×

Iklan

OBSESI SPIRIT ENTREPRENEUR
Jangan Jadi Karyawan Setelah Wisuda

25 Oktober 2021 | 21:44:09 WIB Last Updated 2021-10-25T21:44:09+00:00
    Share
iklan
Jangan Jadi Karyawan Setelah Wisuda

KhazMinang.Id, Padang – Saat ini banyak mahasiswa memilih menjadi pegawai atau karyawan setelah diwisuda ketimbang jadi entrepreneur (pengusaha). Padahal ketika kuliah dulu ia telah merintis bisnis secara baik dan bahkan bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

Kenapa bisa begitu? Coach Hasbi, seorang inspirator dari Yayasan Hasbi Parenting Insttitute mengupasnya dalam sebuah acara di Radio ARBES FM yang diberi judul Obsesi atau Obrolan Seputas Inspirasi Senin sore (25/10/2021). Menurut Hasbi, pandemi jadi salah satu kendala bagi wirausaha muda untuk membuka bisnis setelah tamat kuliah.

“Ketika kuliah dulu, usahanya bagus, dikasih modal usaha oleh pemerintah lewat program kewiraushaan mahasiswa, namun setelah diwisuda kebanyakan mereka mencari aman disaat ekonomi sulit seperti sekarang ini dengan menjadi karyawan. Ini sebuah fenomena yang terjadi dikalangan pebisnis muda “, jelas Hasbi

    Namun ternyata itu tidak berlaku bagi Afdal Frima Putra, seorang pebisnis muda CEO Kulimin (Kuliner Minang) lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas yang mencoba melawan arus dengan tetap mengembangkan usaha yang ia rintis sejak masih kuliah. Melihat peluang yang ada di kalangan amai-amai di Bukittinggi ia mampu menghidupkan banyak UMKM yang hampir tenggelam ditelan pandemi.

    Salah satunya, ia membeli keripik balado yang dijual oleh amai-amai di pasar Bukittinggi dan mengemasnya dalam bentuk bungkus kecil yang bisa dimakan kapan saja.

    “Kita sebagai orang minang malah jarang makan yang namanya Keripik Balado, kebanyak hanya dibeli untuk ole-oleh, kenapa? Karena ukurannya besar dan tidak bisa dijadikan cemilan. Nah saya manfaatkan ini untuk menjadi cemilan dengan harga terjangkau, dan ternyata banyak yang beli untuk dijadikan cemilan sambil duduk dan tambahan untuk makan nasi”, ucap Afdal dalam perbincangan Obsesi yang dipandu Iji d’overtune di Radio ARBES FM.

    Lebih lanjut Afdal menjelaskan, ia pun melihat peluang lain, ibu-ibu penjahit yang susah memasarkan dagangannya. Afdal membelinya dan mengemasnya dalam bungkusan mewah, sehingga hagra produk jahitan amai-amai tersebut laku menjadi souvenir dan oleh-oleh khas Bukittinggi.

    Pengalaman berbisnis dan memanfaatkan peluang ini perlu dicontoh oleh generasi muda yang baru saja menamatkan kuliahnya, sehingga tidak memilih menjadi karyawan.

    “Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan bisnis baru, seperti yang dilakukan oleh Afdal dan tim nya, bahkan hasilnya sangat menggiurkan”, lanjut Hasbi    

    Sementara pemerintah menargetkan rasio wirausaha mencapai 3,9 persen tahun 2024. Rasio ini jauh lebih rendah dari beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Thailan menargetkan 8,7 persen dan Malaysia 4,7 persen. Bagaimana cara mencapai ini? Tentu saja dengan meningkatkan produktifitas dan kualitas sumber daya manusia.

    “Ini menjadi PR kita bersama untuk bisa menumbuhkan semangat wirausaha bagi kalangan muda, terutama di Sumatera Barat”, tambah Hasbi yang juga dosen pengajar di Politeknik Negeri Padang

    Acara Obsesi yang digelar setiap Senin, pukul 17.00 Wib dan siaran ulangnya Sabtu, pukul 20.00 Wib di Radio ARBES FM ini sangat diminati oleh pendengarnya terutama generasi muda. (jj)