×

Iklan


Dimulai dari Peisir Selatan, Yagasu Restorasi 800 Hektar Hutan Mangrove Sumbar

30 Juli 2022 | 19:48:16 WIB Last Updated 2022-07-30T19:48:16+00:00
    Share
iklan
Dimulai dari Peisir Selatan, Yagasu Restorasi 800 Hektar Hutan Mangrove Sumbar
Manejer Yagasu Sumatera Utara (Medan) Anton Siregar saat melakukan sosialisasi di kawasan objek wisata pantai Penyu, Kenagarian Ampiang Parak Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (foto: Mil Hendrawandi).

Painan, Khazminang.id--  Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu) dari Provinsi Sumatera Utara, mendatangi Kabupaten Pesisir Selatan dalam rangka memberikan sosialisasi tentang cara penanaman, pembibitan dan manfaat hutan mangrove pada masyarakat di daerah itu.

 

Sosialisasi itu digelar pada sejumlah masyarakat yang berada di kawasan objek wisata  pantai Penyu di Kenagarian Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, yang juga dihadiri langsung oleh Ketua Laskar Turtle Camp (LTC) Haridman selaku pengelola kawasan.

     

    Manejer Yagasu dari Medan Anton Siregar didampingi stacholder Yagasu Sumbar, Darpius Indra mengatakan bahwa restorasi hutan mangrove merupakan isu global yang saat ini sedang digalakkan baik di tingkat nasional bahkan sampai ke tingkat internasional.

     

    "Kemarin kami memberikan sosialisasi pada masyarakat di Kawasan objek wisata pantai Penyu di Kecamatan Sutera. Dan hari ini pada masyarakat di Kenagarian Nyiur malambai Kecamatan Ranah Pesisir," kata Anton Siregar kepada Khazanah, Sabtu (30/7).

     

    Anton melanjutkan yayasan tersebut menargetkan Restorasi hutan mangrove untuk di Provinsi Sumatera Barat, seluas 800 hektare.

     

    Adapun pemijahan yang akan dilakukan adalah mangrove berjenis Rizopora apiculata, Rizopora stylosa, Rizopora mucronata, Avicennia, spp, soneratia, spp, brugiera spp, ceriops tagal,  dan Rizopora xylocarpus.

     

    Dikatakanya, Restorasi hutan mangrove dapat mendorong pelestarian keanekaragaman hayati di ekosistem mangrove dan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

     

    Oleh karena itu diperlukan keseriusan dari masyarakat dalam pengelolaan kawasan untuk melestarikan kembali hutan yang telah rusak agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitar kawasan mangrove tersebut.

     

    "sebab, sebagus apapun yang kita bangun tanpa dukungan mustahil akan berhasil,"ungkapnya.

     

    Ia menambahkan Restorasi ekosistem hutan mangrove ini sangat perlu dilakukan. Hal demikian dikatakan selain keberadaanya dapat mengantisipasi kerusakan lingkungan seperti perlindungan wilayah pesisir dari abrasi, ombak dan dampak kenaikan permukaan air laut.

     

    Namun juga bermanfaat untuk memperbaiki pemulihan ekosistem serta pementasan kemiskinan bagi daerah.

     

    "Pemamfaatan pohon mangrove ini dapat untuk pemulihan ekonomi bagi masyarakat salah satu adalah ranting mangrove yang nantinya dapat digunakan dalam membuat pakaian batik," ujar Anton.

     

    "Dan kami berharap program ini dapat berjalan dengan sukses dan bisa direplika di daerah terutama bagi daerah berjuluk sejuta pesona ini," harapnya.

     

    Sebelumnya, Yayasan Gajah Sumatera bakal melakukan Restorasi ekosistem di Negeri berjuluk "Sejuta Pesona".

     

    Ada empat kecamatan di daerah itu telah bersedia menyediakan lahan seluas 10 hektare dari kelompok yang aktif setelah penunjukan oleh masing - masing di nagari setempat.

     

    Ke empat kecamatan itu adalah Nagari Amping Parak Kecamatan Sutera, Nagari Nyiur Malambai Kecamatan Ranah Pesisir, Nagari Taluak Kecamatan Batang Kapas dan Punggasan di Kecamatan Linggosari Baganti.

     

    "Restorasi ini dilakukan mulai dari pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan nantinya akan ditunjuk oleh wali nagari bagi kelompok yang aktif," kata Darpius Indra selaku stacholder Yagasu Provinsi Sumatera Barat (Mil Hendrawandi).