×

Iklan


Irawati Meuraksa Berharap Masa Kejayaan Teluk Bayur Berulang

20 Oktober 2021 | 16:54:52 WIB Last Updated 2021-10-20T16:54:52+00:00
    Share
iklan
Irawati Meuraksa Berharap Masa Kejayaan Teluk Bayur Berulang
DIWAWANCARAI - Irawati Meuraksa saat diwawancarai.

Padang, Khazminang.id - Setiap mendengarkan lagu Teluk Bayur ciptaan Zaenal Arifin yang sempat melambungkan nama Ernie Djohan tahun 1967, Irawati Meuraksa mengaku fikirannya acap kembali pada masa silamnya.  

Wanita kelahiran 2 Januari 1971 ini tak sungkan pula mengakui bahwa ia selalu terbawa perasaan (baper) bila mendengar lirik lagu yang bercerita tentang seorang asal Minangkabau yang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur dan harus meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan studinya ke negeri tetangga.

Ira mengaku tak berlebihan manakala selalu terbawa perasaan ketika lirik lagu Teluk Bayur “menyinggahi” telinganya. Maklum sebagai anak dari almarhum M. Djamin Meuraksa, mantan Kepala Devisi Tanah dan Air di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II (dulu masih bernama Badan Pengusahaan Pelabuhan), banyak cerita dan kenangan yang terukir di kawasan pelabuhan yang memiliki luas 544 Ha itu.

Ia menyebut, saat dirinya masih kanak-kanak, nama perusahaan yang mengelola pelabuhan Teluk Bayur belum bernama PT Pelindo II. Pada tahun 1969 hingga 1983 Teluk Bayur dikelola oleh Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP). Kemudian tahun 1983 berubah nama menjadi Perusahaan Umum Pelabuhan I (Perumpel I). Selanjutnya tahun 1991 berubah status menjadi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), dengan nama dagang Indonesia Port Corporation (IPC).

Bahkan katanya, kala itu tak hanya dongeng pengantar tidur yang kerap didengarnya dari mulut sang ayah. Almarhum ayahnya juga acap bercerita tentang betapa hebatnya pelabuhan Teluk Bayur, karena pelabuhan itu memang dikenal sebagai pelabuhan tertua kedua setelah Sunda Kelapa serta pelabuhan terbesar kedua setelah Tanjung Priok.

Sang ayah tercinta kata Irawati Meuraksa, juga dengan bangga bercerita tentang zaman keemasan pelabuhan Teluk Bayur yang pernah menjadi pusat perdagangan Indonesia ke negara-negara seperti Samudra Hindia, Eropa dan Amerika.

Ayahnya juga tak lupa menceritakan fakta pada enam orang anaknya bahwa hingga era Perang Dunia II, pelabuhan Teluk Bayur merupakan salah satu dari lima pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia.

Ira juga mengakui hingga kini bayangan begitu ramainya penumpang kapal laut sementara di dermaga para pengantar melambai-lambaikan tangan sebagai simbol perpisahan masih melintas di pelupuk mata dan tertanam segar dalam fikirannya.

“Waduh..., terlalu banyak kenangan indah yang tercipta di pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu gerbang antar pulau serta pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor dari dan ke Sumatra Barat (Sumbar) itu,” katanya.

Saat ia duduk di bangku SMA, dirinya berpandangan biarlah “romantisme” kenangan yang dilaluinya itu hanya untuk dikenang dan untuk disebut-sebut saja. Sebuah bayang yang tak mungkin lagi akan berulang, katanya.

Tapi begitu ia menamatkan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), bahkan sekarang menjadi anggota Komisi II DPRD Kota Padang, pandangannya turut berubah pula. Ia tak mau Teluk Bayur hanya sebagai kenangan belaka karena ada masa depan yang bisa dirajut dari pelabuhan yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda antara tahun 1888 sampai 1893 dengan nama Emmahaven itu.

Karena itulah wanita yang sebelum menjadi anggota dewan lebih dikenal sebagai pengusaha di Kota Padang tersebut mengimpikan kejayaan pelabuhan Teluk Bayur kembali berulang.

Ia pun menyadari, dengan berkembangnya Singapura sebagai pelabuhan transit, Selat Malaka menjadi jalur pelayaran yang penting, berakibat menurunnya aktivitas perdagangan di pelabuhan Teluk Bayur.

Karena itulah dirinya bersemangat begitu mengetahui adanya pertemuan antara Pemerintah Kota Padang bersama dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Teluk Bayur pada akhir Mai 2021 lalu untuk membahas rencana pembangunan Maritim Center yang akan berlokasi di Pelabuhan Muara Sungai Batang Arau, Kota Padang.

Sebagai anggota Komisi II DPRD Kota Padang, pihaknya akan terus mendukung dan menjembatani pihak-pihak yang dipandang sebagai “penghalang” rencana luar biasa itu.

Irawati Meuraksa mengaku sangat mendukung rencana mengintegrasikan lima pelabuhan di Sumbar dengan pelabuhan Teluk Bayur sebagai sentral itu. Lima pelabuahan tersebut adalah Pelabuhan Muaro di Kota Padang, Pelabuhan Teluk Tapang di Kabupaten Pasaman Barat, Pelabuhan Panasahan di Kabupaten Pesisir Selatan, Pelabuhan Tiram di Kabupaten Padang Pariaman, dan Pelabuhan Tuapejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Menurut dia, bila ini bisa diwujudkan tentu geliat ekonomi akan semakin bergairah. Tak hanya itu, bahkan biaya logistik bisa ditekan karena produk-produk ekspor tak lagi melewati darat.

“Harga jual pun tentu akan semakin bersaing, dengan begitu dapat sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumbar, termasuk petani dan nelayan,” ujarnya.

Sebagai salah seorang rakyat Indonesia, ia juga mengaku sangat mendukung rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menggabungkan (merger) BUMN Pelabuhan mulai dari PT Pelindo I, PT Pelindo II, PT Pelindo III dan PT Pelindo IV untuk meningkatkan value agar sumber penciptaan nilai bisa dihasilkan dari efisiensi biaya dari masing-masing perseroan.

Menurut dia, langkah yang diambil Kementerian BUMN itu tentu akan memberikan banyak manfaat, salah satunya memberikan efisiensi dan peningkatan pelayanan ke masyarakat.

Ia menilai dengan menggabungkan BUMN Pelabuhan, akan bisa mengurangi biaya logistik secara nasional. Bahkan katanya, pasca merger dilakukan, akan ada potensi produktivitas layanan yang dapat ditingkatkan manajemen perusahaan milik negara itu. (Febriansyah Fahlevi)