×

Iklan


Gadang Pula Baut daripada Roda, Cilaka!

04 Agustus 2021 | 00:22:30 WIB Last Updated 2021-08-04T00:22:30+00:00
    Share
iklan
Gadang Pula Baut daripada Roda, Cilaka!

Oleh: RYAN SYAIR

SITUASI pandemi Covid-19 yang kian mengkuatirkan, sebenar tak menyurutkan niat dan kurenah para elite politik untuk terus bermanuver memoles citra diri demi kepentingan dan ambisi pribadi. Selalu ada saja celah yang mereka sasau untuk bernarsis-narsis ria di timeline kehidupan dan ruang-ruang publik. Sebenar menyamak. Ampun kita!

Tengok lah. Baru saja pemberitaan dihirukkan oleh kemunculan baliho-baliho raksasa milik para pesohor dan elite partai politik (baca Ketua DPR/ Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto) soal protokol kesehatan, kepatang sudah muncul pula stiker, meme dan poster-poster narsis yang menampilkan para politisi “meladangi” punggung peraih medali emas Olimpiade Tokyo, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu.

    Benar. Tak ada pula yang salah. Tapi, agak janggal saja rasanya, ketika poster-poster yang hadir dalam kemasan “ucapan selamat” itu, justru lebih menonjolkan gambar si pemberi selamat, ketimbang komposisi wajah si atlet (Greysia/Apriyani). Gadang pula baut daripada roda. Kan cilaka itu namanya!


    Poster gagah dan cantik para elite dan politisi di panggung Greysia/Aprilia. IST

    Orang (Greysia/Apriyani) yang berpeluh-peluh, tetapi justru yang menonjol gambarnya adalah para elite dan politikus yang entah sejak bila saja tibanya. Seolah-olah membatasi cakrawala pandangnya. Agak egois, terkesan betul menggalaskan kepentingan pribadi, tanpa melihat realita. Sebenar main lama! Sudah khatam pula kita untuk gaya-gaya yang takah ini. Rasan!

    Apa pula yang dicari lagi, kalau tidak semata berburu popularitas. Tak peduli jika harus berladang di kuduk orang lain. Masa bodoh jika harus menumpang talen di punggung orang sekalipun. Alamak! Pandai benar memanfaatkan dan menunggangi momentum, mengkapitalisasi popularitas dari masyarakat untuk sebuah objek yang memang sedang naik reting, sedang trending. Sebenar santing!

    Sekali lagi, tidak salah dan tidak pula ada larangan bagi siapa saja, termasuk para elite dan politikus untuk memberikan ucapan selamat kepada para pemenang olimpiade, ataupun baliho-baliho yang bermuatan pesan-pesan menyoal pandemi. Tapi, sekali lagi pula, janggal saja rasanya, tak elok benar kesannya. Apalagi kita, rakyat Indonesia tengah dalam penderitaan menghadapi virus corona. Susah benar mereka itu menahan, agaknya.

    Disebut tak peka, apalagi mantika, nanti marah pula ke saya. Tapi bagaimana lagi, memang demikian faktanya. Biarlah pengamat saja yang berkata;

    “Masifnya pemasangan baliho para politikus di pelbagai daerah dan maraknya poster-poster ucapan selamat kepada atlet berprestasi, menunjukkan ketidakpekaan para pesohor dan elite politik terhadap kondisi pandemi saat ini. Menurut saya sangat tidak tepat, justru malah menciptakan sikap apatis dan apolitis bagi publik," mengutip statemen Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo.

    "Idealnya para politisi ini lebih menunjukkan aksi daripada beretorika, karena situasi sekarang ini membutuhkan kerja kolaborasi daripada pencitraan diri pribadi,” tandas Wasisto.


    Sebenar gadang baut daripada roda. Entah apa-apa saja. IST

    Jujur, saya pribadi dan kita semua pada umumnya, sebenarnya juga pasti sangat bangga dengan prestasi Greysia/Apriyani. Saya saja, sampai meleleh ketika Indonesia Raya berkumandang di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/7). Sebenar menggaga rasa nasionalisme saya dibuatnya. Sungguh!

    Tapi, tak sampai pula saya buatkan meme dan poster untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Siapa pula lah saya. Tapi, saya tetap panjatkan doa, sembari mengucap terima kasih yang tak henti kepada mereka. Dan itu, cukup dalam hati saja. Begini bunyinya; “Selamat dan terima kasih Greysia/Apriyani. Prestasimu, benar-benar jadi obat galau di tengah kecamuk pandemi ini".

    Itu pula mungkin bedanya. Kalau saya, agak malu saja rasanya ketika harus mendompleng dan ikut menumpang tenar pula di panggung milik Greysia/Apriyani itu. Owh, karena saya bukan orang politik? Tidak juga! Cuma, tak elok saja rasanya menunggangi punggung mereka untuk tujuan membangun pencitraan positif untuk kepentingan diri pribadi.

    Gambar kita (elite, politisi, pesohor negeri dan entah siapa lah lagi itu namanya) digadangkan, segadang-gadangnya. Sementara foto Greysia/Apriani, biarlah diselatkan sedikit di bagian belakangnya saja, dikaburkan pula. Isi pesannya, ya sekadar ucapan selamat pula itu saja. Aduuuuh, itu mah, anak saya nan TK juga bisa. Tapi....

    "Selamat Greysia/Apriani. Saya tunggu kalian di Indonesia dengan pitis 50 juta, 100 juta, 250 juta, 500 juta dan sebagainya". Ini baru saha namanya!

    Ada bersua? Ada, tapi tak banyak. Cuma satu dua. Agak kurang berbaun tunjuk kehidupan kita.

    Saya ada mencatat. Bapak Itu, Bapak Anu, Ibuk Itu dan Ibuk Anu, ada turut mengucap selamat kepada Greysia/Apriyani. Gadang fotonya daripada Greysia/Apriyani lagi. Tinggal kita menunggu saja kabar setelah ini, gerak dan tindakan nyata apa yang akan diagihnya kepada Greysia/Apriyani, sebagai wujud apresiasi atas prestasi dua anak bangsa ini.

    Pula, sebagai wujud ungkapan terima kasih karena telah bisa ikut sata menyelingkit, menumpang talen dan membawa pulang pula popularitas dari "podium” Greysia/Apriyani, dua pahlawan bidang olahraga ini. Tidak benarlah dari saku pribadi, sekadar kebijakanpun, jadi jugalah. Toh, mereka orang-orang santing semua. Berpitis, berpangkat, berjabatan pula. Ke berapa benarlah baru itu.

    Mari, sama-sama menunggu dan menyimak saja kita di setantang ini sampai beberapa pekan di muka. Kok lai ke ada pula, eh...! **