×

Iklan


Di Tengah Pandemi, Unit Syariah Maybank Bukukan Laba PBT Rp403 Miliar

24 November 2021 | 21:00:31 WIB Last Updated 2021-11-24T21:00:31+00:00
    Share
iklan
Di Tengah Pandemi, Unit Syariah Maybank Bukukan Laba PBT Rp403 Miliar

Jakarta, Khazminang.id – Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia mampu membukukan laba sebelum pajak (PBT) naik 21,5% menjadi Rp403 miliar di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Hal ini didukung oleh fokus berkelanjutan yang dilakukan untuk meningkatkan pendanaan yang lebih efisien dan mengurangi simpanan berbiaya tinggi.

Meskipun simpanan nasabah turun 5,7% menjadi Rp25,93 triliun, tetapi total CASA naik 35,5% menjadi Rp9,03 triliun pada September 2021. Rasio CASA Unit Usaha Syariah meningkat menjadi 34,8% pada September 2021 dari 24,2% pada tahun sebelumnya. Total pembiayaan Unit Usaha Syariah juga turun sebesar 1,5% menjadi Rp24,81 triliun pada September 2021. Sementara, total aset Unit Usaha Syariah per September 2021 naik 3,6% menjadi Rp37,06 triliun dibandingkan Rp35,77 triliun tahun lalu.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria saat menggelar paparan publik (public expose) secara online dan offline (hybrid) untuk menyampaikan perkembangan terkini seputar bank kepada publik, termasuk para pemegang saham dan investor kemarin mengatakan, pihaknya menilai roda perekonomian di kuartal ketiga 2021 mulai bergairah kembali. Hal ini dapat dilihat dari tingkat optimisme di tengah masyarakat seiring menurunnya kasus positif Covid-19, dan pelonggaran level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di beberapa daerah di Indonesia.

    “Didukung berbagai program stimulus dan agenda vaksinasi pemerintah, kami percaya, pemulihan yang sedang berlangsung dapat meningkatkan kepercayaan pasar yang akan berdampak pada pemulihan ekonomi nasional,” katanya.

    Meskipun perekonomian berangsur pulih, namun pihaknya akan tetap disiplin dalam mengelola pertumbuhan bisnis bank dan senantiasa menerapkan manajemen risiko yang konservatif ditengah kondisi yang menantang. Di sisi lain, pihaknya akan terus berinovasi dalam menyediakan berbagai produk dan solusi keuangan yang relevan bagi nasabah, sejalan dengan misi bank, Humanising Financial Services.

    Dikatakan, tren transaksi digital Maybank Indonesia senantiasa mengakselerasi layanan perbankan digital yang terdiri dari aplikasi (App), internet banking (Web) dan layanan e-banking M2E untuk nasabah korporasi. Hal ini dikarenakan layanan digital M2U kini telah menjadi salah satu channel utama bagi nasabah untuk melakukan transaksi perbankan, khususnya di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat pandemi.

    “Peningkatan layanan perbankan digital yang diterapkan meliputi penyempurnaan dan pengembangan fitur baru untuk meningkatkan kapabilitas dari ekosistem M2U, diantaranya dengan memperkenalkan fitur e-KYC dan Biometrik untuk memudahkan proses pembukaan rekening online bagi nasabah tanpa memerlukan tatap muka melalui video call ataupun mendatangi kantor cabang untuk melakukan proses verifikasi,” terangnya.

    Secara umum, lanjutnya, perkembangan kinerja Maybank Indonesia mencatat perolehan laba sebelum pajak  tercatat Rp1,48 triliun, naik sebesar 2,1% dari Rp1,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Ini tercapai karena terjadi penurunan biaya provisi, biaya dana (cost of funds) dan overhead. Sementara laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (profit after tax and minority interest/PATAMI) turun 3,3% menjadi Rp1,06 triliun pada September 2021 dari Rp1,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya, karena adanya penyesuaian perhitungan pajak tangguhan atau deferred tax.

    Sejak 2020, Maybank Indonesia mengambil langkah konservatif dan secara proaktif mencadangkan provisi pada portofolio di seluruh segmen bisnis, di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Bank terus mendampingi debitur yang masih menghadapi tantangan dan menerapkan program restrukturisasi untuk menjaga kualitas aset Bank.

    “Upaya proaktif bank dengan mencadangkan provisi dan dampak positif dari penerapan program restrukturisasi tersebut telah memberikan kontribusi kepada penurunan biaya provisi Bank sebesar 26,4%,” katanya.

    Di tengah pandemi, lanjutnya, pihaknya tetap menerapkan risk appetite yang konservatif pada penyaluran kredit yang disetujui untuk menjaga kualitas aset. Kredit bank turun 9,7% menjadi Rp98,79 triliun yang disebabkan oleh penurunan kredit pada segmen global banking sebesar 6,0% dan kredit Community Financial Services (CFS) sebesar 11,5%, di mana kredit CFS Non-Ritel dan kredit CFS Ritel masing-masing turun sebesar 17,0% dan 5,5%.

    Portofolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) CFS-Ritel, yang pada kuartal sebelumnya mengalami fase pembalikan (turnaround), masih bertumbuh positif sebesar 5,9% pada sembilan bulan 2021 menjadi Rp14,82 triliun dari Rp13,99 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Secara kuartalan, KPR juga bertumbuh 2,8% dari Rp14,42 triliun di kuartal sebelumnya.

    Total simpanan nasabah tercatat turun 12,6% menjadi Rp101,88 triliun oleh karena menurunnya Simpanan Berjangka (time deposits) sebesar 19,9%. Hal ini selaras dengan strategi Bank untuk mempertahankan likuiditas yang kuat dan basis pendanaan yang efisien dengan mengurangi simpanan berbiaya tinggi. Profil pendanaan Bank makin kuat, tercermin pada rasio CASA di level 44,7% dari total simpanan nasabah pada September 2021. Rasio tersebut meningkat dibanding 39,7% pada periode yang sama tahun lalu. CASA turun tipis 1,5% menjadi Rp45,54 triliun pada September 2021 dari periode yang sama tahun lalu. Posisi likuiditas Bank tetap kuat dengan rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit Ratio (LDR bank saja) berada di posisi yang sehat, pada level 84,5%. Sementara, Rasio Kewajiban Pemenuhan Kecukupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR bank saja), tercatat sebesar 175,0% pada September 2021, yang terkelola dengan baik dan berada di atas tingkat minimum yang diwajibkan regulator sebesar 100,0%. Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 26,6% pada September 2021 dibanding 23,5% pada periode yang sama tahun lalu. Total modal Bank tercatat naik menjadi Rp27,67 triliun pada September 2021 dari Rp26,66 triliun pada September 2020. (devi)