×

Iklan

CERITA DARI SERAMBI MEKAH
Jembatan Besi Padang Panjang, Jalannya Pendek Sejarahnya Panjang

22 Agu 2020 | 11:10:37 WIB Last Updated 2020-08-22T11:10:37+00:00
    Share
iklan
Jembatan Besi Padang Panjang, Jalannya Pendek Sejarahnya Panjang
Jalan Jembatan Besi Padang Panjang

Catatan: DR. INDRA UTAMA

(Pensyarah di Fakulti Seni Gunaan dan Kreatif, Universiti Malaysia Sarawak)

 

    Ada sepotong jalan yang cukup terkenal di Padang Panjang, namanya Jalan Jembatan Besi. Jalan itu tidak panjang, kurang dari 1 Km, tetapi ia memiliki sejarah yang panjang. Meskipun namanya sudah ditetapkan oleh pemerintah menjadi Jl. Rahmah EL Yunusiah, tapi orang Padang Panjang tetap saja menyebutnya Jl. Jembatan Besi ataukadang disingkat menjadi ‘Jembes’.

    Pada mulanya di tempat itu hanya ada jembatan kayu yang pakai atap. Kemudian diganti dengan jembatan yang terbuat dari besi. Kononnya, itulah jembatan pertama yang terbuat dari besi di Padang Panjang yang kemudian daerah tersebut dikenal dengan nama daerah Jembatan Besi. Tidak jauh dari jembatan besi itu ada surau yang aktif melaksanakan pengajian-pengajian secara terjadwal. Surau tersebut kemudian dikenal pula dengan nama Surau Jembatan Besi.

    Menurut Muhammad Ilham (dalam Ilham Cluster, 24 Mei 2010) daerah Jembatan Besi sudah dikenal sejak awal abad ke-19 dengan keberadaan Surau Jembatan Besi yang sekarang menjadi Mesjid Zuama. Surau Jembatan Besi dulunya sangat dikenal karena melahirkan ulama-ulama terkemuka pada masanya. Jauh sebelum tahun 1900, pengajian di Surau Jembatan Besi sudah dilaksanakan di bawah asuhan Syekh Abdullah. Seterusnya surau tersebut berkembang menjadi pusat pertumbuhan ulama dan zuama Islam terkemuka yang bertebaran di seluruh Indonesia.

    Nama-nama ulama terkemuka seperti Syekh Daud Rasjidi (ayahanda dari HMD Datuak Palimo Kayo), Syekh Abdul Latief Rasjidi (ayahanda dari H. Mukhtar Luthfi), dan Syekh Abdul Karim Amarullah yang dikenal dengan panggilan Inyiek Rasul (ayahanda buya HAMKA) pernah memimpin pengajian di Surau Jembatan Besi ini.

    Saya sangat familiar dengan suasana daerah Jembatan Besi. Sebab, selama lebih dari 10 tahun pada era tahun 70-an pernah menetap di daerah itu. Sebagai bahagian dari masyarakat Jembatan Besi saya memiliki nostalgia yang tidak pernah dapat dilupakan sampai kapanpun.

    Pada masa tahun 70-an itu ruang bermain anak-anak di sepanjang jalan Jembatan Besi sungguh sangat mempesona. Berbagai permainan anak-anak pada masa itu lengkap kami lakukan. Hampir setiap sore sampai menjelang magrib, jalan Jembatan Besi selalu ramai dengan anak-anak yang bermain.

    Pada bulan puasa selalu pula diramaikan dengan jualan kuliner murah di sekitar pintu jalan ke Mesjid Zuama. Ada yang jualan karupuak kuah balado, mentimun kuah balado, dan kembang api. Kebetulan teras rumah saya berada di samping pintu masuk masjid Zuama. Di situlah proses jual beli kuliner itu terjadi. Sangat riuh dan menghebohkan.

    Biasanya, pada setiap bulan puasa itu keramaian akan bertambah heboh denga letusan meriam batuang. Pada bulan puasa itu, Mesjid Jembatan Besi menjadi pilihan utama masyarakat Padang Panjang untuk melaksanakan shalat tarawih. Sebab, para buya dan ustadz yang memberi pengajian umumnya para ulama terkenal yang sengaja didatangkan dari luar Kota Padang Panjang.

    Suasana kehidupan masyarakat Jembatan Besi pun terasa sangat kompak. Ada nilai persatuan yang kuat di tengah kehidupan masyarakat meskipun pada masa itu belum terdengar adanya pengurusan kehidupan bermasyarakat seperti RT/RW. Bilamana ada satu keluarga yang mendapat kemalangan, maka secara langsung masyarakat yang lain merasa terpanggil untuk membantu.

