×

Iklan


Diumumkan di Madinah, Arsitektur Masjid Raya Sumbar Terbaik di Dunia

20 Desember 2021 | 18:51:58 WIB Last Updated 2021-12-20T18:51:58+00:00
    Share
iklan
Diumumkan di Madinah, Arsitektur Masjid Raya Sumbar Terbaik di Dunia

Padang, Khazminang.id – Diantara tujuh masjid terkemuka di dunia dalam hal arsitektur, maka Masjid Raya Sumbar yang beraa di Padang adalah satu diantaranya.

Sebuah award atau penghargaan yang diinisiasi oleh Yayasan Abdulatif Al-Fozan Senin (20/12) menobatkan Masjid Raya Sumbar menjadi salah satu dari tujuh masjid dengan arsitektur terbaik setelah dimasukkan dalam sebuah penjurian dalam kopetisi internasional desain arsitektur masjid. Penghargaan itu diumumkan di Madinah, Arab Saudi.

    Situs Iqna.id yang dikutip banyak media menyebutkan bahwa penghargaan Abdulatif Al Fozan itu untuk tahun ini adalah yang ketiga kalinya dikompetisikan.

    Situ iqna melansir bahwa ketuju  masjid dari berbagai negara yang dinobatkan sebagai pemenang penghargaan tahun ini adalah untuk desain arsitekturnya yang istimewa dan menarik. Dalam kompetisi tahun ini sedikitnya 43 negara berkontribusi menghadirkan desain-desain unik masjid yang pesertanya kali ini adalah sebanyak 201 masjid. Dari jumlah 43 masjid itu, dipilih 27 nominee sebelum ditetapkan oleh dewan juri tujuh masjid pemenang utama.

    Penghargaan Abdullatif Al Fozan untuk Arsitektur Masjid membahas ide-ide baru untuk desain masjid di seluruh dunia dan mendorong inovasi dalam perencanaan, desain, dan teknologi yang dapat membentuk identitas arsitektur masjid di abad kedua puluh satu. Masjid calon tahun ini dikategorikan ke dalam empat kategori yakni masjid pusat, masjid Jami', masjid lokal dan masjid komunitas. Moto dari penghargaan tahun ini adalah “Arsitektur Masjid di 21st Century”.

    Tujuh pemenang edisi ketiga masjid dengan desain arsitektur terbaik adalah Masjid Raja Abdullah di Riyadh, Masjid Basuna yang terletak di desa Basuna di Sohag Mesir, Masjid Al-Ahmar di Bangladesh. Masjid Raya Sumatra Barat di Indonesia, Masjid Sancaklar yang terletak di Buyukcekmece, lingkungan pinggiran kota di pinggiran Istanbul, Turki, Masjid Amir Shakib Arslan di Lebanon, dan Masjid Agung Djenne di Mali. Sultan bin Salman bin Abdulaziz, penasihat raja Saudi dan anggota dewan pengawas penghargaan menggarisbawahi pentingnya memperhatikan masjid dan arsitekturnya serta peran mereka dalam pembangunan di komunitas lokal.

    Masjid Raya Sumbar

    Masjid Raya Sumbar digagas oleh Gubernur Gamawan Fauzi ketika baru menjabat sebagai Gubernur Sumbar bersama wakilnya Marlis Rahman pada 2005.

    Gagasan awalnya menurut Gamawan Fauzi, kebersamaan dengan masyarakat Minangkabau perlu diujudkan dalam bentuk bersama-sama pula membangun sebuah masjid provinsi. Sejak kemerdekaan belum ada masjid di Sumbar yang bisa disebut masjid provinsi.

    “Kita perlu sebuah masjid yang ikonik, tempat semua kegiatan keummatan berlangsung. Jadi tidak hanya shalat, tetapi segala hal yang dibolehkan agama berlangsung di kawasan masjid,” kata Gamawan Fauzi saat menyampaikan gagasan mereka berdua dengan Prof. Marlis Rahman.

    Sebuah panitia pembangunan masjid raya dibentuk dan dikukuhkan dengan surat keputusan gubernur Sumatera Barat. Panitia bertugas mendapatkan desain yang disayembarakan secara terbuka dan menghimpun dana untuk pembangunan.

    Akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh arsitek Rizal Muslimin. Ia adalah pemenang dari sayembara arsitektur yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara.


    Seperti dikatakan Prof. Marlis Rahman dalam buku otobiografinya Prof.Marlis Rahman : “Maka mulailah kami mencari lahan yang akan dijadikan lokasi masjid itu. Dari inventarisasi lahan milik Pemprov Sumbar, diketahui ada lahan di Padang Baru (Jl Khatib Sulaiman dan Jl KH Ahmad Dahlan) yang saat itu ditempati oleh SPP (Sekolah Pembangunan Pertanian). Lahan itu cukup luas (40 ribu meter persegi). Pada waktu itu masih ada bahagian yang masih perlu dikonsolidasikan dengan pihak lain. Sebuah tim dibentuk untuk penyelesaian agar keseluruhan 4 hektar itu bisa digunakan”

    Soal desain ini memang memakan waktu yang lama untuk didiskusikan karena semua anggota panitia   punya pendapat yang beragam. Tapi yang jelas semua sepakat bahwa bangunan ini harus  mempertimbangkan konstruksi yang tahan gempa mengingat setelah tsunami Aceh 2004 makin diketahui bahwa Padang memiliki potensi sebagai daerah rawan gempa.

