<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Pilihan Redaksi &#8211; Khazminang.id</title>
	<atom:link href="https://khazminang.id/kategori/detail/pilihan-redaksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://khazminang.id</link>
	<description>Berita Sumbar Terbaru dan Terkini Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Jul 2026 15:40:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://khazminang.id/wp-content/uploads/2024/12/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Pilihan Redaksi &#8211; Khazminang.id</title>
	<link>https://khazminang.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mulut Bau Solar</title>
		<link>https://khazminang.id/14876-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2026 15:40:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=14876</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Oleh: Novrizal Di negeri yang kaya minyak, gas, batu bara, nikel, emas, dan segala macam isi perut bumi, ada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh: Novrizal</strong></p>
<p>Di negeri yang kaya minyak, gas, batu bara, nikel, emas, dan segala macam isi perut bumi, ada satu aroma yang lebih kuat daripada wangi bunga melati di pagi hari. Aroma itu bukan berasal dari kilang minyak, bukan pula dari knalpot truk yang sedang mendaki Kelok Sembilan. Aroma itu berasal dari mulut.</p>
<p>Ya, mulut.</p>
<p>Bukan sembarang mulut, melainkan mulut yang sudah lama berbau solar!</p>
<p>Aneh memang, solar sejatinya adalah bahan bakar kendaraan. Ia semestinya menggerakkan truk pengangkut sembako, kapal nelayan yang mencari ikan, mesin pertanian petani, dan kendaraan yang menopang roda perekonomian rakyat. Namun entah sejak kapan, solar berubah menjadi parfum paling mahal bagi sebagian orang. Mereka tidak mengoleskannya ke tubuh, tetapi seolah-olah menghirupnya setiap hari hingga baunya menetap di mulut.</p>
<p>Konon, bau solar ini tidak bisa dihilangkan dengan menyikat gigi tiga kali sehari. Pasta gigi rasa mint menyerah. Obat kumur menyerah. Dokter gigi pun mengangkat tangan. Sebab sumber baunya bukan berasal dari rongga mulut, melainkan dari kebiasaan.</p>
<p>Kebiasaan mengambil yang bukan haknya!</p>
<p>Di SPBU, pemandangan yang paling akrab bukan lagi senyum petugas, melainkan antrean kendaraan diesel yang mengular sejak matahari belum terbit. Sopir truk duduk di balik kemudi sambil menghitung waktu. Nelayan mulai cemas apakah besok bisa melaut. Petani memikirkan biaya mengolah sawah. Semua berharap masih ada beberapa liter solar yang tersisa.</p>
<p>Namun, anehnya, selalu saja ada cerita bahwa solar itu habis lebih cepat daripada kesabaran rakyat.</p>
<p>Pertanyaannya sederhana:</p>
<p>Ke mana solar itu pergi? Sebagian orang menjawab permintaan meningkat, sebagian lagi berkata, &#8220;Distribusi terganggu.&#8221; Yang lain berbisik pelan, mungkin solar sedang merantau, entah merantau ke mana.</p>
<p>Mungkin ia sedang belajar menjadi barang langka atau mungkin ia sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas para pengepul.</p>
<p>Yang jelas, ketika rakyat mengantre, selalu ada pihak yang tampaknya tidak pernah kekurangan.</p>
<p>Ironisnya, yang paling sering terlihat justru pedagang kecil yang diseret ke pengadilan. Mereka membeli beberapa jeriken untuk dijual eceran di kampung yang jauh dari SPBU. Tentu, jika melanggar aturan, hukum harus ditegakkan. Namun rakyat tetap bertanya-tanya: mengapa ikan teri begitu mudah tertangkap, sementara paus selalu berhasil menyelam lebih dalam?</p>
<p>Barangkali paus memiliki kemampuan menyelam yang luar biasa atau mungkin jaring kita memang lebih cocok menangkap ikan kecil.</p>
<p>Satire memang kejam. Tetapi kenyataan sering kali lebih kejam daripada satire itu sendiri.</p>
<p>Di negeri ini, ada istilah &#8220;mulut bau solar&#8221;. Bukan karena orang-orang benar-benar meminum solar. Itu mustahil. Solar bukan minuman. Namun ungkapan itu terasa pas untuk menggambarkan orang-orang yang hidupnya seolah tak pernah jauh dari keuntungan yang berasal dari solar subsidi.</p>
<p>Mereka berbicara tentang kepentingan rakyat tetapi yang keluar dari mulutnya seolah aroma solar.</p>
<p>Mereka berbicara tentang pengabdian namun yang tercium justru bau subsidi.</p>
<p>Mereka mengaku membela masyarakat kecil akan tetapi, masyarakat kecil tetap mengantre berjam-jam.</p>
<p>Anehnya lagi, bau solar itu tampaknya menular. Siapa pun yang terlalu lama berada di sekitar keuntungan yang mudah, lama-kelamaan ikut mengendus aromanya. Mula-mula hanya mencium. Lama-lama menyukai. Setelah itu menganggapnya biasa.</p>
<p>Begitulah bau bekerja, ia tidak selalu menyerang hidung terlebih dahulu, kadang-kadang ia menyerang nurani.</p>
<p>Yang paling menyedihkan bukan ketika solar menjadi langka, yang lebih menyedihkan adalah ketika kelangkaan dianggap biasa. Antrean dianggap pemandangan normal, keluhan dianggap kebisingan.</p>
<p>Sedangkan penyalahgunaan dianggap sekadar isu musiman yang akan hilang setelah berita berganti. Padahal, setiap liter solar subsidi sejatinya adalah uang rakyat.</p>
<p>Ia berasal dari pajak, penerimaan negara, dan berbagai sumber yang akhirnya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk subsidi. Ketika satu liter solar disalahgunakan, yang hilang bukan hanya bahan bakar.</p>
<p>Yang hilang adalah kesempatan nelayan melaut, kesempatan petani mengolah sawah, kesempatan sopir mencari nafkah, kesempatan ekonomi kecil untuk terus hidup.</p>
<p>Mungkin karena itu aroma solar terasa begitu menyengat, ia bukan sekadar bau bahan bakar, ia adalah bau kesempatan yang menguap.</p>
<p>Lalu bagaimana cara menghilangkan bau solar di mulut?</p>
<p>Jangan mencari obat kumur, carilah kejujuran. Jangan mencari parfum, carilah integritas, sebab bau solar bukan persoalan hidung, tetapi persoalan moral.</p>
<p>Selama keuntungan dari penyalahgunaan masih lebih besar daripada risikonya, akan selalu ada orang yang rela membuat mulutnya &#8220;berbau solar&#8221;. Selama pelanggaran kecil lebih mudah ditindak daripada membongkar jaringan yang rumit, rakyat akan terus bertanya mengapa antrean tak kunjung hilang.</p>
<p>Pada akhirnya, esai ini bukan tentang solar, bukan pula tentang SPBU, tetapi ini tentang pilihan.</p>
<p>Apakah kita ingin hidup di negeri yang orang-orangnya berlomba menjaga subsidi agar tepat sasaran, atau di negeri yang berlomba mencari celah untuk mengubah subsidi menjadi keuntungan pribadi?</p>
<p>Semoga suatu hari nanti, ketika seseorang berkata, &#8220;Aku mencium bau solar,&#8221; yang dimaksud benar-benar berasal dari truk yang sedang mengangkut hasil panen petani, kapal nelayan yang baru pulang membawa ikan, atau mesin yang menggerakkan pembangunan.</p>