    Sampai saat ini, saya masih berhubungan dengan kawan-kawan sepermainan yang masih hidup. Umumnya mereka sudah tersebar di berbagai daerah, merantau ke kota-kota besar, dan ada juga yang menetap di luar negeri. Tetapi, melalui aplikasi WhatsApp kami dipertemukan dalam suasana hati yang terjaga sama seperti dulu.

    Kamipun sudah membentuk grup dengan nama JEMBES TAKANA JUO. Anggota group ini terdiri dari berbagai tingkatan umur seperti yang kami kenal sejak lama. Namun komunikasi yang dilakukan hampir tidak berubah seperti ketika kami berada di Jembatan Besi dulu. Etika dan sopan santun berkomunikasinya sama dan terjaga, menyebabkan nostalgia semasa di Jembatan Besi kekal berada di dalam hati dan alam pikiran kami.

    Masyarakat Jembatan Besi yang saya kenal banyak berprofesi dalam bidang jasa dan perdagangan. Mereka umumnya berdagang di pasar Padang Panjang dan ada juga yang bergiat dalam bidang transportasi umum. Di daerah Jembatan Besi itu pernah ada kilang minyak kelapa yang diusahakan oleh keluarga MT. Bahkan di tempat itu juga pernah ada pabrik limun.

    Tidak jauh dari jembatan besi ada juga yang jualan pisang goreng setiap sore. Jangan lupa, di sebelah jembatan ada lapau Tek-Dar yang menjual katupek pada pagi hari. Di samping lapau Tek-Dar ada Mak-Etek yang berprofesi sebagai penjahit baju. Umumnya baju baru anak-anak Jembatan Besi untuk hari raya dijahit di situ.

    Sekarang, Jembatan Besi nampak tidak senyaman dulu lagi. Suasana kehidupan masyarakatnya terasa tidak sesemarak dulu. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain bebas di sepanjang jalan jembatan besi. Sebab, kendaraan sudah terlalu banyak berseliweran di sana, terlebih sepeda motor. Di kiri kanan jalan banyak diparkir mobil kepunyaan penduduk tempatan. Lampu jalanan pun kelihatannya sudah buram, cahayanya tidak kuat untuk menerangi jalanan.

    Saya pernah berfikir yang muncul dari berbagai pengalaman saya pergi ke berbagai daerah dan luar negeri. Bolehlah dikatakan juga sebagai mimpi. Mimpi saya itu adalah tentang bagaimana menjadikan sepanjang jalan Jembatan Besi menjadi daerah wisata kuliner malam hari. Di sepanjang jalan itu, khusus untuk malam hari, tidak ada lagi kendaraan yang lewat. Orang hanya berjalan kaki mencari makanan enak dan duduk santai di tenda-tenda kedai kuliner atau teras-teras rumah yang disediakan seperti kafe. Keadaannya kira-kira sama lah dengan Jalan Petaling di Kuala Lumpur yang pada mulanya juga merupakan tempat pemukiman penduduk. Namun sekarang jalan Petaling sudah menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi karena di sana banyak terdapat tempat perniagaan souvenir dan makanan.

    Untuk mewujudkan mimpi itu, memang harus dimulai dari pemikiran secara bersama, baik dari masyarakat setempat maupun dan perantaunya, tentunya juga pemerintah Kota Padang Panjang. Masyarakat di sepanjang jalan Jembatan Besi dapat menjadikan teras rumahnya untuk tempat makan dan minum ala kafe. Pemerintah Kota Padang Panjang pun melalui Dinas Pariwisatanya dapat pula memberi konsultasi dan fasilitas yang mendukung, katakanlah misalnya melalui pembinaan kelompok-kelompok musik akustik yang dapat tampil menghibur para pembeli. Lampu-lampu warna-warni di sepanjang jalan Jembatan Besi dapat pula dipasang di setiap kafe sehingga menambah menariknya suasana malam di Jembatan Besi.

    Mungkin, dalam perjalanan waktu yang panjang, daerah Jembatan Besi akan wujud menjadi tempat tujuan wisata kuliner malam yang mempesona. Ada penginapan murah dan juga ada masjid untuk melaksanakan ibadah. Ada banyak pilihan makanan halal yang hangat, membuat kehidupan penuh bersemangat. Bagaimana Padang Panjang, adakah berselera untuk mewujudkannya? Salam dari Malaysia.