<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kuliner &#8211; Khazminang.id</title>
	<atom:link href="https://khazminang.id/kategori/detail/kuliner/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://khazminang.id</link>
	<description>Berita Sumbar Terbaru dan Terkini Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Apr 2026 17:49:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://khazminang.id/wp-content/uploads/2024/12/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Kuliner &#8211; Khazminang.id</title>
	<link>https://khazminang.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memberi Makan Agar Orang Bisa Berpikir atawa Memberi Makan sebagai Pengganti Berpikir</title>
		<link>https://khazminang.id/memberi-makan-agar-orang-bisa-berpikir-atawa-memberi-makan-sebagai-pengganti-berpikir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 12:07:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=12509</guid>

					<description><![CDATA[“Ukuran keberhasilan pendidikan tentu bukan hanya pada berapa banyak anak yang makan siang gratis, tetapi pada berapa banyak dari mereka...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><i>“Ukuran keberhasilan pendidikan tentu bukan hanya pada berapa banyak anak yang makan siang gratis, tetapi pada berapa banyak dari mereka yang, setelah makan, mampu membaca dunia dengan kritis—dan berani mengubahnya”.</i></p>
<p style="text-align: justify;">Ada perbedaan besar antara<b> </b><strong><span style="font-weight: normal;">memberi makan agar orang bisa berpikir</span></strong><b>, </b>dan<b> </b><strong><span style="font-weight: normal;">memberi makan sebagai pengganti berpikir.</span></strong><b></b></p>
<p style="text-align: justify;">Ada kabar baik dari meja anggaran: negara kita sangat peduli pada rasa lapar. Begitu peduli, hingga ratusan triliun rupiah digelontorkan agar anak-anak tidak lagi belajar dalam keadaan perut kosong. Sebuah langkah yang manusiawi, bahkan mulia. Tetapi seperti semua hal yang terlalu mulia untuk tidak dipertanyakan, ia menyimpan ironi yang pelan-pelan menggelitik akal sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita mulai dari angka, dari sekitar Rp760 triliun anggaran pendidikan, antara Rp223 triliun hingga Rp335 triliun dialokasikan untuk program makan bergizi gratis. Artinya, sekitar <strong><span style="font-weight: normal;">30 hingga 45 persen dana pendidikan</span></strong> digunakan untuk memastikan peserta didik tidak lapar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sisanya? Terdengar besar, tapi tunggu dulu, sampai kita sadar bahwa sebagian besar sisanya itu habis untuk gaji, tunjangan, dan mesin birokrasi yang bekerja tanpa banyak bertanya, apakah yang dia gerakkan benar-benar bernama “pendidikan”. Belum lagi angka yang tersisa tersebut juga paling banyak diserap oleh sekolah kedinasan (vokasi) yang sebagian besar bukan dari Kementerian Pendidikan, luar binasa, eh luar biasa!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada titik ini, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membangun sistem pendidikan, atau sekadar sistem distribusi kesejahteraan yang entah untuk siapa, hanya saja kebetulan lewat sekolah?</p>
<p style="text-align: justify;">Satirnya, negara tampak sangat percaya bahwa sebelum seseorang bisa berpikir, ia harus makan. Itu benar. Tetapi negara juga tampak kurang yakin bahwa setelah makan, seseorang benar-benar perlu diajari berpikir. Di sinilah cerita menjadi menarik—atau tragis, tergantung selera.</p>
<p style="text-align: justify;">Di ruang kelas, anak-anak mungkin datang dengan perut kenyang, energi penuh, dan senyum yang lebih lebar. Namun apa yang mereka temui? Kurikulum yang berubah lebih cepat dari musim, guru yang dibebani administrasi, dan ruang belajar yang seringkali lebih sibuk mengejar formalitas daripada membangun nalar. Kita seperti menyajikan makanan bergizi di meja, tetapi lupa bahwa yang duduk di kursi itu bukan hanya tubuh, melainkan juga pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh lagi, jika kita telusuri, anggaran yang benar-benar menyentuh kualitas berpikir—pelatihan guru, riset, inovasi pembelajaran, penguatan literasi—mungkin hanya sekitar <strong><span style="font-weight: normal;">15 hingga 25 persen dari total anggaran pendidikan</span></strong>. Selebihnya adalah biaya untuk memastikan sistem tetap berjalan, bukan memastikan hasilnya bermakna.