<p>Bukan lagi berasal dari mulut mereka yang lupa bahwa subsidi bukanlah warisan pribadi, melainkan amanah yang dititipkan untuk kepentingan seluruh rakyat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Muhidi: Sesuaikan Kebijakan Penyusunan Anggaran 2027 dengan Sasaran Pokok dalam RPJMD Sumbar 2024-2029</title>
		<link>https://khazminang.id/muhidi-sesuaikan-kebijakan-penyusunan-anggaran-2027-dengan-sasaran-pokok-dalam-rpjmd-sumbar-2024-2029/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[John Edward Rhony]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 07:25:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[dprd sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=14797</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazminang.id&#160;&#8211; Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menegaskan, tahun 2027 merupakan tahun ke 3 (tiga) masa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Padang, Khazminang.id</strong>&nbsp;&#8211; Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menegaskan, tahun 2027 merupakan tahun ke 3 (tiga) masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Periode tahun 2024-2029 dan tahun ke 3 (tiga) pula pelaksanaan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024-2029.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Berkenaan dengan hal tersebut, maka arah kebijakan penyusunan program, kegiatan dan anggaran pada tahun 2027, harus disesuaikan dengan sasaran pokok yang terdapat dalam RPJMD Provinsi Sumatera Barat untuk tahun 2027,&#8221; ujar Muhidi didampingi Wakil Ketua Evi Yandri Rajo Budiman dan Nanda Satria saat memimpin Rapat Paripurna Penyampaian Rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun 2027 di ruang sidang utama dewan, Senin (6/7/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dijelaskan, disamping mengacu kepada RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024-2029, menurut hemat DPRD Sumbar arah kebijakan program, kegiatan dan anggaran yang akan ditampung pada tahun 2027, harus disesuaikan juga dengan kondisi daerah pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan, kebutuhan anggaraan untuk penanganan pasca bencana, sangat besar sekali yang diperkirakan untuk infrastruktur saja mencapai lebih kurang Rp33 Triliun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Oleh sebab itu, penanganannya harus dilakukan secara bersama, baik oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota,&#8221; jelas Muhidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan, dalam rangka sinkronisasi program pembangunan daerah dan program pembangunan nasional, maka dalam penyusunan Rancangan KUA-PPAS Tahun 2027, tidak hanya berpedoman pada RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024-2029 dan RKPD Tahun 2027, tetapi juga perlu mempedomani RKP dan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bagi Provinsi Sumatera Barat yang termasuk daerah dengan kemampuan fiskal rendah dan banyaknya anggaran yang diperlukan untuk penanganan pasca bencana, maka kita sangat membutuhkan sekali dukungan program dan anggaran dari Pemerintah Pusat,&#8221; tegasnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dijelaskan, APBD Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten/Kota tidak akan sanggup untuk memenuhi kebutuhan anggaran penanganan darurat bencana yang diperkirakan mencapai Rp33 triliun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh sebab itu, sinkronisasi arah kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah, mutlak harus dilakukan dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang terdapat dalam KEM-PPKF Tahun 2027.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rapat Paripurna yang dihadiri Gubernur Mahyeldi tersebut juga dihadiri para pimpinan OPD, unsur Forkopimda dan para undangan lainnya. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tari Guling-Guling Tak Lagi Selamatkan Qatar dan Arab Saudi</title>
		<link>https://khazminang.id/tari-guling-guling-tak-lagi-selamatkan-qatar-dan-arab-saudi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2026 06:44:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=14459</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Oleh: Novrizal Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak kejutan. Ada negara kecil seperti Cab Verde yang tampil seperti raksasa, ada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh: Novrizal</strong></p>
<p>Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak kejutan. Ada negara kecil seperti Cab Verde yang tampil seperti raksasa, ada raksasa yang mendadak kehilangan taring, dan ada pula tim yang selama bertahun-tahun dianggap penguasa kawasan tertentu, tetapi mendadak terlihat biasa-biasa saja ketika keluar dari pagar rumahnya.</p>
<p>Di antara kisah-kisah itu, perhatian banyak suporter tertuju kepada dua wakil Timur Tengah: Arab Saudi dan Qatar. Selama bertahun-tahun, keduanya dikenal sebagai kekuatan penting sepak bola Asia. Mereka memiliki stadion megah, fasilitas kelas dunia, dana yang nyaris tak terbatas, dan pengaruh yang cukup besar dalam percaturan sepak bola kawasan.</p>
<p>Bagaimanpun juga, Piala Dunia adalah tempat yang kejam. Di panggung dunia, nama besar regional tidak banyak berarti. Yang dihitung hanyalah kualitas permainan selama sembilan puluh menit.</p>
<p>Tiba-tiba, dunia menyaksikan sesuatu yang ganjil, Arab Saudi yang di Asia sering tampil penuh percaya diri bahkan melebihi Jepang dan Korsel, eh mendadak terlihat seperti mahasiswa baru yang salah masuk ruang ujian doktoral ketika berhadapan dengan Spanyol. Qotor, eh Qatar yang di Asia kerap dipandang sebagai kekuatan besar dan bisa memasukan bola yang sudah keluar lapangan menjadi gol saat melawan India, eh malah mendadak berubah menjadi penonton VIP ketika Kanada menghujani mereka dengan gol.</p>
<p>Banyak suporter bertanya-tanya, ke mana perginya aura menakutkan itu? ke mana hilangnya keperkasaan yang selama ini membuat lawan-lawan Asia frustrasi. Mengapa ketika berada di Piala Dunia, semua terlihat berbeda?</p>
<p>Sebagian menjawab dengan analisis taktik. Sebagian lagi berbicara soal kualitas pemain. Namun kalangan suporter internet memiliki teori yang jauh lebih sederhana.</p>
<p>Mereka mengatakan bahwa Arab Saudi dan Qotor, eh Qatar sedang mengalami krisis budaya.</p>
<p>Mereka kehilangan salah satu senjata tradisional yang selama ini sering dituduhkan kepada mereka oleh lawan-lawan di Asia: Tari Guling-Guling.</p>
<p>Tari ini tentu bukan warisan budaya resmi. Tidak diajarkan di sekolah seni. Tidak tercatat dalam buku antropologi. Tidak pula diakui oleh UNESCO.</p>
