×

Iklan

MASJID RAYA LUBUK SIKARAH
Jejak Syech Kukut di Masjid Tertua di Kota Solok

05 Agustus 2021 | 16:26:14 WIB Last Updated 2021-08-05T16:26:14+00:00
    Share
iklan
Jejak Syech Kukut di Masjid Tertua di Kota Solok

SOLOK-- Masjid Raya Lubuk Sikarah di Jalan Lubuk Sikarah, Kelurahan Sinapa Piliang, Kota Solok merupakan masjid tertua di Kota Solok. Dalam catatan resmi Pemko Solok, masjid ini dibangun pada tahun 1902. Memiliki luas 390 meter persegi dan mampu menampung sekitar 500 orang jamaah. Setiap hari, masjid ini dipenuhi oleh sekitar 100-150 orang jamaah. 

Di bagian depan ruangan, terdapat mihrab yang memiliki tahun 1908. Sementara, di bagian tengah masjid terdapat tiang utama yang biasa disebut juga "tonggak tuo", yang terbuat dari kayu. Uniknya, pada bagian atas tiang utama ini terdapat sebuah batu yang diberi nama batu Syech Kukut. Batu ini tercatat sebagai cagar budaya. Nama Syech Kukut diabadikan oleh Pemko Solok sebagai nama Taman Kota dan nama sebuah jalan di Kota Solok. 

Syech Kukut

    Syech Kukut dikenal dengan banyak nama dengan beragam kisah yang menyertainya. Ulama tersebut memiliki nama asli Ahmad Sidik dengan gelar Junjungan Sati. Nama Syech Kukut didapat setelah dirinya diyakini mampu menggaruk sebuah batu hingga berbekas seperti cakaran (kukut). 

    Syech Kukut merupakan salah satu alim ulama yang menyebarkan agama Islam di daerah Kanagarian Solok (Kota Solok) dan Selayo. Beliau menyebarkan agama Islam dibantu oleh istrinya yang bernama Ranggo Jali dengan gelar Niniak Rubiah. Selain menyebarkan agama Islam, beliau juga memajukan Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, dengan bertani dan membuat pengairan untuk mengairi sawah-sawah para petani. Menurut masyarakat setempat, Syech Junjungan dimakamkan bersamaan dengan istrinya karena mereka meninggal bersamaan, sehingga mereka berdua diletakkan dalam satu liang lahat.

    Makam Syech Junjungan Sati terletak di Jorong Koto Tingga, Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok. Saat ini makam tersebut sudah diperbaharui dengan ukuran 4x3 m. Makam itu dihiasi kelambu dengan bangunan yang terbuat dari semen. Nisan makam berjumlah dua buah, yang terletak masing-masing satu di sisi utara dan satunya lagi di sisi selatan. Nisan ini berbahan batu andesit. Makam Syech Junjungan Sati tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 02/BCB-TB/A/15/2007.

    Awalnya, Syech Junjungan Sati sebelum datang ke Sirukam beliau menetap di Lubuk Sikarah Kota Solok. Di sana, beliau bertemu dengan seorang perempuan bernama Rubiah. Setelah pernikahan, keduanya baru sama-sama tahu pasangannya memiliki pengetahuan tentang ilmu agama Islam.  

    Setelah beberapa hari menikah, Niniak Rubiah bertanya kepada sang suami dimana mereka akan melaksanakan shalat. Maka, sekitar tahun 1519 timbul keinginan Syech Junjungan Sati untuk membuat sebuah masjid, yang kemudian diberi nama "Masjid Lubak Sikarah", yang dijuluki sebagai "Musajik Batonggak Tareh Jilatang, Nan Batabuah Silaguri, Nan Bagatang Jo Jangek Pari. Selama pasangan ini tinggal di Lubuak Sikarah banyak masyarakat sekitar yang memeluk Islam hingga pandai mengaji.

    Seiring berjalannya waktu, Syech Junjungan Sati dan Niniak Rubiah berniat untuk mencari tempat tinggal yang baru dengan menyusuri jalan ke arah Nagari Bukit Tandang, Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok. Keduanya sempat menetap selama satu hari, namun lokasi yang sesuai dengan keinginan untuk tempat tinggal belum dirasa cocok.

    Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan mendaki bukit yang lebih tinggi dengan bertongkat bambu. Ketika telah sampai di atas bukit, lalu beliau tancapkan tongkat bambu tersebut dan di sanalah beliau beristirahat untuk melepas lelah. 

    Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai di wilayah Aua Sijapuak Nagari Sirukam. Akhirnya, Syech Junjungan Sati bersama Niniak Rubiah membangun rumah tiang sembilan ipuah. Seiring berjalannya waktu, untuk mendukung pertanian masyarakat, Syech Junjungan Sati kemudian membuat bandar (jaringan irigasi) yang dimulai pada tahun 1525. Kemudian membuat waduk di hulu bandar yang diperkirakan baru siap pada tahun 1528. 

    Selain mengairi sawah, dalam pembuatan jaringan irigasi itu, mereka juga menemukan emas. Sejak itulah kehidupan masyarakat sekitar menjadi makmur. Karena kemakmuran penduduk itulah, maka keluar pepatah yang menjadi pembicaraan orang: "Bak bagandang ka Sirukam, Paruik Kanyang Ameh pun Buliah". (Rijal Islamy)