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata lain, kita tidak kekurangan dana untuk pendidikan. Kita hanya belum sepenuhnya sepakat tentang apa itu pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><i>“Masalah kita bukan kekurangan anggaran pendidikan, melainkan keberanian untuk memastikan bahwa anggaran itu benar-benar digunakan untuk membuat manusia berpikir—bukan sekadar tidak lapar.”</i></p>
<p style="text-align: justify;">Di sinilah satir menemukan rumahnya. Kita seolah-olah sedang mencetak generasi yang sehat, kuat, dan cukup energi untuk beraktivitas—tetapi tidak terlalu didorong untuk bertanya, meragukan, atau membayangkan kemungkinan lain. Generasi yang siap bekerja, tetapi tidak selalu siap berpikir tentang mengapa mereka bekerja, untuk siapa, dan dengan konsekuensi apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu, ini bukan argumen untuk mengurangi makan. Tidak ada bangsa yang bisa berpikir dengan baik dalam keadaan lapar. Namun ada perbedaan besar antara <strong><span style="font-weight: normal;">memberi makan agar orang bisa berpikir</span></strong><b>, </b>dan<b> </b><strong><span style="font-weight: normal;">memberi makan sebagai pengganti berpikir</span></strong>. Yang pertama adalah investasi peradaban; yang kedua, tanpa disadari, bisa menjadi alat penenang sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan di sinilah ironi paling halus bekerja: program makan adalah kebijakan yang cepat terlihat hasilnya, mudah dipahami, dan politis menguntungkan. Sementara pendidikan yang sesungguhnya—yang membangun daya kritis, imajinasi, dan keberanian intelektual—adalah proyek sunyi, lambat, dan seringkali tidak populer. Maka tidak mengherankan jika yang pertama tumbuh pesat, sementara yang kedua berjalan tertatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita terus berada di jalur ini, masa depan mungkin akan diisi oleh warga negara yang tidak lagi kelaparan, tetapi juga tidak terlalu gelisah dengan keadaan. Mereka cukup kenyang untuk tidak marah, cukup sibuk untuk tidak bertanya, dan cukup puas untuk tidak menuntut lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali sudah saatnya kita mengoreksi arah. Karena bangsa yang besar tidak hanya memastikan rakyatnya bisa makan hari ini, tetapi juga memastikan mereka mampu berpikir untuk menentukan apa yang akan dimakan—dan bagaimana cara mendapatkannya—di masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhirnya, bukan apakah kita harus memilih antara makan atau pendidikan. Tetapi jenis bangsa apa yang ingin kita bangun? Jika kita terus mengutamakan perut tanpa memikirkan kepala, kita mungkin akan menjadi bangsa yang ramai, sibuk, dan kenyang—tetapi mudah diarahkan, mudah dipuaskan dengan hal-hal sederhana, dan sulit melampaui batas-batas yang seharusnya bisa kita tembus.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya sederhana, meski jawabannya tidak nyaman: apakah itu tujuan kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya pada berapa banyak anak yang makan siang gratis, tetapi pada berapa banyak dari mereka yang, setelah makan, mampu membaca dunia dengan kritis—dan berani mengubahnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kunjungi Subang, Wakil Ketua ICCN Raffi Ahmad Bawa Harapan Baru bagi Ekraf Lokal</title>
		<link>https://khazminang.id/kunjungi-subang-wakil-ketua-iccn-raffi-ahmad-berjanji-akan-bawa-harapan-baru-bagi-ekraf-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 13:03:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=10074</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazminang.id&#8211;   Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Khazminang.id&#8211; </strong>  Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Raffi Ahmad melakukan kunjungan ke Kabupaten Subang pada (31/1) kemarin dalam rangka agenda &#8220;UKP Mendengar&#8221; titik ke-20.</p>