<p>Namun menurut legenda para suporter, tarian ini memiliki gerakan yang sangat khas. Babak pertama dimulai dengan sentuhan ringan di bahu. Penari kemudian memegang lutut. Lalu berguling satu kali.</p>
<p>Merasa kurang meyakinkan, berguling lagi dua kali. Kemudian menatap wasit dengan ekspresi seolah baru saja ditabrak truk pengangkut unta. Jika wasit meniup peluit, mukjizat terjadi. Sang penari sembuh seketika.</p>
<p>Ia kembali berlari seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dalam cerita rakyat modern para suporter, tarian ini konon berkembang pesat di berbagai pertandingan yang berlangsung panas dan ketat.</p>
<p>Namun masalah muncul ketika memasuki Piala Dunia. Di sana lawan yang dihadapi bukan lagi tim yang mudah panik. Mereka adalah Spanyol, Uruguay, Kanada, dan negara-negara yang terbiasa menghadapi berbagai bentuk drama sepak bola. Akibatnya, pertunjukan yang biasanya sukses menarik simpati justru berubah menjadi hiburan gratis bagi penonton netral.</p>
<p>Yang lebih menyedihkan, bahkan ketika tarian itu dicoba, papan skor tetap tidak berubah.</p>
<p>Gol tetap masuk. Serangan tetap datang. Pertahanan tetap runtuh. Seolah-olah dunia sepak bola sedang berkata:</p>
<p>&#8220;Maaf, pertunjukan seni berlangsung di gedung sebelah. Ini pertandingan Piala Dunia.&#8221;</p>
<p>Tentu saja semua itu hanyalah lelucon suporter. Realitasnya jauh lebih sederhana. Piala Dunia mempertemukan tim-tim terbaik dunia. Perbedaan kualitas teknis, organisasi permainan, kecepatan berpikir, dan kedalaman skuad menjadi sangat terlihat. Hal-hal yang mungkin cukup untuk memenangkan pertandingan di level regional belum tentu cukup di level global.</p>
<p>Namun dunia internet tidak pernah puas dengan penjelasan sederhana, maka lahirlah berbagai meme. Ada yang mengusulkan pembentukan Akademi Tari Guling-Guling Internasional. Ada yang mengusulkan agar disiplin baru dimasukkan ke Olimpiade.</p>
<p>Ada pula yang bercanda bahwa pemain yang mampu melakukan lima putaran sempurna setelah kontak ringan berhak memperoleh medali emas seni pertunjukan.</p>
<p>Semakin besar kekalahan yang dialami, semakin kreatif pula imajinasi para suporter.</p>
<p>Ketika Qatar kebobolan enam gol dari Kanada, beberapa akun media sosial bahkan bercanda bahwa pertahanan mereka begitu sibuk mempersiapkan koreografi sehingga lupa menjaga penyerang lawan.</p>
<p>Ketika Arab Saudi dihajar Spanyol, muncul komentar satiris bahwa bola terlalu sering berada di kaki pemain Spanyol sehingga tidak ada kesempatan untuk menampilkan pertunjukan teatrikal yang biasanya ditunggu-tunggu.</p>
<p>Satire tentu bukan analisis<em>. </em>Ia adalah cara publik melampiaskan frustrasi, kemarahan, dan ketidakpercayaan terhadap berbagai kontroversi yang pernah terjadi sebelumnya karena itu, di balik semua candaan tentang tari guling-guling, sesungguhnya terdapat pesan yang lebih serius. Publik sepak bola menginginkan pertandingan yang adil.</p>
<p>Mereka ingin hasil ditentukan oleh kualitas permainan. Mereka ingin kemenangan lahir dari strategi, kerja keras, dan kemampuan pemain bukan dari kontroversi. Bukan pula dari drama. Bukan dari keputusan yang membuat orang terus berdebat berbulan-bulan setelah peluit akhir berbunyi.</p>
<p>Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Piala Dunia 2026. Ketika semua sorotan dunia tertuju pada lapangan, ketika lawan yang dihadapi adalah tim-tim elite, dan ketika kualitas menjadi mata uang utama, tidak ada ruang yang cukup besar untuk kontroversi.</p>
<p>Yang tersisa hanyalah sepak bola itu sendiri, dan sepak bola, sebagaimana sejarah telah berulang kali membuktikan, selalu memiliki cara yang kejam untuk memisahkan antara mitos dan kenyataan. Karena pada akhirnya, papan skor tidak pernah peduli berapa kali seseorang berguling, atau seberapa anak emasnya kamu di federasimu.</p>
<p>Ia hanya peduli berapa kali bola masuk ke gawang.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Muhidi: Dokumen LHP Rupakan Mekanisme Check and Balances Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Transparan</title>
		<link>https://khazminang.id/muhidi-dokumen-lhp-rupakan-mekanisme-check-and-balances-wujudkan-tata-kelola-pemerintahan-yang-transparan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[John Edward Rhony]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 08:04:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[BPK Perwakilan Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[dprd sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=14231</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazminang.id&#160;&#8211; Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menegaskan, dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) merupakan bagian mekanisme&#160;check...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Padang, Khazminang.id</strong>&nbsp;&#8211; Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menegaskan, dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) merupakan bagian mekanisme&nbsp;<em>check and balances</em>&nbsp;untuk mewujudkan dan menjamin tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bagi DPRD, LHP BPK adalah instrumen penting dalam menjalankan fungsi pengawasan,&#8221; tegas Muhidi didampingi wakil ketua Evi Yandri Rajo Budiman, M. Iqra Chissa Putra dan Nanda Satria saat memimpin Rapat Paripurna Penyerahan LHP BPK terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2025 di ruang sidang utama dewan, Rabu (17/6/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedangkan bagi Pemerintah Daerah beserta seluruh OPD, lanjutnya, dokumen ini memberikan hasil pemeriksaan yang memberikan panduan dan arah melalui koreksi dan catatan bagi perbaikan dan peningkatan kinerja, serta cermin kepatuhan terhadap regulasi pengelolaan keuangan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Seiring dengan tuntutan publik yang kian dinamis dan kritis terhadap pengelolaan keuangan negara, arah dan tujuan kita dalam mengelola keuangan daerah harus melangkah maju dan lebih jauh,&#8221; tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan, Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) merupakan sesuatu yang penting, namun tidak menjadi tujuan akhir atau terhenti sebagai capaian prestasi administratif. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Melangkah lebih jauh itu, katanya, bagaimana upaya menjadikan dokumen LHP sebagai instrumen strategis untuk melahirkan APBD dan pengelolaan keuangan yang berkualitas, efektif, efisien, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita patut bersyukur dan bangga, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mencatatkan capaian berupa opini WTP sebanyak 13 kali berturut-turut pada tahun-tahun sebelumnya,&#8221; ungkapnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini, jelasnya, menandai komitmen menjaga kepatuhan administratif keuangan. Capaian ini juga harus dimaknai sebagai tanggungjawab dan tantangan lebih besar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumen LHP BPK sebagai rangkaian proses perbaikan berkelanjutan, selalu memberikan sejumlah temuan-temuan pemeriksaan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Temuan-temuan ini, katanya, harus dipandang sebagai ruang-ruang perbaikan yang menjadi perhatian dalam pengelolaan keuangan di tahun mendatang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Oleh karena itu, temuan-temuan tahun lalu tidak seharusnya terulang tahun ini maupun temuan tahun ini tidak berulang di tahun depan,&#8221; katanya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitupula dengan jumlah temuan dan maupun keberartiannya dalam nilai nominal harus terus menurun, karena hal ini dapat menjadi indikator bahwa opini WTP dan temuannya merupakan sarana bagi peningkatan dalam kualitas tata kelola keuangan&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas dasar itu, DPRD Provinsi Sumatera Barat mendorong Pemerintah Daerah dan seluruh OPD terkait untuk menggunakan LHP BPK kali ini sebagai bahan evaluasi fundamental bagi tata kelola keuangan yang profesional, akurat, dan berdampak nyata dan luas bagi kesejahteraan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rapat Paripurna Penyerahan LHP BPK terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2025 tersebut dihadiri langsung Kepala Perwakilan BPK Sumbar Sudarminto Eko Putra S.E, M.M, CSFA, CFrA, sementara Pemprov dihadiri Wakil Gubernur Vasko Ruseimy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kesempatan itu juga diumumkan jika Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kembali berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas LKPD Tahun Anggaran 2025, sehingga penghargaan ini menjadi capaian WTP ke-14 kalinya secara berturut-turut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ikut hadir para kepala instansi/OPD di lingkungan Pemprov Sumbar, unsur Forkopimda serta para undangan lainnya. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menang Lawan Mozambik 1-0, Ranking FIFA Indonesia Dipastikan Kembali Naik</title>
		<link>https://khazminang.id/menang-lawan-mozambik-1-0-ranking-fifa-indonesia-dipastikan-kembali-naik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 16:02:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13893</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Padang, Khazminang.id&#8211;  Sempat hampir unggul cepat di menit ke 3 saat umpan sepak pojok Kevin Diks bisa ditanduk oleh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Padang, Khazminang.id&#8211;</strong>  Sempat hampir unggul cepat di menit ke 3 saat umpan sepak pojok Kevin Diks bisa ditanduk oleh Elkan Baggott, namun sayang sundulan Baggott menerpa tiang, bola yang memantul ke Ole Romeny tapi kembali mengarah tiang gawang.</p>
<p>Meski demikian, Timnas Indonesia akhirnya mengatasi perlawanan sengit Mozambik dengan menang 1-0. Gol tunggal Tim Garuda diciptakan oleh penyerang Ole Romeny pada menit ke 11, setelah menerima umpan lambung dari tengah lapangan yang dikirimkan Ragnar Oratmangoen.</p>
<p>Kemenangan ini juga dipastikan menaikan terus peringkat FIFA Indonesia, Setelah naik ke peringkat 118 usai membungkam Oman 3-0, peringkat Indonesia diperkiran akan naik kembali ke antar 115-117.</p>
<p>Dalam laga yang bertajuk <em>FIFA Matchday</em> yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (9/6). Timnas Indonesia tampil menekan sejak menit awal laga.</p>
<p>Setelah menit ke 3 ancaman kembali dihadirkan Indonesia pada menit ke-8, lewat tusukan Kevin Diks dari sisi kiri. Akan tetapi tembakannya tapi hanya menggetarkan jala samping.</p>
<p>Gol Indonesia akhirnya tercipta di menit ke-11, setelah umpan terobosan Ragnar Oratmangoen, setelah membebaskan dari pemain belakang Mozambik, Ole Romeny. Ole bisa mengecoh kiper Mozambik, Ivane Francisco Urrabal. Ole menembak bola ke gawang yang kosong untuk jadi gol.</p>
<p>Indonesia sempat bikin gol saat sepak pojok Diks langsung meluncur ke gawang Mozambik. Namun, gol ini dianulir karena lebih dulu terjadi pelanggaran ke Ivane.</p>
<p>Tim Merah Putih terus menekan. Ole kembali berusaha mengecoh Ivane. Namun kali ini, ia kehilangan keseimbangan. Bola liar bisa disambar oleh Marselino Ferdinan. Ada pemain Mozambik di bawah mistar memblok tembakan Marselino di menit ke-21.</p>
<p>Mozambik berusaha merespon. Penyerang Mozambik, Alcides lolos dari pengawalan. Percobaan pertamanya bisa ditepis Paes. Bola muntah kembali kepadanya yang melepas umpan ke depan. Dario Melo bisa menyongsong umpan tersebut. Diks melakukan blok krusial di depan gawang.</p>
<p>Verdonk terbebas saat pemain Mozambik terjatuh di depan gawang. Sontekannya tapi masih melebar di menit ke-30.</p>
<p>Indonesia masih bermain menyerang hingga akhir babak pertama. Namun, penyelesaian akhir pasukan Herdman kurang baik. Ole mendapatkan bola di depan gawang. Namun, Ivane bisa menepis bola hingga Ole sulit melakukan kontrol.</p>
<p>Skor 1-0 untuk Indonesia bertahan hingga babak pertama tuntas.</p>
<p>Awal babak kedua berlangsung alot. Banyak duel-duel terjadi hingga kedua tim sulit bikin peluang berbahaya. Indonesia perlahan bisa memegang kendali laga. Mozambik memilih menumpuk banyak pemain di belakang untuk meredam Indonesia. Hal ini menyulitkan Tim Merah Putih.</p>
<p>Rayhan Hannan yang baru dimasukkan bisa membongkar lini belakang Mozambik dengan kecepatannya di sisi kanan. Umpannya menjangkau Nathan Tjoe-A-On di tiang jauh. Sepakan Nathan masih menerpa tiang di menit ke-67.</p>
<p>Mozambik mencuri peluang dari Alcides yang tak terkawal di sisi kanan. Sepakan Alcides hanya melambung tipis dari gawang Paes di menit ke-70</p>
<p>Dari sisi yang sama, Mozambik kembali mengancam. Celton Jamisse melepas sepakan keras ke tiang dekat. Paes masih sigap menepis bola.</p>
<p>Umpan terobosan Calvin Verdonk membelah lini belakang Mozambik di menit ke-77. Ivane tapi sigap keluar dari sarangnya menyergap bola sebelum sampai ke Nathan.</p>
<p>Sampai peluit akhir ditiup wakit, Indonesia gagal bikin gol tambahan Tim Garuda akhirnya menang tipis 1-0.</p>
<p><strong>Susunan Pemain</strong></p>
<p>Timnas Indonesia: Maarten Paes, Dony Tri Pamungkas, Kevin Diks, Rizky Ridho (Sandy Walsh 65&#8242;), Elkan Baggott, Joey Palupessy,Ivar Jenner (Nathan Tjoe-A-On 65&#8242;), Calvin Verdonk, Marselino Ferdinan (Rayhan Hannan 65&#8242;), Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen (Beckham Putra 90+3)</p>
