×

Iklan

DIALOG PEREMPUAN TOP DI PAYAKUMBUH BERSAMA FKPT-BNPT
Kaum Perempuan dan Anak-anak Rentan Disusupi Paham Radikalisme

06 Oktober 2022 | 11:24:39 WIB Last Updated 2022-10-06T11:24:39+00:00
    Share
iklan
Kaum Perempuan dan Anak-anak Rentan Disusupi Paham Radikalisme
Acara dialog Perempuan Top bersama FKPT Sumbar dan BNPT di Payakumbuh

Payakumbuh, Khazminang.id – Harus diakui ada anak dan perempuan yang terlibat aksi dugaan terorisme di Sumatera Barat. Ini memprihatinkan, tetapi kita tidak perlu meratapi apa yang terjadi. “Kita harus mengerahkan semua elemen terutama kaum perempuan dan masyarakat adat serta agama untuk ikut serta melakukan pemberian pengertian bahwa paham radikalisme, intoleran apalagi radikalisme tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh agama dan adat di Ranah Minang,” kata  Kabid Perlindungan Hak Perempuan pada Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Sumbar Rosmadeli, S.K.M, M.BioMed, ketika menjadi narasumber pada acara dialog ‘Perempuan Top Viralkan Perdamaian’ yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumbar dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Payakumbuh, Kamis (6/10)

Bagaimana dengan anak? Menurut Rosmadeli, anak juga berpotensi untuk disusupi paham radikal dan terorisme. Menurutnya kaum perempuan dan anak-anak harus dilindungi dari susupan paham yang menyesatkan itu.

    “Modal kita selain tuntunan agama juga ada tuntunan adat. Dalam adat juga dikenal apa yang dikenal dengan ‘sumbang dua baleh’ itu mengatur tatacara kehidupan bermasyarakat, sopan santun, akhlak dan harmonisasi. Semua modal kearifan lokal itu mestinya menjadi instrumen meredam paham radikalisme, intoleran dan terorisme,” kata Rosmadeli.

    Sementara itu Akademisi Fisip Unpad Dr. Dina Yulianti Sulaiman yang tampil pada sessi ketiga dialog Perempuan Top mengatakan bahwa kaum perempuan memang diakui banyak direkrut oleh para penggerak teror di dunia.

    “Ada sejumlah perempuan Indonesia yang kini terjebak di Suriah untuk berperang bersama ISIS. Akhirnya mereka menyesal. Semua ini adalah akibat bujuk rayu para perekrut melalui internet dengan iming-iming kebahagiaan yang lyar biasa bila ikut berjuang dengan para kombatan di Suriah. Ini sungguh memprihatinkan kita,” kata Dina.

    Maka ia menyarankan, para perempuan bila mendapatkan pesan-pesan yang yang dikeragui kebenarannya hendaknya tababyyun, melakukan verifikasi ke pihak-pihak berwenang. Akademisi yang kajiannya tentang Timur Tengah itu menyebutkan bahwa para perekrut juga pintar memanfaatkan emosi kaum perempuan. Mereka menjual isu-isu yang menimbulkan rasa ‘simpati’ dan pada akhirnya kaum perempuan tertarik bergabung.

    “Maka tak ada jalan lain kecuali membikin cerdas kaum perempuan  agar tidak mudah disusupi paham yang keliru,” kata putri Luhak Limopuluah itu.

    Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid mengkongklusikan bahwa apapun, kaum perempuan harus dapat membedakan mana paham yang menyimpang dan mana yang semestinya. Literiasi tetang internet, media sosial, kata Nurwakhid penting dilakukan kepada kaum perempuan. “Sebab, media itulah –internet dan media sosial—yang dipakai oleh para perekrut untuk menggalang kaum perempuan menjadi kelompok-kelompok radikal dan berpeluang mengarah ke terorisme,” kata dia.

    Nurwakhid mengingatkan juga bahwa terorisme bukan tujuan akhir para kaum radikal, tapi itu hanya jalan menuju pengambilalihan kekuasaan di negera-negara di dunia yang kemudian dibuat berdasarkan kemauan sekelompok kaum radikal itu. Dialog yang dimoderatori Kabid Perempuan FKPT, Ruri Juswira itu mendapat perhatian dari para peserta yang seratus persen terdiri dari kaum perempuan dari berbagai organisasi perempuan termasuk dari OSIS sejumlah SLTA di Payakumbuh. (lily yuniati)