<p>Dalam siaran pers ICCN yang diterima <strong><em>Khazminang.id</em></strong> (1/2) dijelaskan, kunjungan ini bertujuan untuk mendengar langsung aspirasi dan kebutuhan komunitas ekonomi kreatif (ekraf) di Subang.</p>
<p>Di Subang, Raffi Ahmad bertemu dengan <em>Subang Creative Hub</em>, komunitas, dan pelaku ekraf. Ia akan membantu mengenalkan produk-produk ekraf Subang dan menghubungkannya dengan kementerian atau BUMD-BUMN terkait.</p>
<p>&#8220;Kami ingin memberikan akses dan jalan bagi produk ekraf Subang untuk dikenal secara nasional,&#8221; katanya.</p>
<p>Mewakili komunitas ekraf Kabupaten Subang, Adianto Akbar, Founder Subang Creative Hub menyampaikan aspirasi komunitas ekraf Subang agar bisa dibantu dari mulai produksi hingga promosi.</p>
<p>&#8220;Kami juga meminta bantuan untuk mengembangkan ekosistem ekraf di Subang, mulai dari infrastruktur, promosi, hingga bantuan alat-alat kreatif,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Raffi Ahmad menyambut baik aspirasi tersebut dan akan membantu mewujudkan harapan komunitas ekraf Subang.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan peluang bagi Subang untuk dikenal secara nasional. Dengan platform media yang besar, kami akan membantu mempromosikan produk-produk ekraf Subang dan membuka ruang kolaborasi dengan RANS,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Kunjungan Raffi Ahmad ke Subang ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan ekraf di daerah tersebut. Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan komunitas, Subang dapat menjadi salah satu pusat ekraf yang maju di Indonesia.</p>
<p><strong>TENTANG ICCN </strong></p>
<p>Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan simpul organisasi jejaring lintas komunitas yang menghubungkan kabupaten dan kota kreatif di seluruh Indonesia. ICCN berkomitmen memajukan pembangunan kota kreatif melalui penerapan 10 Prinsip Kota Kreatif, guna mendorong transformasi pembangunan nasional yang inklusif, berkelanjutan, serta berbasis pada kekuatan ide, budaya, dan kolaborasi.</p>
<p>Untuk PJ dan Kerja Sama Media dapat memlaui Robby Direktur Media Komunikasi ICCN dengan nomor kontak 081329229231, atau mengunjungi website<em>: iccn.or.id</em>, dan media sosial <em>@iccnmedia</em> (<strong>*</strong>)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>UMKM Koto Tangah dan Koperasi Merah Putih Siap Berkolaborasi Demi Kemajuan Ekonomi Masyarakat</title>
		<link>https://khazminang.id/umkm-koto-tangah-dan-koperasi-merah-putih-siap-berkolaborasi-demi-kemajuan-ekonomi-masyarakat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Novrizal Sadewa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2026 16:19:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=9847</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazminang.id-&#8211;  Guna kemajuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan penguatan ekonomi kerakyatan di masa yang akan datang diperlukan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Khazminang.id-</strong>&#8211;  Guna kemajuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan penguatan ekonomi kerakyatan di masa yang akan datang diperlukan semangat kebersamaan  antara pelaku UMKM dan koperasi.</p>
<p>Hal itu tercermin dalam kegiatan silaturahmi antara Forum UMKM Kecamatan Koto Tangah, dan Forum UMKM Kota, dan Forum Koperasi Merah Putih Kecamatan Koto Tangah, Jumat (23/1) lalu di Rumah Wirausaha Kota Padang.</p>
<p>Ketua Forum UMKM Kecamatan Koto Tangah, Puji Astuti, kepada <strong><em>Khazminang,id,</em></strong> Minggu (25/1) mengatakan, kegiatan tersebut di hadiri oleh Ketua Forum UMKM Kota Padang  Dean Asli Chaidir, dan Ketua Forum Koperasi Merah Kecamatan Koto Tangah, Petrick Lioner.</p>
<p>Turut dihadiri Tim Pendamping UMKM dan Tim Pendamping Koperasi dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Padang.</p>
<p>Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi, kebersamaan, dan kolaborasi strategis antar pelaku UMKM dan koperasi, guna mendorong kemajuan ekonomi masyarakat di Kecamatan Koto Tangah dan Kota Padang secara luas.</p>
<p>“Kami ingin koperasi dalam hal ini Koperasi Merah Putih dapat berkolaborasi dan berintegrasi dengan UMKM di Koto Tangah guna mendorong kemajuan ekonomi masyarakat di Kecamatan Koto Tangah dan Kota Padang secara luas,” ujar Puji Astuti.</p>