<p>Mozambik: Ivane Urrabal; Celton Jamisse, Edmilson Dove, Valter Nhacussa, Infren Nanana, Ezequiel Machava, Keyns Amido, Dario Melo, Alcides, Neymar, Dayo Antonio.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Menang 3-0 Lawan Timor Leste, Vietnam Masih Pimpin Grup A</title>
		<link>https://khazminang.id/menang-3-0-lawan-timor-leste-vietnam-masih-pimpin-grup-a/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 15:33:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13718</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Padang, Khazminang.id&#8211; Pertandingan Timnas U19 Indonesia vs Timor Leste di Piala AFF U19 2026 malam ini, Kamis (4/6/), berakhir...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Padang, Khazminang.id&#8211; </strong>Pertandingan Timnas U19 Indonesia vs Timor Leste di Piala AFF U19 2026 malam ini, Kamis (4/6/), berakhir 3-0 untuk kemenangan Indonesia,</p>
<p>Kemenangan pada <em>matchday</em> kedua Grup A dalam kejuaraan yang juga disebut ASEAN U19 Championship 2026 ini membuka peluang Garuda Muda untuk melaju ke semifinal, paling tidak sebagai peringkat kedua terbaik.</p>
<p>Klasemen Grup A Piala AFF U19 2026 saat ini dipimpin oleh Vietnam U19 dan Indonesia U19. Kedua tim sama-sama mengumpulkan 6 poin namun sbelumnya pada pertandingan sore hari Vietnam melumat Myanmar dengan skor telak 5-0.</p>
<p>Dengan demikian Vietnam mempunyai selisih gol lebih baik yakni 8-0, sementara Indonesia mempunyai selisih gol 6-0. Berikutnya jadwal Timnas Indonesia U19  asalah melawan Vietnam U19 dalam laga penentu juara Grup A, Minggu (7/6) mendatang.</p>
<p>Pada laga ini pelatih Nova Arianto menerapkan formasi 3-4-3. Dafa Al Gasemi tetap dipercaya sebagai kiper utama. Barisan belakang diisi Timothy Baker, I Putu Panji, dan Raditya Rahardjo. Kuartet tengah ditempati Fabio Azkairawan, Evandra Florasta, Welber Jardim, dan Muhammad Isfandyar. Lini serang dihuni trisula Irpan Siregar, Reno Salampessy, serta Dimas Adi.</p>
<p>Di sisi lain, Timnas Timor Leste U19 asuhan pelatih Emral Bustaman, menggunakan formasi bertahan 5-2-3. Meski demikian mereka tetap mengincar serangan balik lewat trio Canavaro, Totifanio, dan Nicholas.</p>
<p>Paruh awal babak pertama serangan Garuda Muda kerap dilancarkan dari sisi sayap. Fabio Azka juga sering mengirim lemparan jauh untuk menciptakan kemelut di kotak penalti musuh.</p>
<p>Menit 33 tendangan bebas dilepaskan Reno Salampessy, tapi masih bisa ditepis kiper Timor Leste U19, Tristan.</p>
<p>Akselerasi Dimas Adi dari kiri pada menit 37 berhasil mengirim umpan <em>cut back</em> kepada Irpan Siregar, sayang sekali tembakan masih melambung.</p>
<p>Menit 42, Timnas Indonesia U19 akhirnya berhasil memecah kebuntuan. Reno Salampessy menerima umpan terobosan dari Welber Jardim, lalu diselesaikan menjadi gol. Skor 1-0 Tim Garuda Muda memimpin.</p>
<p>Memasuki babak kedua pelatih Nova Arianto memasukkan sejumlah pemain pengganti, termasuk Arkhan Kaka, Amar Brkic, dan Theodore Evan.</p>
<p>Diawali skema tendangan sudut pada menit 61 menimbulkan kemelut di kotak penalti Timor Leste U19. Tembakan keras Irpan Siregar membobol gawang lawan untuk kedua kali. Skor 2-0, Timnas Indonesia U19 makin menjauh.</p>
<p>Menit 67 Arkhan Kaka menambah gol lewat sebuah tembakan keras dari dalam kotak penalti. Indonesia U19 unggul jauh 3-0 sampai berakhirnya pertandingan.</p>
<p><strong>Susunan Pemain Timnas Indonesia U19 (3-4-3):</strong></p>
<p>Dafa Al Gasemi (GK); Timothy Baker, I Putu Panji, Raditya Rahardjo; Fabio Azkairawan, Evandra Florasta, Welber Jardim, Muhammad Isfandyar; Irpan Siregar, Reno Salampessy, Dimas Adi | <strong>Pelatih:</strong> Nova Arianto</p>
<p><strong>Cadangan:</strong> Erdevba Aulia (GK), Rendi Razzaqu (GK), Rafa, Al Gazzani, Ibrah Ohorella, Eizar Jacob, Nazriel Alfaro, Zinadein Ardyansyah, Amar Brkic, Theodore Evan, Arkhan Kaka</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Tegaskan, Generasi Muda Harus Jadi Garda Terdepan Jaga Persatuan Bangsa</title>
		<link>https://khazminang.id/wakil-ketua-dprd-sumbar-evi-yandri-tegaskan-generasi-muda-harus-jadi-garda-terdepan-jaga-persatuan-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[John Edward Rhony]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 01:03:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[dprd sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran Bela Negara Keluarga Besar TNI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13222</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazminang.id&#160;&#8211; Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman menegaskan, generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Padang, Khazminang.id</strong>&nbsp;&#8211; Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman menegaskan, generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa serta mempertahankan nilai-nilai kebangsaan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut ditegaskan Evi Yandri Rajo Budiman yang juga Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Sumbar&nbsp;itu usai menghadiri kegiatan pembinaan Kesadaran Bela Negara Keluarga Besar TNI Kodam XX/TIB di Gedung Sapta Marga, Makodam XX/TIB Jalan Sudirman Padang,&nbsp;Jumat (22/5/2026).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain Evi Yandri, Anggota Komisi V DPRD Sumbar, Endarmy yang juga merupakan ketua FKPPI. Dalam kegiatan tersebut tampak hadir berbagai perwakilan lintas organisasi lainnya, terutama yang berada di bawah pembinaan Kodam Tuanku Imam Bonjol, diantaranya PPM,&nbsp; FKPPI, P3AD, PPAD.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut Evi Yandri mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat semangat nasionalisme, persatuan, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air di tengah masyarakat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pembinaan bela negara, jelasnya, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, TNI dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita berharap kegiatan ini ikut mendorong lahirnya generasi muda yang solid, berkarakter, serta memiliki semangat nasionalisme yang tinggi,&#8221; ujar Evi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Senada dengan itu, Anggota DPRD Sumbar, Endarmy mengatakan, sinergi antara oganisasi kepemudaan, keluarga besar TNI, dan seluruh elemen masyarakat amat penting dalam memperkuat wawasan kebangsaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Wawasan kebangsaan harus terus ditanamkan pada masyarakat sejak dini, ini sangat berpengaruh dalam upaya menjaga keutuhan negara,&#8221; tutur Endarmy.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perwakilan Kodam XX/TIB,&nbsp; Letkol Kav Mahpuzh mengatakan, ada puluhan peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, terutama organisasi yang berada dibawah pembinaan Kodam Tuanku Imam Bonjol.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membuka kegiatan tersebut, Mahpuzh mengingatkan tentang pentingnya untuk menjadi satu persatuan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita harus menjadi satu, bukan terpisah-pisah. Kalau kita sudah menjadi satu wadah dalam satu pembinaan tentu kita akan menjadi kuat,&#8221; katanyam&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahpuzh berharap kegiatan tersebut bukanlah yang terakhir, melainkan akan diadakan berbagai kegiatan lainnya untuk menguatkan jalinan dan sinergi antar organisasi. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andi Karawai, Buyung Cibuak, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia</title>