    Budayawan Prof. Raudha Taib ketika itu berharap ada ciri Minangkabaunya. Yang lain mengusulkan kubah yang megah seperti kubah masjid biru di Istambul Turki. Tapi akhirnya dengan sebuah sayembara diperolehlah desain karya arsitek Rizal Muslimin.

    Menurut Gamwan Fauzi  karya Rizal ini memang memberi pesan keminangkabauan yang islami. Artinya Rizal juga ingin memberi pesan bahwa soal arsitektur hendaknya kita memiliki kekhasan sendiri. Ini sekaligus antitesa dari pendapat bahwa masjid harus ada kubahnya karena rata-rata masjid di Indonesia ada kubah.

    Desainer ingin menjelaskan bahwa fungsi kubah bisa dialihkan menjadi empat puncak yang menyerupai kiswah (kain) yang keempat sisinya dipegang oleh semua unsur kaum Quraisy saat Rasulullah masih muda mendamaikan pertengkaran warga Mekah mengangkat hajar aswad,” kata Gamawan dalam sebuah rapat panitia pembangunan pada 2007.

    Sedangkan fungsi kubah sebagai puncak masjid akan dialihkan menjadi menara setinggi 99 meter yang melambangkan 99 nama Allah (asmaulhusna). Tapi belakangan tinggi nya dikurangi setelah panitia berdiskusi dengan kalangan penerbangan.

    Mengacu pada desain, maka RAB yang disusun oleh tim pekerjaan sipil menemukan angka Rp507 miliar sampai masjid dengan daya tampung 20 ribu jamaah ini selesai pembangunannya.Tentu saja angka sebesar itu untuk APBD Sumatera Barat merupakan angka yang besar. APBD Sumbar waktu itu belum mencapai Rp2 triliun. Sehingga menyediakan anggaran untuk masjid sebesar setengah triliun rupiah tentu saja amat berat.

    Pada 21 Desember bersamaan dengan diperingatinya Hari Bela Negara dan Hari Kesetiakawanan Sosial, dilalaksanakanlah peletakan batu pertama oleh Gubernur Gamawan Fauzi. Dan selanjutnya proses membangunan dimulai pada 2008 sesuai dengan ketersediaan anggaran yang disepakati berpola multiyears. Tahap pertama dianggarkan di APBD 2008 sebesar Rp103,871 miliar, tahun berikutnya Rp15,2 miliar dan Rp31 miliar. Seluruhnya mengunakan produk Semen Indonesia Grup (Semen Padang)

    Untuk menambah anggaran pembangunan itu panitia melakukan berbagai kegiatan fund raising. Para perantau, tokoh nasional dan beberapa negara sahabat diketuk hatinya untuk memberikan donasi. Bahkan Gubernur Gamawan Fauzi mengusulkan dibuatkan nada sambung berbayar di operator seluler untuk menyumbang Masjid Raya Sumbar. Hasil penjualan Nada Sambung Pribadi (NSP) itu kemudian menambah kas pembangunan. Bahkan Gubernur Papua pun ikut menyumbang untuk masjid ini.

    Awal 2009 pemerintah Arab Saudi memberi sinyal akan membantu hibah sebesar 50 juta dolar AS. Tapi karena direalisasikan setelah terjadi gempa besar 30 September 2009, maka oleh Badan Perencana Pembangunan Nasional  (karena hibah itu harus masuk dulu via Bappenas) anggaran itu dialihkan dulu untuk keperluan recovery pascagempa. Setelah gempa, secara perlahan masjid ini menuju kesempuranaannya.

    Pada 2016, Kementerian Pekerjaan Umum RI memberi bantuan sebesar Rp11 miliar untuk pembangunan pekarangan. Pada tahap kedelapan, kelanjutan pembangunan dibiayai melalui penerimaan dana bantuan keuangan khusus dari dua provinsi yakni Jawa Barat dan Papua dengan total sebesar Rp12,499 miliar.

    Jika kita masuk masjid maka ruang utama yang dipergunakan sebagai tempat shalat di lantai dua sudah terhampar luas. Lantai dua dengan elevasi tujuh meter dapat diakses langsung melalui ramp, teras terbuka yang melandai ke jalan. Dengan luas 4.430 meter persegi, lantai dua diperkirakan dapat menampung 5.000-6.000 jemaah. Lantai dua ditopang oleh 631 tiang pancang dengan pondasi berdiameter 1,7 meter pada kedalaman 7,7 meter. Dengan kondisi topografi yang masih dalam keadaan rawa, kedalaman setiap pondasi tidak dipatok karena menyesuaikan titik jenuh  tanah. Adapun lantai tiga berupa mezanin berbentuk letter U memiliki luas 1.832 meter persegi.

    Tak pelak lagi, masjid yang sepenuhnya menggunakan Semen Padang ini kini telah menjadi ikon Sumatera Barat. Siapa saja yang datang ke Padang tak lengkap rasanya untuk tidak shalat  di sini (bagi yang Muslim) dan berfoto untuk yang tidak shalat di sana. (faisal budiman)


    Video Terkait: