×

Iklan

SINGKA-BAJAK
I n f e r i o r i t a s

08 November 2021 | 15:57:45 WIB Last Updated 2021-11-08T15:57:45+00:00
    Share
iklan
I n f e r i o r i t a s

Singka menggerutu tak habis-habis karena macet berat yang menyebabkan mobil mereka tidak bisa memasuki pekarangan. Kendaraan yang mengantri begitu rapat, sehingga menutupi seluruh pintu masuk ke pekarangan rumah. Akibatnya mereka berdua harus bersabar menunggu pergerakan kendaraan yang memungkinkan mereka untuk bisa masuk.

“Oke … Dari kenyataan seperti ini, masihkah kau bisa memahami dan bertoleransi seperti biasanya ?” tanya Bajak mengejek.

“Apa lagi nih ? Apa maksudmu ?” tanya Singka melotot.

     “Begini Bung” kata Bajak sambil menunjuk hidung temannya. “Aku ingin bertanya kepadamu : drama picisan apa lagikah yang ingin dipertontonkan oleh negeri ini, sehingga masyarakat harus tabah untu menerima pelecehan demi plecehan yang berkepanjangan ini ?” kata Bajak dengan serius. “Ini pelecehan Bung ! Kau lihatlah, betapa orang-orang yang berharap BBM murah, rela antri berjam-jam tanpa kepastian bahwa mereka akan beroleh BBM yang mereka harapkan itu. Bisa jadi, begitu mereka hampir sampai di pangkalan SPBU, justru persediaannya habis. Bisa kau bayangkan kah, kekecewaan seperti apa yang harus mereka tanggungkan ? Mereka hanya bisa gigit jari, hanya bisa menyumpah, tanpa tahu siapa yang harus disumpahi. Paham tidak kau dengan kondisi itu ?”

    “Mereka kan punya pilihan Bung. Kalau tidak premium, ya bisa beli pertalite atau pertamax atau pertamax turbo. Mereka saja yang memilih untuk bersusah-susah” Kata Singka mencibir.

    “Terimakasih banyak kawan. Kamu persis seperti mereka itu para pemain perminyakan nasional. Mereka akan berdalih bahwa ; “ada pilihan lain kok. Masyarakat boleh memilih dan tidak dirugikan. Merekanya saja yang memilih untuk mencapek-capekkan diri mengantri minyak murah. Supaya tidak ngantri, ya beli yang lain. Kalau mau enak, ya bayarlah sedikit lebih mahal. Kalau nggak mau, ya jangan ngedumel”. Persis seperti itulah yang disampaikan oleh orang-orang beruang, yang menjadi pemain perminyakan. Mereka tertawa-tawa menyaksikan betapa terlecehkannya masyarakat yang mengantri itu. Paham kah kau, bahwa mereka orang-orang yang sebetulnya terpaksa memilih untuk mengantri demi mengharapkan sedikit perbedaan harga. Bagi kalian, perbedaan harga yang sedikit itu hanya berarti sekedar keuntungan. Tapi bagi kami, bagi masyarakat kecil ini, perbedaan harga itu adalah penyambung hidup. Itulah yang kalian tertawakan. Itulah yang kalian cemoohkan. Itulah yang kalian cibirkan. Kalian memang tidak akan mengalami kenistaan seperti itu, karena kalian diberi rezeki yang banyak oleh Yang Maha Kuasa. Tapi jangan lah memperlakukan rakyat dengan cara-cara seperti ini”.

    “Hei , hei, hei ! Sudah terlalu jauh cerita kau ini. Apa pula hubungannya dengan pelecehan atau penistaan segala. Jangan kau kait-kaitkan hal-hal provokatif seperti itu. Pemerintah hanya ingin menawarkan bahwa ada BBM yang lebih baik kualitasnya, lebih ramah lingkungan bahkan lebih irit. Kenapa juga kau bawa-bawa analisa bodoh mu kemana-mana?” sergah Singka melotot lagi.

