukunan

11 September 2023 | 05:52:32 WIB Last Updated 2023-09-11T05:52:32+00:00
    Share
iklan
Kerikil-kerikil Kerukunan
Prof. Duski Samad

Oleh: Prof. Duski Samad 

Ketua FKUB Provinsi Sumatera Barat 


    Kerikil adalah batu kecil, tajam dan berpotensi melukai kaki yang menginjaknya, akan lebih berbahaya lagi jika kerikil itu masuk ke dalam sepatu. Kerikil dalam sepatu membawa ketidaknyamanan dan bisa mendatangkan kemudaratan. 

    Judul kerikil rukun ini muncul setelah mengikuti dan mencermati laporan, investigasi dan kordinasi kasus kegaduhan sosial di Kelurahan Banuaran Kota Padang akhir Agustus 2023 lalu. Ada medsos yang menulis judul sangat provokatif misalnya terjadi peAmbubaran orang sedang beribadah bahkan ada dengan bersemangat memviralkan vidio dan narasi pengusiran orang sedang ibadah dan menyertai pula dengan bumbu ancaman senjata tajam.

    Ada juga beberapa medsos dan link berita memuat judul yang adil, berimbang dan mengunakan prinsip cheak and riceak  di antara narasi beritanya  kasus Banuaran adalah masalah etika sosial, kisruh antara penyewa rumah dengan pemilik. Itupun sudah selesai ditingkat RT dan kelurahan. 

    Perkembang terkini sampai rapat kordinasi di FKUB Provinsi bersama Kesbang Provinsi hari Jumat, 8 September 2023 prinsipnya  sudah ada kesepakatan perdamaian dan mencabut laporan polisi, sayang ada pihak luar yang bergerak di pendampingan hukum justru meminta untuk tetap dilanjutkan. labiah angek tadah dari gelas. 

    POTENSI GADUH 

    Keragaman suku, etnis, agama dan aliran politik sejatinya harus membawa rahmat, namun dalam batas tertentu justru ada yang mengundang laknat atau bencana bagi kehidupan yang rukun dan damai. 

    Pemantauan FKUB Provinsi dan laporan FKUB Kabupaten Kota  ada beberapa titik rawan tersebarnya kerikil yang dapat melukai kerukunan di Sumatera Barat.

    Secara geografis  daerah perbatasan dengan Provinsi tetangga Riau yang kemajuan usaha dan industri telah mengundang datang tenaga kerja dari luar yang nota benernya berbeda budaya dan agama dengan masyarakat lokal. 

    Potensi beda adat, budaya dan agama jika tidak dapat dikendalikan akan mudah datang konflik dan gesekan sosial. Kebutuhan tempat ibadah dan rumah adalah pemicu yang mesti diperhatikan pemerintah daerahnya. 

    Keadaan yang sama juga terjadi diperbatasan Sumbar dengan Sumatera Utara, Jambi dan Bengkulu hotspot terseraknya kerikil  yang dapat membakar toleransi sehingga mendatangkan suasana gaduh adalah dipicu  kemajemukan yang tak terkelola, di antaranya  ketiadaan forum mediasi seperti FKUB, dan yang paling sensitif itu ketika aura politik praktis masuk ke ranah Ini. 

    Titik crusial yang bisa disebut sebagai kerikil kerukunan adalah helat demokrasi lima tahunan pemilihan Presiden dan legislatif 2024 mendatang.. Pemalsuan dokumen kependudukan, dan KTP ganda untuk tujuan suara adalah bahaya laten yang tidak saja merusak kejujuran dalam pemilihan umum, akan tetap bisa saja digunakan untuk menimbulkan kegaduhan  dalam kerukunan dan toleransi. 

    Pemicu datang krikil tajam yang melukai rukun dan toleran adalah pernyataan pejabat publik yang tidak paham dengan regulasi berkaitan kerukunan dan toleransi umat beragama. Misalnya, medsos yang mempublikasi berita bahwa untuk pendirian rumah tidak diperlukan lagi rekomendasi FKUB, ini jelas melukai perasaan pengurus FKUB Kabupaten Kota yang diberi wewenang menerbitkan rekomendasi pendirian rumah ibadah sesaui PBM Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri  nomor 9 dan 8 tahun 2006 lalu. 

    Menilai prilaku, sikap dan kepentingan segelintir lembaga swadaya masyarakat yang terjakiti virus inters, uang dan popularitas sehingga mereka memilih dan mengedepankan cara dan teknik provokatif, mengabaikan cara solutif. Atas nama hukum mereka korbankan damai, aman dan toleran demi penegakkan hukum formal. Sedih juga daerah tertentu sepertinya  jadi target pembunuhan karakter gejalanya dapat diendus dari kasus lokal kecil di viralkan menjadi issu besar dan global.

     Penyelesaian yang sudah dapat dimusyawarahkan dan sudah ditemukan titik temu, justru sekelompok orang atas nama keadilan dan penegakkan hukum mereka mendorong di bawa ke ranah hukum. Padahal bila sudah masuk diproses hukum tidak satupun yang diuntungkan. 

    DAMAI VS HUKUM 

    Kata damai versus hukum muncul dalam rapat kordinasi Kerukunan Umat Beragama (KUB) Provinsi Sumatera Barat yang diucapkan tokoh agama dalam meresponi kasus kisruh sosial di Banuaran Kota Padang yang dihubungkaitkan dengan pengusiran ibadah non muslim. 

    Mestinya semua pihak berpikir jernih bahwa damai itu pesan Tuhan untuk semua dan menjadi missi semua agama. 

    Hukum pada dasarnya adalah  untuk menghadirkan kedamaian. 

    Penyelesaian hukum yang dilakukan oleh pimpinan masyarakat RT, RW dan lingkungan, FKUB, tokoh agama, pemerintah dan aparat sudah menemukan titik temu, damai itu kata yang sudah bulat. Patut disayang ada institusi yang bergerak dalam hukum untuk menaikkan masalah ini ke ranah hukum. 

    Kasus Banuaran itu aslinya beribadah di rumah ibadah keluarga yang hanya sebatas tempat ibadah keluarga, yang disertai nyanyian. Kegaduhan nyanyian yang sudah keempat kali itu asal muasal munculnya ketidaknyamanan lingkungan. 

    Pada dialog FKUB Kota Padang bersama tokoh lintas agama yang dihadiri FKUB Provinsi Sumatera Barat, hari Sabtu, 09 September 2023 disimpulkan bahwa (1) FKUB bersama tokoh tokoh agama Kristen sepakat bahwa peristiwa yang terjadi di Banuaran adalah kasus Hukum dan tidak menyangkut persoalan agama. (2) . FKUB Kota Padang akan bentuk team perumus rekomendasi yang akan di susun dan akan di serahkan kepada pihak yang berwajib dan berkompeten, meliputi kronologis kejadian serta solusi perdamaian yang di sarankan.

    (3) . FKUB dan Tokoh masyarakat berkeyakinan bahwa pengaruh medsos sangat besar dalam menyikapi kasus ini sehingga viral hingga ke nasional bahkan mancanegara.

    Sebagai catatan untuk semua pihak bahwa kerikil rukun sekecil apapun mesti disingkirkan dari jalan menuju damai, rukun, dan toleran. Kejujuran, ketulusan dan mencegah "penumpang gelap" yang merusak ketenangan dan kedamaian adalah perangkat lunak yang besar konstribusinya bagi hadirnya budaya toleransi dan non diskrimunasi. Rukun.. Rukun.. Rukun.... Adalah kebutuhan semua orang.