		<link>https://khazminang.id/andi-karawai-buyung-cibuak-dan-diplomasi-piton-yang-gagal-dipahami-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 18:18:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13198</guid>

					<description><![CDATA[Andi Karawai, Buyung Cibuak, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia Oleh: Novrizal Di sebuah negeri yang hutan-hutannya makin pendek...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Andi <i>Karawai,</i> Buyung <i>Cibua</i>k, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Oleh: Novrizal</strong></p>
<p>Di sebuah negeri yang hutan-hutannya makin pendek umurnya dibanding janji pembangunan, ular piton mulai mengalami krisis identitas. Dulu mereka tinggal tenang di rawa, semak, dan hutan tropis. Kini tempat tinggal mereka berubah menjadi kebun, perumahan, warung kopi, bahkan tempat parkir minimarket. Manusia menyebutnya kemajuan. Piton menyebutnya penggusuran diam-diam.</p>
<p>Di tengah situasi itu, muncullah nama <span class="whitespace-normal">Andi Karawai</span>. Entah karena nasib, takdir ekologis, atau kesalahan tata ruang nasional, Andi menjadi manusia yang terlalu sering bertemu piton. Hampir setiap beberapa waktu ada saja kabar:</p>
<p>“Andi Karawai bertemu ular lagi.”</p>
<p>Masyarakat mulai curiga. Ada yang mengira Andi memiliki ilmu pemanggil reptil. Ada pula yang yakin piton-piton itu sedang menjalankan program silaturahmi lintas spesies. Padahal kemungkinan paling sederhana justru jarang dipikirkan: habitat piton sudah semakin sempit sehingga mereka terpaksa “bertamu” ke wilayah manusia.</p>
<p>Namun manusia modern memang unik. Ketika hutan dibabat, manusia menyebutnya investasi. Ketika ular masuk kampung karena kehilangan rumah, manusia menyebutnya teror.</p>
<p>Di sinilah peran Buyung Cibuak menjadi penting. Lelaki dengan tingkat kegantengan minimalis itu muncul sebagai mediator hubungan manusia dan piton. Walaupun awalnya diragukan karena namanya mengandung kata “Cibuak”, meski demikian Buyung justru menjadi satu-satunya orang yang mau mendengar suara kedua pihak. Tidak ada yang tahu sejak kapan pula kata cibuak itu ada di belakang nama Buyung. Entah karena dia sering mencibuak piton, entah karena sering mencibuak perempuan mandi.</p>
<p>Menurut cerita yang beredar di Komunitas Adat Piton Internasional, Buyung Cibuak dan Andi Karawai pernah menghadiri sidang adat reptil di sebuah rawa berkabut. Di sana para piton menyampaikan keluhan mereka.</p>
<p>Seekor piton tua berkata:</p>
<p>“Dulu manusia masuk hutan harus izin. Sekarang manusia menggusur hutan lalu marah ketika kami lewat halaman rumahnya.”</p>
<p>Semua piton mengangguk setuju.</p>
<p>Andi Karawai yang hadir dalam sidang itu hanya bisa terdiam. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa mungkin selama ini piton bukan sedang mengejarnya. Mereka hanya tersesat di tanah yang dulu milik mereka sendiri.</p>
<p>Tetapi manusia memang makhluk yang sulit merasa bersalah. Kita bisa menebang pohon ratusan hektare sambil memasang spanduk “Selamatkan Lingkungan”. Kita bisa membangun perumahan di bekas rawa lalu kaget melihat ular muncul di selokan. Bahkan setelah mengambil habitat satwa, manusia masih merasa sebagai korban utama.</p>
<p>Ironisnya, piton justru lebih sopan. Mereka tidak membuat seminar tentang “Penyelamatan Manusia dari Perusakan Habitat”. Mereka juga tidak membuat konten motivasi tentang hidup harmonis dengan manusia. Mereka hanya diam, melata, dan sesekali muncul di dapur warga karena kebingungan mencari tempat tinggal.</p>
<p>Mungkin karena itulah Komunitas Adat Piton Internasional akhirnya mengangkat Buyung Cibuak sebagai “Juru Damai Antarspesies”, sementara Andi Karawai diberi gelar:</p>
<p>“Saudara Berdarah Panas yang Sering Salah Paham.”</p>
<p>Gelar itu terdengar lucu, tetapi sebenarnya menyimpan sindiran besar kepada manusia modern. Kita sering menganggap alam sebagai tamu di rumah kita, padahal bisa jadi kitalah yang terlalu jauh memasuki rumah alam.</p>
<p>Dan ketika piton mulai sering muncul di lingkungan manusia, mungkin itu bukan pertanda bahwa ular semakin liar. Bisa jadi justru manusia yang terlalu rakus mempersempit ruang hidup makhluk lain.</p>
<p>Sayangnya, pelajaran seperti ini sering kalah oleh kepanikan. Orang lebih sibuk merekam ular dengan ponsel daripada bertanya mengapa ular itu sampai ada di sana. Kita hidup di zaman ketika dokumentasi lebih penting daripada refleksi.</p>
<p>Sementara itu, di sebuah rawa yang tersisa, para piton konon masih mengadakan sidang adat setiap malam. Mereka membahas satu pertanyaan besar:</p>
<p>“Apakah manusia masih bisa diajak hidup berdampingan?”</p>
<p>Dan menurut kabar terakhir, hanya dua manusia yang masih diterima menghadiri sidang itu:<br />
<span class="whitespace-normal">Andi Karawai</span> dan <span class="whitespace-normal">Buyuang Cibuak</span>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Juri Cerdas Cermat yang Tidak Cerdas dan Tidak Cermat</title>
		<link>https://khazminang.id/juri-cerdas-cermat-yang-tidak-cerdas-dan-tidak-cermat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iptek]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=12885</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Oleh: Novrizal “Lomba akademik seharusnya menjadi ruang terakhir tempat anak-anak percaya bahwa kerja keras masih punya arti. Ketika ruang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Novrizal</p>
<p><i>“Lomba akademik seharusnya menjadi ruang terakhir tempat anak-anak percaya bahwa kerja keras masih punya arti. Ketika ruang itu ikut ternoda, maka yang runtuh bukan hanya skor pertandingan, melainkan keyakinan generasi muda terhadap sistem.”</i></p>