    “Sekali lagi terimakasih banyak kawan. Kalian telah sukses membuat kami ternistakan. Kalian mungkin pernah melihat bagaimana masyarakat mengantri gas elpiji untuk kebutuhan rumah tangga. Kalian mungkin pernah juga melihat masyarakat antri untuk mendapatkan bantuan sosial, kalian mungkin pernah melihat orang-orang antri berdesakan untuk sekedar mendapat sedekah dari orang kaya dermawan yang ingin membayar zakat masal, atau antiri-antri yang lainnya. Pertanyaannya adalah : “kenapa begitu getolnya kalian menyuruh kami berbaris untuk mendapat jatah ? Masih kurangkah cara-cara penistaan sehingga kalian masih menambah-nambah cara untuk memaksa kami berbaris menadahkan tangan ?” Janganlah perlakukan kami dengan cara yang terlalu kasar begini. Ketika bangsa lain menyaksikan pemandangan ini, maka dalam hati mereka akan terlintas gambaran pelecehan yang tidak dapat dihindari. Dengan segala tontonan seperti ini, apakah bangsa ini mampu untuk mengangkat wajah dan kepalanya berhadapan dengan bangsa lain ? Pernah kah kalian melihat, bagaimana orang-orang antri makanan di negara-negara miskin di Afrika Selatan sana ? Kalau memang pernah, lalu apa bedanya dengan kami, anak negeri ini ? Untuk kalian ketahui, bahwa gambaran itu tidak berbeda. Mau ngantri minyak kek, ngantri gas elpiji kek, atau ngantri makanan kek, sama saja. Dimata bangsa-bangsa lain akan terbentuk sebuah kesimpulan, bahwa negeri itu negeri yang papa yang perlu dikasihani. Pernah kah kalian membayangkan itu ? Dimanakah nasionalisme kalian ? Termasuk kau, Singka yang terhormat”

    “E eh, jangan sembarangan melantong saja kau ! Kenapa aku pula yang kau salahkan ? Memangnya aku ini siapa ? Enak aja kau” kata Singka dengan sengit. “Lagi pula persoalan itu berbeda. Di sana, orang-orang ngantri makanan. Tapi disini cuma antri BBM. Kalau disana, antrian itu tidak bisa dihindari, tapi disini antrian itu bisa dihindari bila mereka bersedia membayar lebih. Itu masalahnya. Ngerti nggak ?!”

    “Kalau kalian mau menghormati rakyat, maka layanilah rakyat. Bukankah kalian tahu bahwa rakyat kita bukanlah rakyat yang sejahtera, sehingga sepantasnya lah BBM murah itu diproduksi dan didistribusikan lebih banyak daripada BBM yang mahal. Ibaratnya rumah sakit, mestinya bangsal kelas III harus disediakan lebih banyak dari VIP dan VVIP, karena rakyatmu ini banyak yang miskin. Begitu juga dengan BBM. Jangan kalian berdalih bahwa pertamax lebih irit dan lebih ramah terhadap kendaraan. Bagi kami rakyat kecil ini, yang penting bukan ramahnya BBM itu, tapi yang lebih penting adalah, roda kendaraan itu harus berputar. Ketika dia berhenti berputar, bisa berhenti pula dapur kami mengepul. Mengertikah kalian ? Sediakan lebih banyak premium, agar kami tidak perlu ngantri. Atau kalian hapuskan saja itu premium. Semua BBM hanya pertamax, sehingga tidak ada lagi antrian BBM. Lebih baik berjelas-jelas seperti itu. Daripada kalian sediakan premium, tapi dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga kami harus berebut untuk mendapatkannya” kata Bajak dengan lelah. Dia berbicara lebih terdengar seperti mendesis. “Kami sudah sangat lelah. Ngerti ndak ?”

    Singka masih mencoba menjelaskan berbagai argumen yang membenarkan adanya BBM yang beragam itu. Tapi temannya Bajak tidak mau mendengarkannya karena menurut dia, bahwa drama yang tengah dipertontonkan ini adalah sebuah gambaran pelecehan terhadap anak bangsa. Tidak akan terhormat bangsa kita di mata internasional, apabila rakyat negeri ini terlalu sering digiring kepada kondisi yang begitu memprihatinkan, yang membuat mereka harus antri mendapatkan sesuatu barang yang lebih murah meskipun barang itu dianggap inferior. Bagi Bajak hanya ada satu rumus, bahwa pembuat kebijakan harus mengerti bahwa rakyat negeri ini banyak yang berada pada level kurang beruntung, sehingga mereka terpaksa memilih yang paling murah. Persoalannya bukan hanya sekedar penyediaan barang murah berkualitas rendah, tapi persoalan ini menyangkut Inferioritas bangsa. “Mohonlah persoalan ini dipahami” kata Bajak seperti sebuah keluhan.

    Singka terus saja nyerocos, tapi Bajak tidak mau melayani. Dia terlanjur kecewa.