×

Iklan


Kasus Suap Proyek di Solsel, Saksi Sebut Muzni Zakaria Sering Minta Uang dengan Dalih Pinjaman

08 Juli 2020 | 20:13:22 WIB Last Updated 2020-07-08T20:13:22+00:00
    Share
iklan
Kasus Suap Proyek di Solsel, Saksi Sebut Muzni Zakaria Sering Minta Uang dengan Dalih Pinjaman
Dua saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK ), tengah memberikan keterangan di persidangan.

Padang, Khazminang-- Sidang kelima kasus dugaan suap dari pengusaha terkenal sekaligus bos Dempo Grup, Muhammad Yamin Kahar yang menjerat Bupati Solok Selatan nonaktif, Muzni Zakaria kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Padang, Rabu (8/7).

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menghadirkan dua orang saksi. Kedua saksi yang dihadirkan yaitu Kepala Dinas Pekerjaaan Umum (PU) Kabupaten Solok Selatan, Hanif Rasimon dan Kepala Unit Pengelolaan Barang dan Jasa Sekretariat Kabupaten Solok Selatan, Martin Edi.

Dalam keterangannya, saksi Hanif Rasimon mengatakan, pada tahun 2018, terdapat pembangunan jembatan Ambayan dan Masjid Agung di Solok Selatan. Di mana pembangunan tersebut berasal dari APBD. Tak hanya itu, saksi juga menceritakan, untuk pembangunan jembatan, yang mengerjakannya adalah PT Yaek dan masjid PT Zulaika.

    "Dalam proses pembangunan itu, Bupati Solok Selatan nonaktif  (terdakwa), memberikan saya nomor handphone Wanda yang merupakan anggota dari Muhammad Yamin Kahar (berkas terpisah)," katanya.

    Saksi juga menambahkan, terdakwa pernah meminta saksi untuk  meminjam uang kepada Wanda sebanyak dua kali.

    "Waktu itu saya, diminta oleh terdakwa untuk meminjam uang ke Wanda sebesar Rp25 juta dan Rp100 juta," ucapnya.

    Dijelaskannya, uang yang berjumlah Rp25 juta, diserahkan Wanda di salah satu hotel di Kota Padang.

    "Setelah uang saya terima dari Wanda, selanjutnya saya serahkan ke terdakwa," ujarnya.

    Lebih lanjut saksi juga menyebutkan, terdakwa Muzni Zakaria juga pernah meminjam uang kepada Wanda sebesar Rp100 juta.

    Saksi mengaku, kalau dirinya menerima pesan singkat (SMS) dari terdakwa yang berisi perintah untuk meminjam uang ke Wanda.

    "Yang saya tahu, Rp85 juta untuk istri terdakwa, yang Rp60 juta untuk protokoler, sisanya untuk sumbangan golf dan makan-makan," tandasnya.

    Saksi juga menuturkan, terdakwa selalu meminta uang dengan dalih pinjaman.

    "Kalau bupati minta uang, selalu berdalih pinjaman. Namun tidak pernah dikembalikan. Tetapi yang pinjaman Rp100 juta, pernah saya tagih ke terdakwa. Namun terdakwa akan menjual tanahnya, karena belum cocok harganya, sehingga pinjaman yang jumlahnya besar tak dapat dipulangkan," imbuhnya.

    Saksi yang saat itu memberikan keterangan dengan kursi roda ini, mengaku pengerjaan di dua proyek tersebut belum selesai.

    "Untuk yang pembagunan masjid 20 persen, dengan anggaran Rp5,3 miliar dan jembatan 80 persen dengan anggaran Rp14 miliar," tandasnya.

    Sementara itu, saksi Martin Nedi menyebutkan, dirinya pernah bertemu dengan Wanda sebanyak dua kali.

    "Pertama, di Solok Selatan. Waktu itu ia menemui saya, dan saya tidak tahu kalau Wanda anggota dari Muhammad Yamin Kahar. Tahu sewaktu adanya kasus ini, dan pertemuan kedua sewaktu di Semarang, karena melihat barang-barang dalam proyek pembangunan," pungkasnya.

    Ia mengaku dalam pengerjaan dua proyek tersebut, dirinya mendapat uang.

    "Ya dapat uang, sebagai tanda ucapan terima kasih. Ada yang Rp7 juta dan ada Rp20 juta," sebutnya.

    Dalam sidang tersebut, terdakwa yang didampingi Penasihat Hukum (PH) Elza Sarief bersama tim, meminta izin untuk minum air.

    "Izin majelis, terdakwa mau minum," ujar PH terdakwa.

    Dalam persidangan tersebut, JPU dan PH terdakwa memperlihatkan barang bukti kepada saksi.

    Sidang yang berlangsung di ruang Cakra ini, memakan waktu selama lima jam. Dari dalam ruangan, terlihat sidang itu juga mendapat pengawalan dari pihak kepolisian, Kejaksaan Negeri Padang dan KPK.

    Sidang yang dipimpin oleh Yose Rizal beranggotakan M.Takdir dan Zaleka, memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan. Dalam persidangan yang diagendakan pekan depan, JPU KPK akan menghadirkan saksi.

    "Masih ada saksi majelis," ujar JPU, Rikhi BM bersama tim.

    Sebelumnya, dalam dakwaan JPU dijelaskan, terdakwa Muzni Zakaria, didakwa JPU KPK menerima uang dan barang yang secara keseluruhannya Rp375.000.000.00,- pemberian tersebut, terkait dengan  pembangunan masjid Agung dan Jembatan Ambayan di Kabupaten Selatan tahun anggaran 2018 kepada M.Yamin Kahar.

    Kasus tersebut bermula, pada bulan Januari tahun 2018 terdakwa Muzni Zakaria, mendatangi rumah M.Yamin Kahar (berkas terpisah), yang merupakan bos PT. Dempo Grub, di Lubuk Gading Permai V,  jalan Adi Negoro, Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.

    Dalam pertemuan tersebut, terdakwa menawarkan paket pengerjaan kepada M.Yamin Kahar dengan pagu anggaran Rp55 miliar, dan M.Yamin Kahar menyanggupi. Proyek pengerjaan melalui sistem lelang. 

    Namun proyek tersebut,tidak dikerjakan oleh PT. Dempo, tapi dikerjakan oleh perusahaan lain, karna PT.Dempo mencari perusahan lain.

    Terdakwa Muzni Zakaria memerintah Kepala PU, untuk meminta uang kepada orang kepercayaan M.Yamin Kahar, yang bernama Suhand Dana Peribadi alias Wanda, dan menstransfer uang sebesar Rp100 juta, kerekening Nasrijal.

    Selain itu, terdakwa pun juga kembali menerima uang dari M.Yamin Kahar, dengan rincian Rp2 miliar, Rp1 miliar,Rp200 juta. Uang yang diterimanya dilakukan secara bertahap dan uang tersebut digunakan untuk rumah di Jakarta. Tak hanya itu, terdakwa meminta kepada M.Yamin Kahar utuk dibelikan karpet masjid, di toko karpet, jalan Hiligo, Kota Padang, senilai Rp50 juta. (Murdiansyah Eko)