×

Iklan


Islamophobia Berjangkit, Muslim Australia Cemas ke Masjid

13 Apr 2021 | 15:06:57 WIB Last Updated 2021-04-13T15:06:57+00:00
    Share
iklan
Islamophobia Berjangkit, Muslim Australia Cemas ke Masjid
Grafiti berbentuk lambang swastika di pagar masjid Holland Park Australia

Brisbane, Khazminang.id – Sama dengan di Indonesia, puasa dimulai Selasa ini. Di Australia juga demikian, Dewan Imam Nasional Australia mengumumkan bahwa Ramadhan tahun ini  dimulai Selasa (13/4) dan salat tarawih dimulai Senin malam tadi.

Muslim Australia menyambutnya (Ramadhan-red) dengan suka-cita bercampur rasa was-was terhadap ancaman keamanan masjid maupun jamaah. Terutama kekhawatiran atas kemungkinan munculnya serangan terhadap masjid di tengah maraknya Islam-phobia.

Di Australia banyak pengalaman menunjukkan tak henti-hentinya serangan terhadap masjid. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Charles Sturt menyebutkan bahwa mereka meneliti sekitar 75 masjid di Australia. Dan ternyata, lebih dari separuhnya pernah diserang antara tahun 2014 hingga 2019.

    Serangan itu, menurut penelitian tersebut beragam bentuk. Mulai dari ancaman melalui surat-surat kaleng, menyerang jamaah secara fisik, pembakaran, mencorat-coret dinding masjid dengan kata-kata kotor, pelecehan, vandalisme dan sebagainya.

    Peneliti dan akademisi di Center for Islamic Studies and Civilization (CISC) dari Universitas Charles Sturt University, Dr Derya Iner mengatakan bahwa banyak Muslim Australia berhati-hati pergi ke masjid sekarang ini.

    Dr Derya mengelola situs web 'Islamophobia Register Australia',  yang mencatat setiap laporan serangan terhadap umat Islam di Australia. Menurutnya, kini Muslim Australia menjadikan rencana ke masjid sebagai rencana cadangan saja, karena khawatir tadi, apalagi setelah kejadi tragis di masjid Christchurch di Selandia Baru beberapa waktu lalu.

    Pada awal Ramadhan ini masjid-masjid memang menggelar shalat tarawih tapi tetap dengan penuh kehati-hatianm baik takmir maupun jamaah.

    Andi Rosihan Anwar, seorang pengurus  Masjid Westall, salah satu dari masjid yang dikelola masyarakat Indonesia di bagian negara bagian Victoria, mengatakan akan tetap menggelar tarawih sampai Ramadhan berakhir.

    Seperti dikutip dari ABC News, lelaki itu menjelaskan dinding luar Masjid Westall memang pernah dicoreti grafiti, namun hal itu bukan serangan kebencian.

    "Itu hanya grafitti biasa, kerumitan banyak kita temui pada dinding-dinding yang kosong di kawasan pertokoan," kata dia.

    Tapi beda dengan Ali Kadri, takmir  Masjid Holland Park di Brisbane. Ia justru amat khawatir dengan serangan kaum rasialis terhadap masjidnya. Masjid Holland Park adalah salah satu masjid tertua di Australia.

    Ia mengaku bahwa jamaah masjidnya acap mendapat serangan penghinaan dari kaum rasis yang berteriak dari mobil mereka yang lalu-lalang di sisi masjid.

    Dua tahun lalu, di dinding masjid itu ada coretan  kata "Santo Tarrant" plus  lambang swastika. Takmir sudah melaporkan hal itu kepada polisi setempat dan polisi ‘akan’ menyelidikinya. 

    Riset yang dilakukan Dr Derya menunjukkan ujaran kebencian secara online maupun secara langsung, saling melengkapi dan bisa sangat berbahaya bagi umat Muslim.

    "Mengasosiasikan dan menghubungkannya sangat berbahaya karena ... mungkin suatu hari akan berakhir dengan serangan fisik," jelasnya.

    Juru bicara badan intelijen Australia, ASIO menyatakan ekstremisme kekerasan yang bermotivasi ideologis di Australia itu nyata dan berkembang. "Kelompok ekstrem sayap kanan telah menjadi perhatian ASIO selama beberapa dekade. Namun kami mengalokasikan sumber daya tambahan untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang," tambahnya. (eko/abcnews)