<p>Sinergi program diyakini mampu mempercepat pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan koperasi rakyat. Ketua Forum UMKM Kecamatan Koto Tangah, Puji Astuti, menegaskan pentingnya kekompakan antar pelaku UMKM agar tidak berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>&#8220;Kalau UMKM, koperasi, dan forum bergerak bersama, maka dampaknya akan jauh lebih besar untuk masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dalam diskusi yang berlangsung produktif, para tokoh penggerak ekonomi rakyat tersebut sepakat bahwa UMKM dan koperasi harus menjadi tulang punggung ekonomi lokal, sementara kolaborasi lintas forum merupakan kunci utama dalam menciptakan ekosistem usaha yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.</p>
<p>Sementara itu, Dean Asli Chaidir menyampaikan bahwa kolaborasi lintas kecamatan dan lintas forum merupakan pondasi utama dalam membangun ekonomi daerah yang mandiri dan tangguh.</p>
<p>&#8220;Forum UMKM Kota Padang siap membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi UMKM dan koperasi di kecamatan,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Senada dengan itu, Ketua Forum Koperasi Merah Kecamatan Koto Tangah, Petrick Lioner, menekankan pentingnya integrasi koperasi dan UMKM dalam satu visi besar ekonomi rakyat.</p>
<p>&#8220;Koperasi dan UMKM adalah dua kekuatan besar rakyat.Jika disatukan, maka akan lahir kekuatan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Ditambahkan Petrick, silaturahmi ini menjadi langkah awal menuju sejumlah agenda strategis, di antaranya, perluasan dan penguatan jaringan pemasaran Sinergi pelatihan dan pendampingan usaha Pengembangan ekonomi berbasis komunitas Pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal</p>
<p>“Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan menjadi pondasi awal terbentuknya gerakan bersama dalam membangun ekonomi rakyat yang kuat, mandiri, dan berdaya saing di Kota Padang, khususnya Kecamatan Koto Tangah,” tutup Petrick.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Syailendra, Bos Roti Aceng Bakery yang Sempat Terpuruk dan Akhirnya Nol Kilometer Lagi</title>
		<link>https://khazminang.id/kisah-syailendra-bos-roti-aceng-bakery-yang-sempat-terpuruk-dan-akhirnya-nol-kilometer-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ryan Syair]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 19:51:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=6722</guid>

					<description><![CDATA[H. SYAILENDRA, ialah satu dari sekian banyak pelaku usaha yang membuktikan bahwa tak ada yang mustahil, dan tak ada pula...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><em><strong>H. SYAILENDRA</strong></em><i>, ialah satu dari sekian banyak pelaku usaha yang membuktikan bahwa tak ada yang mustahil, dan tak ada pula yang tak mungkin dalam dunia usaha. Selama berpegang teguh pada keyakinan, melangkah dalam optimisme dan kejujuran</i>, <em>maka niscaya tak akan bersua hasil dan pencapaian yang berkhianat pada prosesnya.</em></p>
<p dir="ltr">&#8220;Dengan memegang teguh prinsip, senantiasa menyerahkan sepenuh asa dan harapan kepada Allah SWT, Insha Allah, tak ada yang tak mungkin,&#8221; ujar H. Syailendra, owner usaha roti &#8220;Aceng Bakery&#8221;, ketika ditemui media ini rumah produksinya di Jl. M. Hatta, Pasar Baru, Kec. Pauh, Kota Padang, Rabu 22 Oktober 2025.</p>
<p dir="ltr">Sepakat kita, bahwa merintis usaha sejak dari mula, memang tidaklah mudah itu perkara. Ada banyak proses dan tahapan yang menyertainya. Kadang mulus dan manis-manis saja, namun tak jarang pula bersua pahit nan berbuah duka. Ada yang jatuh lalu bergegas bangkit. Namun tak sedikit pula yang pada akhirnya memilih mundur dan suka tak suka berkarilaan saja menerima nasibnya.</p>
<figure id="attachment_6724" aria-describedby="caption-attachment-6724" style="width: 948px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-6724" src="https://khazminang.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251023_021431.jpg" alt="" width="948" height="532" /><figcaption id="caption-attachment-6724" class="wp-caption-text"><strong>PROSES</strong> pengolahan roti jelang pengemasan. <strong>RYN</strong></figcaption></figure>
