×

Iklan

BALAI BICARA BTP KELAS II PADANG
Endang: Pengembangan Perkeretaapian di Sumbar Butuh Dukungan Penuh Stakeholder

13 Juni 2024 | 22:52:55 WIB Last Updated 2024-06-13T22:52:55+00:00
    Share
iklan
Endang: Pengembangan Perkeretaapian di Sumbar Butuh Dukungan Penuh Stakeholder
KEPALA BTP Kelas II Padang saat memberikan keterangan pers di kegiatan Balai Bicara, Kamis (13/06/2024)

Padang, Khazanah – Peningkatan pembangunan prasarana dan sarana perkeretaapian di Sumatera Barat membutuhkan dukungan dari seluruh pihak yang berkepentingan dan pemangku kebijakan (stakeholder) di daerah ini. Hal tersebut diungkapkan Kepala BTP Kelas II Padang, Endang Setiawan dalam paparannya pada kegiatan Balai Bicara BTP Kelas II Padang, Kamis (13/06/2024) di The ZHM Hotel Padang.

“Tanpa dukungan dari Pemerintah Daerah, stakeholder dan masyarakat, tidak mungkin pembangunan perkeretaapian di Sumbar ini akan terwujud,” ujar Endang.

Dia berharap Pemerintah Daerah turut membantu kegiatan BTP Kelas II Padang dalam normalisasi jalur kereta api dengan melakukan sosialisasi, penertiban dan penutupan perlintasan sebidang secara berkala.

    “Tidak hanya pengamanan jalur kereta api, kami juga berharap pemerintah daerah dapat mensosialisasikan penggunaan kereta api sebagai transportasi masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari, sehingga meningkatkan okupansi penumpang dan pengurangan kemacetan serta dampak emisi kendaraan,” ujar Endang.

    Sehubungan dengan masih tingginya tingkat pencurian aset perkeretaapian, kepala BTP Kelas II Padang mengharapkan adanya tindakan tegas dari pihak keamanan serta memberikan informasi kepada BTP Kelas II Padang, jika terjadi penyalahgunaan aset perkeretaapian oleh pihak lain yang tidak sesuai dengan peruntukannya,” jelasnya.

    Pada kegiatan Balai Bicara yang dihadiri stakeholder dan media tersebut, Endang memaparkan capaian BTP Kelas II Padang dalam pembangunan perkeretaapian di Sumatera Barat pada 10 tahun terakhir.

    “Untuk peningkatan prasarana perkeretaapian, kita sdh membangun 12 stasiun kereta api dan 118,2 Km jalur kereta api, membangun pos jaga dan pintu perlintasan di 27 titik, membangun EWS (Early Warning System) di 30 titik, membangun pagar ornamen dan jalan inspeksi,” lanjut Endang

    Selain itu, kepala BTP Kelas II Padang tersebut memaparkan rencana strategis jangka pendek, menengah dan ultimate perkeretaapian Sumbar 5 tahun kedepan, seperti rencana reaktivasi jalur kereta api Naras – Sungai Limau, Pulau Aie – Muaro, Kayu Tanam – Padang Panjang, Muara Kalaban – Sujunjung dan lainnya.

    “Untuk rencana reaktivasi jalur Kayu Tanam – Padang Panjang, kami sedang melakukan kajian tentang berbagai alternatif dan penghitungan financial yang dibutuhkan. Ini memerlukan waktu setidaknya H-2 tahun sebelum diusulkan,” kata Endang.

    Rencana lainnya, BTP Kelas II Padang akan melakukan penataan stasiun BIM menjadi moda integrasi antarmoda (kereta api – udara – darat) dan peningkatan teknologi.

    “Saat ini transportasi telah menggunakan teknologi tanpa rel, yaitu menggunakan marking dan kereta api gantung seperti yang ada dibeberapa negara. Mungkin ini bisa kita terapkan di Suamtera Barat sesuai bentuk gografis wilayahnya,” sambungnya.

    Endang optimis dengan Kerjasama dan dukungan dari seluruh stakeholder dan masyarakat akan dapat diwujudkan pembanguan perkeretaapian yang maju di Sumatera Barat seperti  di pulau Jawa

    “Perkeretaapin Sumbar, harus aman, nyaman dan berteknologi,” tutupnya kegiatan ngomong asyik Balai Bicara yang berlangsung selama 2 jam lebih.

    Sementara itu kepala PT KAI Devisi Regional II Sumatera Barat, Sofan Hidayah mengatakan okupansi penumpang kereta api di tahun 2023 mengalami kenaikan menjadi 120 persen.

    “Bahkan pada hari tertentu permintaan penumpang tidak bisa kita penuhi, sampai 50-150 penumpang, ini potensi yang baik untuk kita kembangkan,” ujarnya

    Sedangkan untuk kereta api Minangkabau Ekspres (Mineks) hanya berada di angka 30 persen penumpang setiap hari.

    “Banyak hal yang menyebabkan okupansi ke BIM tidak tercapai, diantaranya waktu tunggu yang terlalu lama sampai 2 jam, kemudian kecepatan KA hanya maksimal 60 km perjam dari standarnya 90-100 km perjam,” jelas Sofan

    Lebih lanjut Sofan menyebutkan, kasus kecelakaan kereta api masih cukup tinggi di Sumatera Barat

    “Kasus kecelakaan kereta api pada tahun 2020 ada 23 kasus, kemudian 2021 ada 31 kasus dan tahun 2022 ada 28 kasus, di 2023 ada 42 kasus dan hingga Mei 2024 terdapat 15 kasus. Ini cukup tinggi dan kita saat ini berkosentrasi untuk mengurangi angka kecelakaan KA ini di Sumatera Barat,” pungkasnya. (JJ)