×

Iklan

SETELAH PILPRES TURKI SELESAI (1)
Erdogan, tak Tunduk ke Amerika, tapi Sulit Dijinakkan Rusia dan China

30 Mei 2023 | 11:34:23 WIB Last Updated 2023-05-30T11:34:23+00:00
    Share
iklan
Erdogan, tak Tunduk ke Amerika, tapi Sulit Dijinakkan Rusia dan China
Joe Biden, Erdogan dan Putin

 Catatan: PITAN DASLANI

Setelah menang dalam Pilpres untuk memperpanjang masa jabatannya ke periode ke-tiga, Presiden Recep Tayyip Erdogan diyakini akan tetap memainkan peran ganda dalam politik luar negeri Turkiye yang tetap bersahabat dengan Rusia meskipun sebagai anggota NATO.

    Tidak seperti postur Turkiye ketika bergabung ke NATO pada 18 Februari 1952—di tengah Perang Dingin antara NATO dan Uni Sovyet yang membentuk Pakta Warsawa pada 14 Mei 1955—sejak 28 Agustus 2014 ketika Erdogan dilantik sebagai presiden ke-12 Turkiye, negara itu menjadi anggota NATO yang paling dibutuhkan aliansi militer tersebut untuk "menetralisir" Rusia, tetapi juga paling tak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Eropa Barat.

    Sebab, Erdogan ingin agar Turkiye menjadi penentu di dalam NATO; bukan sekadar anggota biasa seperti 29 negara Eropa yang kini tergabung dalam aliansi militer tersebut bersama Kanada, yang cenderung tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Sikap independen seperti itu akan terus ditunjukkan Erdogan dalam periode ke-tiga kepresidenannya yang sekarang.

    Erdogan memang cukup memusingkan NATO. Ia mengizinkan penjualan pesawat-pesawat drone ke Ukraina, yang kemudian digunakan untuk memerangi Rusia, tapi pada saat bersamaan ia konsisten mendukung Rusia melawan sanksi-sanksi yang ditimpakan NATO dan Collective West terhadap pemerintahan Presiden Putin, karena tetap menjaga hubungan baiknya dengan Rusia. Jarang ada seorang kepala negara yang memiliki keberanian seperti itu dan tetap dihargai oleh pihak-pihak yang bersengketa.

    Keakrabannya dengan Rusia terbukti dari keputusannya untuk membeli sistem rudal anti-rudal S-400 buatan Rusia pada 2017 seharga US$2,5 miliar—dan bukan senjata Patriot buatan Raytheon Technologies Virginia yang berharga $1,1 miliar—sehingga Pentagon dan Kongres geram sampai membatalkan rencana penjualan pesawat-pesawat jet tempur F35 kepada Turkiye.

    Pasukan Turkiye juga selalu terlibat dalam kontingen perdamaian NATO dengan bendera PBB di berbagai negara, tetapi Erdogan tetap meningkatkan kerja sama industri strategisnya dengan Rusia, termasuk pembangunan reaktor nuklir yang dikerjakan oleh Rosatom.

    Keakraban hubungan Ankara-Moskow semakin nyata ketika reaktor nuklir berkapasitas 4.800 megawatt, yang dibangun sejak 2015 itu, diresmikan di Akkuyu, Provinsi Mersin, Turkiye, pada 27 April 2023. Pengresmiannya dihadiri Dirjen International Atomic Energy Agency Rafael Grossi, Dirjen Rosatom Alexei Likhachev, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turkiye Fatih Donmez.

    Ini tentu bukan perkembangan yang menyenangkan, bahkan sangat menyakitkan, bagi Collective West yang tadinya berharap agar Erdogan dikalahkan dalam Pilpres oleh politisi pro-Barat, Kemal Kilicdaroglu, supaya Turkiye bisa disetel sesuai agenda mereka.

    Tapi kekalahan Kemal Kilicdaroglu membuktikan bahwa mayoritas rakyat Turkiye tidak ingin negerinya digiring ke dalam politik aliansi Barat yang hegemonistik, atau dijadikan boneka Barat, sebab Turkiye perlu dipertahankan sebagai negara mayoritas Muslim (99,8% dari 87 juta penduduknya beragama Islam) yang harus tetap memegang prinsipnya, meskipun berada di dalam aliansi NATO yang berseberangan budaya politiknya. (baca juga: Negara Kuat yang tak Mau Didikte oleh Aliansi Barat)