<p dir="ltr">&#8220;Lelah, iya. Putus asa, ada. Namun Insha Allah, saya adalah seorang hamba yang selalu berpegang teguh pada keyakinan, bahwa sebesar dan seberat apapun tantangan, jangan pernah lupa melibatkan Maha Pencipta. Serahkan diri pada-Nya. Yakin, adalah kuncinya,&#8221; ujar Syailendra, mencoba memungut kembali kepingan cerita manakala ia memutuskan untuk membanderol diri sebagai seorang pengusaha.</p>
<p dir="ltr">Tahun 2008, atau genap 17 tahun merangkak membangun usaha dengan segala warna, dinamika, suka pun duka, tentu bukan pula rentang waktu yang singkat, sebelum akhirnya mengantarkan seseorang menggapai puncak sukses, masa emas dan kejayaannya. Ada keluh, kesah, duka, bahkan air mata. Begitulah pula halnya dengan Syailendra.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jujur saja, saya pernah benar-benar sampai di puncak, lalu jatuh, terpuruk dan bahkan nyaris menutup usaha ini. Karena apa? Karena terlilit hutang dan pinjaman di banyak bank, karena didesak oleh tuntutan dan gaya hidup,&#8221; ujar Syailendra, penerima Gold Certificate pada ajang Semen Padang UKM Award tahun 2012 untuk kategori penyerapan tenaga kerja terbanyak itu.</p>
<figure id="attachment_6728" aria-describedby="caption-attachment-6728" style="width: 944px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-6728" src="https://khazminang.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251023_021413.jpg" alt="" width="944" height="523" /><figcaption id="caption-attachment-6728" class="wp-caption-text"><strong>SALAH</strong> satu penghargaan yang diterima Aceng Bakery di ajang Semen Padang UKM Award 2012 (tengah) dan dua sertifikat Halal produk dari instansi terkait. <strong>RYN</strong></figcaption></figure>
<p dir="ltr">Namun, bukanlah seorang Syailendra jika harus mengalah surut dan berlarut-larut dalam marasai dan nestapa. Pantang benar itu baginya. Karena keyakinan Syailendra, jatuh gagal dalam usaha adalah hal biasa dan bukan pula akhir dari segala. &#8220;Dunia belum kiamat, Saudara,&#8221; begitu keteguhan hatinya.</p>
<p dir="ltr">Pasai dirundung malang, lanyah ditikam pahit getir kenyataan, justru membuat ayah dua anak ini kian masak. Ujian demi ujian, justru semakin meneguhkan hatinya untuk menerobos badai, menyongsong gelombang, menjemput hari depan bergelimang cahaya.</p>
<p dir="ltr">Pengalaman, ia jadikan maha guru, tempat ia belajar, tempat akhirnya ia kembali memutuskan untuk melangkah mantap menjemput sukses tertunda, sukses nan dulu sudah pernah ada di genggamannya.</p>
<figure id="attachment_6725" aria-describedby="caption-attachment-6725" style="width: 1037px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-6725" src="https://khazminang.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251023_021248.jpg" alt="" width="1037" height="627" /><figcaption id="caption-attachment-6725" class="wp-caption-text"><strong>SEJUMLAH</strong> karyawan pabrik roti Aceng Bakery tengah mengemas produk sebelum dijemput konsumen. <strong>RYN</strong></figcaption></figure>
<p dir="ltr">Jerat dari segala apa yang membelenggu, diputus. Mesin dan nyala api semangat yang sempat pudur, kembali dinyalakannya. &#8220;Ndak ada hari lagi,&#8221; batinnya dalam keyakinan yang kian menggurita.</p>
<p dir="ltr"><strong>Nol Kilometer Lagi</strong></p>
<p dir="ltr">Awal tahun 2020, adalah babak &#8220;baru&#8221; bagi Syailendra. Tahun itu, sekaligus menjadi awal kebangkitan usaha roti Aceng Bakery, yang sesungguhnya memang telah mendapat tempat di hati masyarakat dan para pelanggan setianya. Tak hanya di Kota Padang sebagai daerah tempat produksinya, melainkan juga di seluruh kabupaten kota di Sumatera Barat.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tekad saya semakin kuat. Dengan Bismillah, saya mulai bergerak dan bangkit kembali. Satu hal yang pasti, 2020 adalah satu titik dalam rentang perjalanan usaha, dimana saya memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan bank. Saya jera,&#8221; ujar Syailendra.</p>