<p style="text-align: justify;">Di negeri yang sangat mencintai seremoni, lomba cerdas cermat adakalanya lebih mirip pertunjukan drama ketimbang ajang intelektual. Ada tepuk tangan, ada musik pembuka, ada MC penuh semangat, ada juri yang wajahnya dibuat seserius hakim Mahkamah Konstitusi. Bedanya, kalau di pengadilan orang mencari keadilan, di lomba kadang peserta hanya berharap jangan terlalu dicurangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah kira-kira yang dirasakan para siswa dalam Drama Cerdas Cermat Empat Pilar <span class="whitespace-normal">MPR-RI</span> tingkat Kalimantan Barat yang belakangan viral itu. Sebuah lomba yang semestinya mengajarkan nilai demokrasi, keadilan, dan kebangsaan justru berubah menjadi panggung nasional tentang bagaimana ketidakadilan dipertontonkan secara terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Publik tentu terkejut. Bukan karena ada peserta yang salah menjawab. Itu biasa. Yang luar biasa adalah kemampuan juri menghasilkan dua kebenaran berbeda dari satu jawaban yang sama. Sekolah pertama menjawab, dianggap benar, dapat nilai 10. Sekolah kedua menjawab persis sama, dianggap salah, malah minus lima. Ini bukan lagi cerdas cermat, melainkan eksperimen filsafat tentang relativitas kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Albert Einstein mungkin tidak pernah membayangkan teorinya berkembang sejauh ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak yang datang dengan hafalan konstitusi, semangat belajar, dan harapan membanggakan sekolah mendadak belajar satu pelajaran baru: dalam hidup, jawaban benar belum tentu cukup. Kadang yang lebih penting adalah siapa yang dinilai, siapa yang menilai, dan bagaimana suasana hati di meja juri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang membuat publik semakin geram bukan hanya keputusan juri, tetapi cara semuanya ditangani. Ketika siswa memprotes dengan emosi yang masih cukup santun untuk ukuran remaja yang merasa dicurangi, respons yang muncul justru terdengar seperti <i>gaslighting</i> nasional berjamaah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu hanya perasaan adik-adik saja.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat itu mungkin akan dikenang lebih lama daripada nama juara lomba. Sebab di satu kalimat itulah publik melihat betapa mudahnya kekecewaan siswa diremehkan. Anak-anak yang sedang memperjuangkan rasa keadilan malah diposisikan seperti terlalu baper terhadap nasib mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">MC yang seharusnya menjadi penengah tampil bak humas krisis yang salah briefing. Alih-alih meredakan keadaan dengan empati, ia justru terdengar seperti sedang membela sistem yang diprotes. Publik pun ramai-ramai memberi penilaian baru: ternyata dalam lomba Empat Pilar, ada pilar kelima yang belum tertulis, yakni “asal jangan salahkan panitia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, dua orang juri dari sekretariat <span class="whitespace-normal">MPR-RI</span> terlihat sibuk mencari pembenaran. Penjelasan demi penjelasan dilontarkan, tetapi semakin dijelaskan justru semakin tampak seperti orang yang tersesat di lorong logika sendiri. Publik yang awalnya hanya marah berubah menjadi gemas. Sebab kadang kesalahan kecil sebenarnya bisa selesai dengan satu kalimat sederhana: “Maaf, kami keliru.”</p>
<p style="text-align: justify;">Namun di negeri yang birokrasinya seperti taman labirin ini, mengakui kesalahan kadang lebih sulit daripada menghafal seluruh isi UUD 1945. Seperti yang ditunjukan juri dari Sekretariat MPR-RI, yang “ngeles” ketika menjawab protes siswa dan mempermasalahkan artikulasi siswa. Lucu memang, tetapi juga miris, sebab terkadang kebodohan terlihat seperti sebuah kelucuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya media sosial mengambil alih peran oposisi. Potongan video menyebar ke mana-mana. Netizen mendadak menjadi analis lomba profesional. Mereka memutar ulang adegan seperti VAR dalam pertandingan sepak bola. Bedanya, ini bukan perebutan penalti, melainkan perebutan akal sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sanksi sosial pun datang tanpa perlu surat keputusan resmi. Nama juri menjadi bahan olok-olok. MC kehilangan banyak pekerjaan. Warganet yang biasanya hanya ribut soal artis kini mendadak menjadi pejuang etika pendidikan. Sebuah fenomena langka yang menunjukkan bahwa rakyat sebenarnya masih peduli pada keadilan—setidaknya kalau ada videonya. LHKPN dan rekam jejak kedua juri itupun diumbar di media sosial</p>
<p style="text-align: justify;">Pihak <span class="whitespace-normal">MPR-RI</span> akhirnya meminta maaf. Para siswa diundang ke Gedung MPR sebagai bentuk simpati. Foto-foto pun beredar: senyum, salam, dan nuansa rekonsiliasi nasional. Tetapi publik telanjur sadar bahwa masalahnya bukan sekadar menang atau kalah lomba.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah utamanya adalah rusaknya kepercayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab lomba akademik adalah salah satu ruang terakhir tempat anak-anak percaya bahwa kerja keras masih punya arti. Ketika ruang itu ikut ternoda, maka yang runtuh bukan hanya skor pertandingan, melainkan keyakinan generasi muda terhadap sistem.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus ini menjadi ironi besar. Acara tentang Empat Pilar justru goyah di pilar keadilan dan kemanusiaan. Anak-anak diajarkan demokrasi, tetapi suara protes mereka diabaikan. Mereka diajarkan persatuan, tetapi diperlakukan berbeda. Mereka diajarkan keadilan sosial, tetapi menyaksikan sendiri bagaimana jawaban identik bisa menghasilkan nasib yang bertolak belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin inilah metode pembelajaran terbaru: pendidikan karakter berbasis trauma.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pada akhirnya, publik belajar satu hal penting dari peristiwa ini. Bahwa di negeri ini, bahkan lomba cerdas cermat pun bisa berubah menjadi teater absurd. Sebuah panggung tempat siswa diuji bukan hanya kecerdasannya, tetapi juga ketahanan mentalnya menghadapi keputusan orang dewasa yang kadang lebih membingungkan daripada soal yang mereka buat sendiri.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Universitas dan Pabrik Buruh Masa Depan</title>
		<link>https://khazminang.id/universitas-dan-pabrik-buruh-masa-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2026 05:21:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Iptek]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=12779</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Oleh: Novrizal “Bangsa yang terlalu sibuk mencetak pekerja mungkin akan berhasil membangun industri tetapi belum tentu berhasil membangun peradaban.”...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Novrizal</p>
<p><em>“Bangsa yang terlalu sibuk mencetak pekerja mungkin akan berhasil membangun industri tetapi belum tentu berhasil membangun peradaban.”</em></p>
