×

Iklan

PITAN DASLANI MELIHAT KRISIS FINANSIAL AS (4)
Dicekik Utang tapi Sibuk Urus Perang

22 Mei 2023 | 14:19:52 WIB Last Updated 2023-05-22T14:19:52+00:00
    Share
iklan
Dicekik Utang tapi Sibuk Urus Perang
Pasukan AS di luar negeri butuh biaya besar

Meskipun di tengah kepusingan di Gedung Putih, Presiden Joe Biden masih sempat pula memeluk Presiden Volodymyr Zelensky yang diundang secara khusus untuk menghadiri KTT G7 di Horishima, dan menjanjikan tambahan bantuan persenjataan untuk memerangi Rusia, di luar dari komitmen bantuan persenjataan senilai $33 milar serta realisasi Lend-Lease Act yang dijanjikan pada tahun 2022 untuk Ukraina.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Amerika Serikat, menghabiskan lebih dari $877 miliar untuk belanja pertahanan dalam tahun 2022, atau naik USD71 miliar dari alokasi anggaran pertahanan di tahun 2021.

Angka itu sama dengan 40 persen dari total belanja militer semua negara lain di tahun 2022. Dana yang dikeluarkan Amerika untuk belanja NATO saja berjumlah $824 miliar dari total anggaran militer NATO sebesar $1,2 triliun pada tahun 2021.

    Hebatnya Amerika Serikat adalah meskipun dirinya terlilit utang besar yang sudah mencekik leher, tapi dia tetap saja menyalurkan bantuan persenjataan senilai puluhan miliar dolar ke medan perang di negara, lain termasuk Ukraina. Untuk apa? Untuk mengharapkan imbalannya setelah perang berakhir, melalui pengurasan sumber daya alam berlipat kali ganda.

    Sanksi-sanksi yang dijatuhkan Amerika dan sekutu-sekutunya di NATO terhadap Rusia ternyata menyengat Amerika sendiri. Pasar Master Card dan Visa Card kini diambil alih oleh Union Pay milik China, yang berlaku di 192 negara. Toko-toko makanan cepat saji milik Amerika yang beroperasi di Rusia kini pelanggannya diambil-alih oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri Rusia setelah jaringan pemasarannya bersusah payah dibangun oleh perusahaan-perusahaan Amerika.

    Dolar Amerika yang sebelumnya dipakai dalam perdagangan minyak antara Rusia-China dan Rusia-India kini dibuang dan diganti dengan mata uang dari negara-negara tersebut. Belum lagi peluang investasi yang tadinya akan digarap oleh perusahaan-perusahaan Amerika di Rusia kini diambil alih oleh China dan Arab Saudi, termasuk membangun kilang minyak Arab Saudi di China dengan investasi awal senilai $10 miliar atas perintah Putra Mahkota dan Perdana Menteri Muhammad bin Salman al-Saud.

    Sanksi-sanksi itu pun semakin memperluas volume perdagangan dan investasi China-Rusia serta interaksi bisnis antara Rusia dengan negara-negara Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang mencakup 18 negara di kawasan Asia. (Baca juga: Krisis AS, Pelajaran Bagi Indonesia)