<p dir="ltr">Dulu, 17 tahun yang lalu kenang Syailendra, semua proses dan tahapan produksi dilakukan secara manual mengandalkan tenaga manusia. Mulai dari proses cetak dengan menggunakan tangan, lanjut pada proses pengolahan roti yang dimasak atau dibakar dengan menggunakan tungku, hingga proses packaging yang dikemas langsung menggunakan plastik dengan label merk dari potongan kertas.</p>
<p dir="ltr">Perlahan namun pasti, kapasitas produksi yang awalnya hanya berkisar di angka 7.000 pack perhari, lambat laun meningkat signifikan. Penikmat dan pelanggan Aceng Bakery kian banyak dan tersebar merata hampir di seluruh kabupaten kota. Nafsu duniawi pun mulai menggoda. Syailendra pun seperti tak kuasa mengelak darinya.</p>
<figure id="attachment_6726" aria-describedby="caption-attachment-6726" style="width: 1391px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6726" src="https://khazminang.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251023_021123.jpg" alt="" width="1391" height="833" /><figcaption id="caption-attachment-6726" class="wp-caption-text"><strong>HINGGA</strong> kini, usaha roti Aceng Bakery milik Syailendra, sedikitnya telah mempekerjakan 20 orang karyawan di bagian produksi. <strong>RYN</strong></figcaption></figure>
<p dir="ltr">&#8220;Disinilah petaka itu bermula. Tawaran kredit berdatangan dari banyak bank. Nyaris tak ada yang alfa, saya sikat semua. Berbekal hutang dan pinjaman bank itulah saya lengkapi segala peralatan produksi, berikut mesin-mesin pengolahan roti berteknologi canggih yang mengikuti trend dan kebaruan. Walau sesungguhnya niat saya semata untuk pengembangan usaha, namun akhirnya apa, saya terperangkap juga,&#8221; kenang Syailendra.</p>
<p dir="ltr">Lelaki berkacamata yang diam-diam juga ternyata seorang pemusik ini mengatakan, lewat usaha roti Aceng Bakery, kini dirinya sudah mempekerjakan sedikitnya 20 orang karyawan di bagian produksi. Tidak itu saja, Syailendra kini juga diperkuat oleh 32 orang sales yang bekerja secara freelance, yang membantu memasarkan produknya hingga ke seluruh pelosok Sumbar.</p>
<p dir="ltr">Mengawalinya dengan sedikit tertatih-tatih, karena harus memulai semuanya dari nol kembali, maka sejak memulai babak baru di awal tahun 2020, Aceng Bakery yang mengusung slogan &#8220;Rotinyo Urang Awak&#8221;, hingga kini telah memproduksi di atas 25.000 pack roti dengan aneka varian rasa setiap harinya. Seperti varian cream coklat, roti manis, mentega meses dan srikaya.</p>
<p dir="ltr">Meski sudah termasuk dalam skala besar, namun jumlah produksi sebanyak itu kata Syailendra, diakui belumlah memenuhi permintaan pelanggan secara keseluruhan. Bukan berarti tak mampu meningkatkan kapasitas produksi, namun bagi Syailendra, ini menjadi salah satu bagian dari strategi tata kelola perusahaan, terutama dalam upaya membangun penguatan sistem dan mengantisipasi kebocoran di segala lini usaha.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jadi, produksi kita <em>by order</em>, atau sesuai permintaan saja. Dalam sehari, paling hanya dilebihkan sekitar 2.000 pack saja,&#8221; ujar Syailendra.</p>
<p dir="ltr"><strong>Kualitas dan Cita Rasa</strong></p>
<p dir="ltr">Rasanya, tak susah-susah benar mencari keberadaan roti berlabel Aceng Bakery ini. Di grosir, di kedai-kedai kopi dan di warung-warung rumahan di sepanjang labuh, baik di kawasan perkotaan hingga ke pelosok pedesaan di seluruh daerah di Sumatera Barat, Aceng Bakery menjadi salah satu cemilan ringan yang terbukti paling dinanti-nanti hadirnya.</p>
<p dir="ltr">Cita rasa yang khas dengan tekstur roti yang lembut berpadu aneka varian rasa di dalamnya, sebenar kadam ke untuk kawan mengopi, ngeteh, atau sekadar kudapan ke untuk kawan meota di lepau-lepau, maupun di rumah untuk dinikmati bersama keluarga. Selain kualitas dan cita rasa yang terjaga, harganya yang merakyat juga membuat Aceng Bakery cepat tandasnya.</p>
<figure id="attachment_6727" aria-describedby="caption-attachment-6727" style="width: 804px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6727" src="https://khazminang.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251023_021356.jpg" alt="" width="804" height="471" /><figcaption id="caption-attachment-6727" class="wp-caption-text"><strong>SEORANG</strong> tenaga sales freelance yang juga pelanggan setia Aceng Bakery, tengah memuat untuk selanjutnya dipasarkan ke sejumlah kabupaten kota di Sumbar. <strong>RYN</strong></figcaption></figure>
