×

Iklan


Kadisperindag Sumbar Ajak Warga tak Gunakan Kantong Plastik Saat Belanja

06 Juli 2024 | 19:00:37 WIB Last Updated 2024-07-06T19:00:37+00:00
    Share
iklan
Kadisperindag Sumbar Ajak Warga tak Gunakan Kantong Plastik Saat Belanja
Mari kurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja (dok : liputan6.com)

Padang, Khazanah – Sampah plastik di seluruh dunia kini akan dianggap sebagai common enemy atau musuh bersama lantaran dampak buruknya tehadap lingkungan dan kehidupan, Karena itu tiap tanggal 3 Juli, dunia memperingati ‘Hari tana Kantong Plastik sedunia’ atau  International Plastic Bag Free Day.

Dilansir oleh laman wecare.id, disebutkan bahwa sampah plastik merupakan salah satu pencemar lingkungan baik di darat maupun laut. Ia adalah bahan atau zat yang sulit diurai. Ratusan tahun baru bisa diurai secara alami.

Masalahnya rata-rata orang Indonesia masih doyan dengan plastik. Belanja apa sja pasti menggunakan kantong plastik sebagai pembungkus. Belum lagi sejumlah besar kemasan dibuat dari plastik.

    Di negara-negara Eropa penggunaan bahan plastik mencapai 60kg/orang/tahun. Amerika Serikat bahkan lebih tinggi lagi, penggunaan bahan plastiknya mencapai 80kg/orang/tahun. Namun di India jumlahnya hanya 2kg/orang/tahun.

    Di Indonesia? Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total sampah nasional di tahun 2021 mencapai 68,5 juta ton. 17% (sekitar 11,6 juta ton) dari jumlah tersebut disumbang oleh sampah plastik. Terjadi peningkatan jumlah dari tahun 2010 yang sebelumnyahanya 11%.

    Di tahun 2022, jumlah sampah nasional kembali naik menjadi 70 juta ton. Sampah yang belum dikelola oleh Ditjen PSLB3 (Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya) hingga saat ini sekitar 24% atau 16 juta ton.

    Menurut catatan, dari 69% sampah yang masuk ke TPA hanya 7% yang terdaur ulang. Jika dibandingkan dengan sampah yang sudah diolah di negara Malaysia serta Singapura, Indonesia masih tertinggal jauh. Jumlah yang masih belum terkelola baik mencapai 16 juta ton.

    Tahun lalu dalam  siaran persnya, Plastic Management Index atau Index Pengelolaan Plastik merilis data yang menyebutkan bahwa dibandingkan 25 negara lain, seperti Vietnam, Thailand, serta Malaysia , Indonesia masih kalah dalam hal pengelolaan. 

    Sementara itu, negara yang menduduki 10 terbesar untuk pengolahan sampah plastik diduduki oleh Jepang, Australia, serta Tiongkok. Pengukuran Indeks Pengelolaan Plastik (PMI) ini menggunakan tiga pilar, yakni sistem pemerintahan, kemudian kapasitas pengelolaan tersistem yang ada, serta keterlibatan pemangku kepentingan. 

    Sementara Tiongkok, yang sempat disorot karena dianggap sebagai produsen sampah plastik, sekarang ini sedang melakukan pengembangan kapasitas untuk mengelola plastik. Namun Tiongkok tertinggal dalam hal keterlibatan pemangku kepentingan.

    Masih dikutip daril laman wecare.id, data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) serta Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa sampah plastik di Indonesia jumlahnya mencapai 64 juta ton/tahun. 3,2 juta ton dari sampah tersebut adalah sampah yang dibuang ke laut.

    Dalam hal pencemaran di laut, Indonesia menjadi penghasil sampah plastik laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok. Negara tirai bambu tersebut menghasilkan 262,9 juta ton sampah sampah di laut. Ini tentu saja membuat Presiden Jokowi Geram. 

    Sementara itu, Indonesia menghasilkan 187,2 juta ton, yang kemudian disusul oleh Filipina sebanyak 83,4 juta ton, Vietnam 55,9 juta ton, serta Sri Lanka sebesar 14,6 juta ton. Dari hasil penelitian UC Davis dan Universitas Hasanuddin di pasar Paotere Makassar memperlihatkan kandungan plastik di dalam 23% perut ikan yang menjadi sampel.

    Berbagai upaya terus diusahakan untuk mengurangi jumlah sampah plastik di antaranya dengan dikeluarkannya larangan penggunaan plastik sekali pakai. Menurut beberapa pihak strategi ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk memenuhi amanat Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 mengenai Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. 

    Amanat peraturan ini bagi pemerintah daerah adalah untuk mengurangi sampah minimal sampai 30% serta meningkatkan pengelolaan sampah sekurang-kurangnya 70% di tahun 2025. Mengutip laman situs web Jakarta.go.id, Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK menyampaikan mengenai pendekatan pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pemerintah. 

    Pendekatan tersebut, yaitu minim sampah ataupun eco-living, ekonomi sirkular, dan layanan dan teknologi. Pemerintah mengharapkan peran dari wirausahawan sosial untuk persoalan sampah ini, termasuk sampah plastik hal ini karena mereka mampu mengelola sampah dengan baik dan

    Di Padang, seruan agar masyarakat yang belanja di pasar maupun supermarket tidak lagi menggunakan kantong plastik, datang dai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat, Novrial.

    Seperti dia imbau di laman rri.co.id, Novrial yang akrab disapa Uncu ini  mendorong pengusaha ritel dan pedagang pasar tradisional ikut mengurangi sampah plastik dengan cara menerapkan program kantong berbayar. 

    Kata Novrial, penerapan program kantong berbayar ini memang telah dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa tahun lalu. Bahkan saat ini di negara maju seperti eropa dan terdekat Singapura tidak ada lagi yang menggunakan kantong plastik sekali pakai.

    "Kami menilai penerapan program yang telah dilakukan KLHK saat ini mesti dipertegas kembali, terutama di wilayah Sumbar dengan kembali mensosialisasikan kepada ritel dan pedagangan pasar tradisional. Dengan penerapan kantong berbayar berdampak kepada pengurangan limbah plastik yang mengganggu lingkungan," kata Uncu Novrial.

    Novrial mengungkapkan, penerapan program ini juga dapat dilakukan para ritel dan pedagangan pasar tradisional dengan memberitahukan melalui spanduk untuk sosialisasi kepada masyarakat. Kemudian, juga dapat menerapkan penambahan harga kantong saat pembayaran namun terlebih dahulu minta kesepakatan dari konsumen.

    Banyak harapan terhadap upaya penurunan angka produksi sampah plastik di tanah air. Berbagai gerakan dilakukan oleh masyarakat. Misalnya di Jakarta oleh NGO’s yang berkonsentrasi paa lingkungan hidup seperti Dietplastik Indonesia. Dietplastik Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada advokasi kebijakan pengurangan sampah plastik sekali pakai di Indonesia. Dietplastik Indonesia berhasil mendorong lebih dari 100 daerah untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai setelah menginisiasi uji coba “Kantong Plastik Tidak Gratis” pada tahun 2016 bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Dietplastik Indonesia bekerjasama dengan para pemangku kepentingan seperti pemerintah, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat dalam menjalankan upaya pengurangan sampah yang solutif dan berdampak. Program unggulan yang dilakukan Dietplastik Indonesia terkait pengurangan sampah antara lain Pasar Bebas Plastik dan Gerakan Guna Ulang Jakarta. (eko/dari berbagai sumber)