<p>Ada sebuah zaman ketika universitas dianggap sebagai tempat lahirnya gagasan besar. Tempat manusia belajar mempertanyakan hidup, membangun peradaban, dan mencari makna pengetahuan. Namun sekarang, perlahan-lahan kampus mulai berubah fungsi. Ia tidak lagi ditanya: “Apa yang dipikirkannya?” melainkan: “Berapa persen lulusannya terserap kerja enam bulan setelah wisuda?”</p>
<p>Dan seperti biasa, angka menjadi lebih penting daripada manusia.</p>
<p>Pemerintah pun mulai sibuk menghitung. Program studi mana yang “relevan”, mana yang “tidak relevan”. Mana yang menghasilkan pekerja, mana yang hanya menghasilkan sarjana yang terlalu banyak berpikir. Kata “oversupply” mendadak terdengar gagah, seolah-olah manusia dapat dihitung seperti stok semen di gudang logistik.</p>
<p>Keguruan menjadi salah satu tersangka utama. Lulusannya terlalu banyak, kata pemerintah. Tidak sesuai kebutuhan pasar kerja. Maka program studi pendidikan mulai dilihat seperti warung yang kebanyakan produksi gorengan: hasilnya menumpuk, pembelinya sedikit.</p>
<p>Tokoh seperti Paulo Freire sejak lama mengkritik pendidikan yang hanya menjadikan manusia sebagai alat produksi. Menurutnya, pendidikan seharusnya membebaskan manusia agar mampu berpikir kritis terhadap realitas sosialnya, bukan hanya menjadi bagian dari mesin ekonomi. Demikian juga Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses “memanusiakan manusia”, bukan sekadar pelatihan kerja.</p>
<p>Karena itu hubungan dengan dunia kerja memang perlu, tetapi harus proporsional. Universitas tidak bisa sepenuhnya lepas dari realitas ekonomi, sebab lulusan juga harus hidup layak. Namun ketika seluruh arah pendidikan ditentukan oleh pasar, maka ilmu kehilangan idealismenya, kebudayaan tersisih, kreativitas menyempit, dan manusia diukur hanya dari nilai ekonominya.</p>
<p>Padahal banyak kemajuan peradaban lahir bukan dari logika pasar jangka pendek. Seni, sastra, filsafat, penelitian dasar, bahkan pendidikan karakter sering tidak langsung menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi justru menjadi fondasi kebudayaan dan kemajuan bangsa dalam jangka panjang.</p>
<p>Ironisnya, dunia industri modern sendiri sekarang mulai mencari manusia yang tidak sekadar “siap kerja”, tetapi juga kreatif, adaptif, mampu berpikir lintas disiplin, komunikatif, dan memiliki empati sosial. Kemampuan seperti itu justru banyak dibentuk oleh pendidikan yang humanistik, bukan pendidikan yang terlalu mekanistis.</p>
<p>Jadi menurut saya, yang dibutuhkan bukan menolak hubungan pendidikan dengan dunia kerja, melainkan menjaga agar pendidikan tetap memiliki ruh kemanusiaan dan kebudayaan. Sebab bangsa yang hanya mengejar efisiensi ekonomi bisa maju secara industri, tetapi belum tentu maju secara peradaban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lucunya, di saat yang sama, masih ada sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kekurangan guru. Ada murid yang belajar dengan meja reyot, ada guru honorer yang digaji lebih rendah dari cicilan sepeda motor, dan ada sekolah yang guru olahraganya mengajar matematika karena memang tidak ada pilihan lain.</p>
<p>Tapi mungkin yang dimaksud “kelebihan guru” bukan kekurangan tenaga pengajar, melainkan kekurangan anggaran untuk menggaji mereka.</p>
<p>Negara tampaknya mulai jujur, meski dengan cara yang tidak diucapkan secara langsung: kebutuhan pendidikan nasional kini harus menyesuaikan kemampuan fiskal. Pendidikan bukan lagi soal mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan soal apakah APBN sedang cukup sehat untuk menanggungnya.</p>
<p>Dan di sinilah universitas mulai diarahkan menjadi pabrik yang lebih efisien.</p>
<p>Kampus diminta menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Istilahnya keren: <em>link and match</em>. Mahasiswa harus siap kerja. Kurikulum harus adaptif terhadap pasar. Lulusan harus relevan dengan dunia usaha.</p>
<p>Kalimat-kalimat itu terdengar modern, progresif, dan rasional. Sampai kita sadar bahwa yang dimaksud “relevan” sering kali hanyalah: mudah dipakai oleh industri.</p>
<p>Kenyataan ini akan mengakibatkan pendidikan perlahan berubah menjadi proses produksi tenaga kerja. Kampus akan seperti bengkel besar yang tugasnya mencetak manusia sesuai ukuran pasar. Jika industri membutuhkan operator, kampus menyiapkan operator. Jika industri membutuhkan pekerja digital, kampus membuka prodi digital. Jika suatu hari industri membutuhkan manusia yang mampu bekerja 20 jam tanpa tidur, mungkin universitas akan membuka mata kuliah “Teknik Menjadi Robot Level Dasar”.</p>
<p>Sementara itu, filsafat dianggap terlalu banyak bertanya. Sastra dianggap tidak produktif. Seni dianggap tidak menghasilkan. Pendidikan dianggap kelebihan lulusan.</p>
<p>Padahal bangsa yang kehilangan filsafat akan kehilangan arah berpikir. Bangsa yang kehilangan seni akan kehilangan rasa. Bangsa yang meremehkan pendidikan akan kehilangan masa depan.</p>
<p>Tetapi tentu saja, semua itu tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan kebutuhan pasar kuartal berikutnya.</p>
<p>Barangkali memang beginilah wajah pendidikan modern: universitas tidak lagi diminta melahirkan manusia merdeka, tetapi tenaga kerja fleksibel yang siap dipindahkan dari satu industri ke industri lain seperti suku cadang.</p>
<p>Ironisnya, industri sendiri kini mulai mengeluh. Mereka mencari lulusan yang kreatif, inovatif, mampu berpikir kritis, dan bisa bekerja lintas disiplin. Sesuatu yang sulit lahir dari pendidikan yang terlalu tunduk pada logika pasar.</p>
<p>Sebab kreativitas tidak tumbuh dari kepatuhan mutlak. Pemikiran kritis tidak lahir dari sistem yang hanya mengajarkan cara memenuhi kebutuhan industri. Dan inovasi tidak muncul dari manusia yang sejak awal dididik hanya untuk menjadi roda kecil dalam mesin ekonomi.</p>
<p>Namun rupanya kita memang sedang memasuki era baru: era ketika pendidikan diukur seperti investasi saham. Jika cepat menghasilkan uang, ia dianggap penting. Jika manfaatnya jangka panjang dan sulit dihitung dengan statistik ekonomi, ia mulai dicurigai.</p>
<p>Mungkin suatu hari nanti, universitas akan benar-benar berubah nama. Fakultas Ilmu Budaya diganti menjadi Divisi Konten Kreatif Produktif. Jurusan Pendidikan menjadi Unit Produksi SDM Pembelajaran. Dan wisuda bukan lagi prosesi akademik, melainkan seremoni penyerahan tenaga kerja kepada pasar.</p>
<p>Lalu di sudut ruangan, diam-diam kita bertanya: apakah pendidikan masih tentang manusia?</p>
<p>Atau jangan-jangan manusia sendiri sudah dianggap terlalu mahal untuk diproduksi?</p>
<p>Karena pada akhirnya, bangsa yang terlalu sibuk mencetak pekerja mungkin akan berhasil membangun industri. Tetapi belum tentu berhasil membangun peradaban.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