<p dir="ltr">&#8220;Sakali ngantar itu, sales kasih saya 50 pack biasanya. Kadang tak sampai tiga hari saja, sudah habis itu, Om. Enak sih rotinya,&#8221; kata Mbak Ana, salah seorang pemilik kedai di Komp. Rindang Alam, Koto Lua.</p>
<p dir="ltr">Bagi Syailendra, kualitas dan cita rasa, memang menjadi harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Kepuasan dan kepercayaan konsumen, adalah segala-galanya. Maka tak heran, Aceng Bakery sedikitpun tak pernah redup dan tetap tegar menghadapi ketatnya persaingan pasar. Karena ia telah terlanjur disukai seluruh kalangan.</p>
<p dir="ltr">Di balik semua itu, pengalaman yang telah memberikan Syailendra banyak waktu dan kesempatan untuk memetik hikmah serta pelajaran, membuat ia hari ini menjelma menjadi sosok pribadi yang tenang, tidak ambisius, namun tetap berkarakter sebagai pengusaha yang optimis.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Insha Allah, kita berusaha untuk tidak lagi diburu dan dibayang-bayangi oleh nafsu untuk semata mengejar kuantitas. Namun lebih kepada mencari banyak keberkahan dalam usaha dan ketenangan dalam menjalani hidup. Mudah-mudahan Allah setuju,&#8221; ucap Syailendra mengakhiri. <strong>Ryan Syair</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemenparekraf Perkenalkan Lagi Khazanah Gastronomi Sumatera Barat</title>
		<link>https://khazminang.id/kemenparekraf-perkenalkan-lagi-khazanah-gastronomi-sumatera-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Yanche Edrie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2025 02:31:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[P A R I W A R A]]></category>
		<category><![CDATA[gastronomi sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[pariwsata sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar rancak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=6338</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazanah – Selama lima hari lalu, satu tim Fam Trip dari Kementerian Pariwisata datang ke Sumatera Barat untuk mengenal...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Khazanah</strong> – Selama lima hari lalu, satu tim Fam Trip dari Kementerian Pariwisata datang ke Sumatera Barat untuk mengenal dan memperkenalkan khazanah wisata kuliner dan wusata yang ramah terhadap turis Muslim.</p>
<p>Kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Priwisata, Ni Made Ayu Marthini kepada pers, Sumatera Barat itu adalah kawasan gastronomi dan kawasan wisata yang ramah terhadap wisatawan Muslim. “Jadi perlu diperkenalkan lagi lebih luas melalui kegiatan fam trip ini,” ujar dia.</p>
<p>Selama kegiatan fam trip yang berlangsung sejak 30 September hinggaa 4 Oktober itu para peserta diperkenalkan kepada berbagai kuliner lokal termasuk memperkenalkan cara memasak, mengenali resep, budaya memasaknya, tradisi menikmatinya dan sebagainya.</p>
<p>“Fam trip ini melakukan kegiatan di Padang, Padang Panjang, Pariaman, Bukittinggi, Payakumbuhh, Kabupaten Solok serta mengeksplor Alahan Panjang dan Danau Singkarak sekitarnya,” kata Marthini.</p>
<p>Mantan Ketua Forum Wartawan Pariwisata Sumbar, Gusfen Khairul mengatakan sangat menyambut kegiatan seperti ini. Untuk memajukan pariwisata daerah ini, yang mesti diundang adalah para konten kreator, para wartawan dan media dari luar. “Jadi bukannya kita yang banyak jalan-jalan keluar lalu menulis dan membuat konten tentang negeri orang,” ujar Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Barat ini. <strong>(eko)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Konsep Warung Joyoboyo Aneh dan Menarik Pengunjung</title>
		<link>https://khazminang.id/konsep-warung-joyoboyo-aneh-dan-menarik-pengunjung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iwin SB]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2025 17:27:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=1010</guid>

