×

Iklan


Ini Pemicu Turunnya Inflasi Padang Panjang Jadi 0,24 Persen

04 Agustus 2022 | 13:56:57 WIB Last Updated 2022-08-04T13:56:57+00:00
    Share
iklan
Ini Pemicu Turunnya Inflasi Padang Panjang Jadi 0,24 Persen

Padang Panjang, Khazminang.id-- Inflasi di Kota Padang Panjang pada Juli 2022 lalu, mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari 1,28 persen pada Juni, turun menjadi 0,24 persen pada Juli.

"Penurunan dipicu dari mulai turunnya harga pada beberapa komoditas pangan strategis, di antaranya cabai merah, bawang merah, minyak goreng dan daging ayam ras," kata Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam Setdako Padang Panjang, Putra Dewangga, Rabu (3/8).

Putra mengatakan, inflasi Kota Padang Panjang sebagai kota non-IHK mengacu kepada inflasi kota IHK (Indeks Harga Konsumen -red) terdekat, yaitu Kota Bukittinggi.

    Pada Juni lalu, katanya, 12 komoditas dari 45 komoditas pangan strategis yang dipantau, mengalami kenaikan harga dan memberikan andil pada stabilitas harga pangan di Kota Padang Panjang.

    Yaitu beras kualitas I, daging sapi, daging ayam broiler, telur ayam ras, cabai hijau, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, ikan asin, teri, sawi bola, wortel dan seledri.

    "Tujuh komoditas di Padang Panjang mengalami penurunan harga yang mempengaruhi stabilitas harga pangan, di antaranya gula pasir, daging ayam kampung sedang, telur ayam kampung, bawang putih, buncis, minyak goreng kemasan sederhana, dan minyak goreng curah," ungkapnya.

    Sedangkan pada Juli, tiga komoditas dari 45 komoditas pangan strategis yang dipantau mengalami kenaikan harga dan mempengaruhi stabilitas harga pangan, yaitu, daging ayam kampung besar, kacang kedele dan sawi bola.

    Sebanyak 18 komoditas mengalami penurunan harga dan memiliki andil dalam stabilitas harga pangan, yaitu daging ayam broiler, daging ayam kampung kecil, telur ayam ras, cabai hijau, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih.

    "Kacang hijau, kacang tanah, ikan asin, teri, buncis, wortel, seledri, bawang bombai, minyak goreng kemasan sederhana, minyak goreng kemasan premium dan minyak goreng curah," paparnya

    Kenaikan inflasi di Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang Panjang, kata dia, dipicu dengan tingginya permintaan pada bulan Ramadan dan Idulfitri pada Mei lalu hingga Iduladha pada Juli kemarin.

    "Tingginya tingkat inflasi, didominasi terjadi karena kenaikan harga cabai merah di Padang Panjang dan Sumatera Barat," jelas dia.

    Kenaikan harga bahan pangan ini disebabkan oleh biaya produksi dari produk pangan yang meningkat karena curah hujan ekstrem sejak Mei hingga akhir Juli yang mengakibatkan kenaikan harga makanan dan minuman, sehingga mempengaruhi tingkat inflasi secara keseluruhan dan masih banyak faktor lainnya.

    "Terkait dengan kondisi ini, kita sarankan agar melakukan koordinasi dan sinergi dengan Dinas Pangan dan Pertanian untuk pemantauan terhadap perkembangan produksi pangan di Kota Padang Panjang secara lebih intensif," tegas dia.

    Salah satunya, kata Putra, yaitu melakukan koordinasi dan sinergi antarpemerintah daerah dalam menangani ketersediaan pangan, serta menjaga ketersediaan komoditi pangan di pasar dan pengendalian distribusinya.

    "Serta melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk pengendalian harga dan ketersediaan BBM agar tidak terganggunya kegiatan distribusi pengangkutan barang komoditi," tuturnya. (Paul Hendri)