×

Iklan

KISAH IBU YANG DITELANTARKAN
Kata Cucunya: Kami Sangat Menyesali Nenek Sampai Menderita Begitu

23 Juli 2020 | 22:32:47 WIB Last Updated 2020-07-23T22:32:47+00:00
    Share
iklan
Kata Cucunya: Kami Sangat Menyesali Nenek Sampai Menderita Begitu
Nenek Raena akhirnya berkumpul dengan anak dan cucunya di Padang

Nenek Raena akhirnya berkumpul dengan anak dan cucunya di Padang

 

Pariaman, Khazminang – Kisah nenek Raena yang terlantar di Gunuang Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman jadi buah bibir setelah beredar dari satu grup WA ke grup yang lain. Yang muncul ke permukaan seolah-olah anak dan cucunya sengaja menelantarkan orang tua mereka.

    Disebutkan dalam berita-berita di media sosial, bahwa nenek berusia 80 tahun itu dibiarkan tinggal sendirian di sebuah gubuk, bahkan tiap hari sudah bergelimang kotoran karena ia tidak bisa ke toilet, hanya berbaring di tikar saja.

    Yang miris –seperti dikabarkan di media sosial—anak dari Raena itu adalah seorang Kepala Sekolah, dan orang menyesali kenapa seorang guru tega menelantarkan ibu kandung yang sudah melahirkan dan membesarkannya.

    Tapi apakah persis seperti itu benar kejadiannya?

    Kartini, sang Kepala Sekolah itu memang tidak mau berkomentar atas kabar yang sudah tersiar luas itu. Tetapi untunglah ada cucu dari Raena –anak dari Kartini—yakni Febrian Kartinova mau berkisah tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Ia juga berharap media tidak menjustifikasi keluarganya sedemikian rupa sebagai keluarga yang tak mau merawat ibu. Dan ia minta didengar pula penjelasannya.

    “Yang jelas tidak benar kalau ibu saya –ibu Kartini—menelantarkan orang tua kandungnya sendiri. Ibu ada di Padang, sedang saudara-saudara ibu yang lain ada di kampung itu. Seluruh biaya hidup nenek senantiasa dikirimkan ibu dari Padang,” kata Febrian yang juga seorang guru di Sungai Geringging.

    Ia juga sudah menyampaikan klarifikasi kepada Ketua PGRI Padang Pariaman, karena organisasi para guru itu perlu menanyakan hal sebenarnya karena dalam pemberitaaan yang tertonjol adalah ‘seorang guru menelantarkan orang tua kandungnya’.

    Menurut Febrian, ia baru kemarin bisa menyampaikan klarifikasi kepada Ketua PGRI Padang Pariaman karena beberapa hari ini dirinya fokus untuk membersihkan, merawat dan menyediakan segala sesuatu untuk neneknya yang sudah dibawa ke rumah ibunya di Padang.

    Febrian mewakili ibundanya mengaku mengetahui kondisi neneknya setelah adanya pemberitaan yang viral itu. Sebelumnya, sebagaimana tiap minggu ia dan ibunya berkomunikasi dengan para dunsanak di kampung, selalu diberi kabar bawah nenek Reana baik-baik saja.

    “Bukannya kami tidak ingin membawa nenek Pak, sejak dahulu, waktu almarhum mamak kandung kami, Mak Inggi masih hidup, sudah beberapa kali beliau hendak membawa nenek, begitu juga dengan kami sendiri. Akan tetapi, nenek saat itu tidak mau untuk dibawa, dengan alasan lazimnya orang-orang lanjut usia yakni tidak mau meninggalkan kampung halaman. Namun sejak tiga tahun belakangan, nenek sebenarnya sudah mau dibawa, akan tetapi di tahan oleh sanak famili di kampung yang tinggalnya di samping kiri dan kanan rumah keluarga kami. Pertimbangan dusansanak dikampung, kami semua pasti sibuk bekerja, biarlah mereka yang merawat nenek Raena,” tutur Febrian sambil sesugukan.

    Karena yang meminta adalah dunsanak dekat atau sepupu dari ibu Kartini, maka Kartini dan Febrian beserta saudara-saudaranya mempercayakannya. Namun Febrian dan ibunya tidak berlepas tangan begitu saja. Kartini selalu menanyakan tentang kondisi nenek walau melalui telepon.

    “Ibu dan saya juga di sela sela kesibukan menyempatkan diri ke kampung menemui nenek. Secara rutin ibu dan saya juga menitipkan biaya untuk nenek kepada dunsanak kami di kampung itu, termasuk membantu keuangan para dunsanak itu,” kata Febrian dalam wawancara telepon.

    Tapi entah kenapa, mungkin karena faktor kesibukan atau entah apa, yang terjadi malah nenek Raena menjadi tidak terurus. Sampai ditemukan oleh para relawan Pariaman dalam keadaan nestapa dan akhirnya menjadi berita.

    “Pedih hati kami meliht kondisi nenek seperti itu, kalau tahu akan begini, sudah dari dulu kami bawa pak. Sungguh jauh dari apa yang selama ini kami bayangkan. Seingat saya waktu terakhir ke sana,  kamar nenek terbilang sangat layak, ada tempat tidur besi, ada kasur, ada perlak, ada meja tempat meletakkan makanan, dan lain lain. Tapi sudahlah pak, mungkin ini cara Allah memberitahu kepada kami, dan kami sangat berterimakasih kepada pihak yang memberitakan hal ini, sehingga akhirnya sekarang nenek sudah kami bawa tinggal bersama anak dan cucunya di Komplek Lubuk Intan Lubuk Buaya Padang. Seandainya tidak ada berita ini, maka kami tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi nenek sebenarnya, yang terakhir kami jenguk sekitar 11 bulan yang lalu. Biasanya setiap lebaran kami selalu ke kampung, tapi karena suasana lebaran kali ini berada dalam situasi pandemi, maka kami menahan diri untuk tidak ke kampung pak,” katanya.

    Menyangkut apa yang sudah diberitakan media-media termasuk di media sosial, ketika ditanyakan kepadanya, Febrian mengatakan pasrah saja. Dia menyatakan tidak ingin menyalahkan orang lain atas hal ini, “Kami lebih ingin menyalahkan diri kami sendiri, dan terimakasih atas semua fihak yang telah membantu nenek selama ini. Juga kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan tersebut,” katanya. (syafrial suger)