					<description><![CDATA[Bukittinggi, khazminang.id&#8211; Pengunjung wisatawan dari daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maupun dari mancanegera yang berwisata di Provinsi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Bukittinggi, khazminang.id</b>&#8211; Pengunjung wisatawan dari daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maupun dari mancanegera yang berwisata di Provinsi Sumatera Barat belumlah lengkap jika tidak singgah di Kota Bukittinggi yang dikenal sebagai Kota wisata, Kota sejarah, Kota budaya dan juga kuliner.</p>
<p>Memanfaatkan hal tersebut, Miswan yang akrabnya disapa mas Iwan Joyoboyo seorang pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berasal dari Kota Kediri Provinsi Jawa Timur, Jumat (3/1/2025) di tempat usahanya, menjelaskan, membuka usaha kuliner di Kota wisata Bukittinggi sejak tahun 2017 yang mana terlebih dahulu mempelajari tentang keberadaan kuliner yang menarik dan banyak diminati pengunjung.</p>
<p>Warung Joyoboyo terletak di kawasan Garegeh tidak jauh dari pusat Kota dengan menyajikan makanan spesifik khas Jawa Timur, yaitu Nasi Rawon, Mie Surabaya, Mie Nas, Kwetiau Goreng, Nasi Goreng, Ayam Geprek Kriuk dan untuk minumannya ada dawet dan minuman lainnya. Harga 1 porsi sangat terjangkau pengunjung, yaitu berkisar dari Rp15.000 sampai Rp25.000, menariknya makan di warung Joyoboyo, tambah nasi dan refill es teh gratis, jadi bisa makan sekenyangnya.</p>
<p>Melihat dari dunia usaha cara yang dilakukan mas Iwan menservis pengunjung seperti ini bisa dikatakan rugi, tapi mas Iwan berkeyakinan kepada Allah SWT, kalau orang puas makan di warung Joyoboyo, In syaa Allah banyak atau sedikit rezeki dari Allah pasti ada. Membuat orang senang makan dan minum di warung Joyoboyo tidaklah mudah membayangkannya, tentu mempunyai cara tersendiri, ini kesimpulan mas Iwan.</p>
<p>Kata mas Iwan owner warung Joyoboyo, kapasitas yang tersedia kini di warung Joyoboyo untuk sebanyak 150 orang dan dilihat dari ekonomi kita sekarang ini, pengunjung pelanggan lebih kurang sekitar 300 porsi setiap hari. Untuk inovasi di tahun 2025, In syaa Allah kita mempunyai rencana menambah menu makanan. Target harus naik kelas dalam usaha kuliner.</p>
<p>Warung Joyoboyo dengan hastag “Enak, Puas dan Bersih” membuat pengunjung datang silih berganti untuk makan dan minum, terkait bahan baku untuk dimasak adalah dari kualitas terbaik, seperti beras Solok yang terkenal, cabe dari Sungai Puar dan bumbu masak lainnya juga dari Kota Bukittinggi sekitarnya.</p>
<p>Disampaikannya, selain usaha kuliner makanan tradisional, juga saling berbagi membantu warga masyarakat ekonomi lemah sekitaran warung dengan membagikan makan gratis dan membagi-bagikan makan gratis setiap hari Jumat yang dinamakan “Jumat Berkah,” ucap mas Iwan ayah dari Elin yang kini kuliah di UPI Padang dan Adel siswa SMA Negeri 5 Kota Bukittinggi.</p>
<p>Sementara itu, Shabirin Rachmat Anggota DPRD Kota Bukittinggi, mengatakan warung Joyoboyo konsepnya aneh dan menarik dilihat dari sisi kemanusiaan, orang yang makan dan minum sepuasnya, membayarnya dengan nilai angka-angka rupiah yang ekonomis (terjangkau). Dan juga mempunyai konsep yang sangat mulia, seperti “Jumat Berkah” membagi-bagikan makanan gratis dan ada kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kemanusiaan, ini merupakan sifatnya memberi.</p>
<p>Sifat ini jarang kita lihat bagi pengusaha-pengusaha khususnya di Kota Bukittinggi, tapi di warung Joyoboyo dapat dikatakan “Anda makan sepuasnya, bayar seadanya” konsep ini pas untuk mahasiswa dan golongan ekonomi bawah. Di sekitar warung Joyoboyo ada kampus yang banyak mahasiswanya. Persoalan-persoalan sosial, kiranya ada manusia-manusia yang berhati malaikat, salah satunya seperti mas Iwan ini, kata Shabirin Rachmat.</p>
<p>Terkait beberapa hari lalu adanya festival Joyoboyo di warung ini, mas Iwan sangat besar andilnya. Dari sisi seni maupun yang menyangkut kegiatan-kegiatan sosial, mas Iwan powerfull. Pada festival Joyoboyo itu memperlombakan solo song, puisi dan fashion show, mas Iwan membantu semua kegiatan sampai terakhir. Wal hasil festival Joyoboyo bertabur banyak hadiah yang sangat luar biasa, pungkas Shabirin Rachmat. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
