×

Iklan


Dahsyatnya 'Brand Image' Pedagang Mie Ayam

23 Juni 2022 | 11:34:00 WIB Last Updated 2022-06-23T11:34:00+00:00
    Share
iklan
Dahsyatnya

Padang, KhazMinang.id - Sudah hampir 2 minggu pedagang mie ayam di jalan menuju sebuah komplek di kawasan Andalas itu tutup alias tidak berjualan. Karena penasaran, saya coba tanya ke warung di depannya “Sore buk, maaf mau tanya, mie ayam yang di depan pindah kemana ya buk?”

Sambil tersenyum ibu yang punya warung menjawab “Waahh, pedagang mie ayam ini agak unik pak. Kalo uangnya sudah cukup, mereka istirahat jualan. Terus … kalo uangnya sudah habis, baru mereka jualan lagi. Pokoknya suka-suka aja pak, mau buka, mau tutup, gak pernah ngasih tau”.

“Kemarin ini, sampai 3 bulan mereka tutup, banyak yang nanya ke warung saya. Begitu dia buka lagi, langsung ramai. Memang sih, mie ayamnya enak, banyak orang bilang begitu”.

    Berjualan mie ayam, dapat uang secukupnya, berhenti jualan, lalu kalo uangnya sdh habis, baru jualan lagi. Betul, memang aneh juga prinsip dagang si perdaganag mie ayam yang satu ini. Gak pengen kaya atau dapat rezeki lebih.

    Namun, dibalik itu ada hal lain yang lebih menarik menurut saya. Kenapa orang-orang tetap mencari mie ayam itu, padahal sering tutup atau istirahat jualan sampai berhar-hari. Kenapa konsumen gak mau pindah ke mie ayam yang lain? Kenapa pembeli sabar menunggu mie ayam itu buka lagi?

    Apakah ini yang disebut dengan kekuatan ‘Brand Image’. Hhmmm, mungkin juga, tapi yang jelas untuk bisa membangun brand image seperti itu, pastilah butuh waktu yang cukup lama.

    Secara teori, proses branding itu harus memiliki komponen seperti nama atau merek dagang, logo, visual dan lain-lain. Tapi ini, gerobak mie ayamnya hanya bertuliskan ‘Bakso-Pangsit’ yang ditempel dengan stiker di kaca gerobaknya. Tidak ada nama atau merek khusus agar dikenal. Apalagi logo atau akun media sosial. Jualannya aja di emper toko, tapi kenapa selalu ramai dan dicari oleh konsumen?

    Betapa dahsyat ‘brand image’ yang telah dibangun oleh si pedagang mie ayam ini. Mereka tidak pernah khawatir tidak ada pembeli, mereka tidak takut akan muncul pesaing mie-mie ayam lain di sepanjang jalan itu, mereka yakin tidak akan kehilangan pelanggan, mereka fokus dengan usahanya. Sungguh luar biasa !

    Lalu, apa kekuatan brand image pedagang mia ayam ini ?

    Setelah 2 bulan jadi pelanggan setia mie ayam tersebut, saya baru bisa menyimpulkan, ini ternyata rahasia sukses mie ayam tersebut.

    1.       KUALITAS PRODUK

    Tidak diragukan lagi, bakso dan mie ayamnya sangat lezat dan gurih, tidak ada duanya, semua konsumen yang belanja disana mengakuinya, bikin ketagihan dan pengen kembali kesana.

    2.       HIGENIS

    Kebersihan menjadi faktor utama bagi si pedagang mie ayam untuk tetap dijaga, sehingga konsumen merasa nyaman, walapun hanya duduk di kursi plastik dan meja tua beralas plastik lusuh, namun tetap bersih dan rapi.

    Ada yang lebih menarik, sisa kerupuk pangsit yang tidak habis dimakan oleh konsumen sebelumnya, ternyata tetap meraka dibuang / sisihkan, tidak disatukan dengan kerupuk yang baru, artinya konsumen yang baru datang tetap akan mendapatkan kerupuk pangsit baru dan fresh.

    3.       PELAYANAN

    Pedagangnya ramah, berpakaian rapi dengan handuk kecil di leher digunakan untuk menyeka keringat di pipi agar tidak menetes. Dibantu oleh sang istri melayani setiap konsumen, mencuci piring dan merangkap kasir.

    Tutur kata mereka sangat lembut dengan eksen jawa yang kental, bahkan sering terdengar kata ‘maaf’ dari mulutnya sambil membungkukkan badan ketika meletakkan mangkok mie ayam dimeja, atau saat mengangkat mangkok bekas, membersihkan sisa makanan atau menuangkan air minum. 

    Ucapan ‘terima kasih’ juga selalu terucap dari mulut si pedagang mie ayam itu saat menyerahkan uang kembalian atau melayani konsumen ‘take away’ yang sabar menunggu antrian. 

    Ada lagi yang menarik perhatian saya, ketika pedagang me ayam itu tidak punya uang receh seribu rupiah, ia dengan  ikhlas menyerahkan kembalian uang kertas 2 ribu ke konsumennya, sambil berkata “maaf kembalian seribunya gak ada, ambil aja ini ya, gak pa apa, ikhlas”.

    4.       TEMPAT

    Lokasi dagangnya juga tidak terlalu strategis, hanya diemper toko yang tutup pada sore hari, tempat parkirnya kecil dan kalo hujan pasti basah. Namun konsumen tidak peduli dan sangat menikmati kondisi ini, tidak ada terdengar keluhan, yang ada itu mereka senang belanja disana.

    5.       HARGA

    Sudah pasti harganya lebih murah, karena jualannya aja diemperan toko dengan gerobak dorong sederhana, tidak butuh sewa tempat. 

    6.       FOKUS

    Pedagang mie ayam itu fokus berjualan dengan dagangannya, yaitu bakso dan mie ayam atau pangsit, tidak menoba untuk mengembangkan usaha minuman jus, atau jual pulsa, jual roti dan lain-lain 

    Saya kira, inilah kunci keberhasilan pedagang mie ayam itu membangun ‘Brand Image’ dagangannya, sehingga ia tidak pernah merasa takut tidak laku atau ditinggalkan oleh konsumen.

    Semoga bermanfaat, sukses selalu (JJ)