×

Iklan


Climate Change dan Perubahan Orientasi Berbisnis UKM

11 September 2023 | 10:37:20 WIB Last Updated 2023-09-11T10:37:20+00:00
    Share
iklan
Climate Change dan Perubahan Orientasi Berbisnis UKM
UMKM kita

Oleh : Dr. Hafiz Rahman, SE, MSBS,

Salah satu tantangan masa depan umat manusiayang telah memperlihatkan dampakmembahayakn didepan mata adalah terjadinya perubahan iklim/climate change. Meningkatnya suhu udara/pemanasan global, ketidakteraturan urutan musim, kenaikan suhu dan permukaan air laut, tingginya tingkat kelembabanserta ketidakstabilan curah hujan adalah sebagian dari indikasi utama terjadinya perubahan iklim yang dampaknya telah sama kita rasakan saat ini. Perubahan iklim bukan lagi menjadi sebuah fenomena, tapi sudah menjadi fakta tak terelakkan yang sayangnya harus kita rasakan saat ini. Hashemati (2020) dalam temuannya menyatakan bahwa perubahan iklim tidak saja akan menyasar dan berdampak pada hewan dan tumbuhan, tapi juga umat manusia. Berkurangnya kualitas dan kecukupan air serta sumber makanan, tingginya angka kematian serta arus migrasi yang cukup tinggi antar wilayah merupakan dampak nyata perubahan iklim bagi umat manusia. Fakta seperti ini sebenrnya sudah cukup lama dikemukakan oleh Beniston pada tahun 2010 lalu. Ia menyatakan bahwa perubahan iklim dimasa depan akan berdampak negatif terhadap kesejahteraan umat manusia. Terjadinya degradasi lingkungan yang cukup cepat serta perubahan lingkungan sosial serta perilaku masyarakat merupakan penyebab utama makin menurunnya kualitas kehidupan umat manusia. Pada konteks Indonesia, Case, Ardiansyah dan Spector (2010) sebelumnya telah menemukan indikasi bahwa menipisnya ketersediaan air bersih, kenaikan permukaan laut, tergerusnya keanekaragaman hayati dan menurunnya tingkat kesehatan penduduk adalah dampak perubahan iklim yang harus ditanggung oleh Indonesia.

Mencermati fakta demikian, tentunya umat manusia harus bergerak cepat untuk mengantisipasi dan meminimalisir dampak merugikan dari perubahan iklim yang sudah tampak didepan mata. Berbagai fakta dan temuan memperlihatkan bahwa praktek bisnis tidak bertanggung jawab yang dilakukan oknum pelaku bisnis (individu maupun perusahaan) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya percepatan dampak negatif perubahan iklim tersebut. Dengan situasi ini, tentunya menjadi sesuatu yang penting bagi para pemangku kepentingan untuk menetapkan kebijakan dan intervensi yang dapat mengatur pelaksanaan bisnis menjadi jauh lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Salah satu kebijakan dan intervensi yang memungkinkan adalah yang terkait dengan reorientasi sistem bisnis yang dilakukan oleh tiap pelaku bisnis, mulai dari pelaku usaha kecil, dan menengah (UKM) maupun usaha besar dan korporasi sekalipun. 

    Berkenaan dengan UKM, kita perlu mengetahui bahwa dengan segala karakteristik maupun keterbatasannya UKM merupakan salah satu pelaku bisnis yang memiliki posisi unik didalam kajian maupun pertimbangan mengenai penyebab maupun dampak perubahan iklim. Dengan jumlahnya yang begitu besar (ditiap negara didunia UKM nyaris selalu mendominasi jumlah terbesar pelaku bisnis dengan rerata sekitar 90%), UKM diidentifikasi sebagai pihakyang berkontribusidan sekaligus sebagaipihak yang terdampak dari terjadinya perubahan iklim. Besarnya jumlah UKM sebagai entitas bisnis dengan berbagai jenis dan model bisnisyang dimiliki dinilai merupakan salah satu sumber terbesar yang berkontribusi terhadap terjadinya perubahan iklim. Disisi lain, dengan keterbatasannya untuk mengantisipasi dan merespon dampak perubahan iklim, UKM juga dinilai sebagai entitas bisnis terdampak paling parah dari terjadinya perubahan iklim. Temuan International Trade Corporation pada tahun 2021 menunjukkan hanya 38% saja dari total seluruh UKM didunia yang mampu dan memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan merespon dampak perubahan iklim tersebut. Persentase sebesar 38% tersebut kebanyakan merupakan UKM yang berada dinegara-negara maju. Amat sedikit yang merupakan UKM dari negara berkembang atau negara dengan tingkat perekonomian terbelakang baik di Asia, Afrika, maupun Amerika Latin.

    Situasi tersebut tentunya amat mengkhawatirkan. Posisi UKM yang menjadi penyebab/kontributor sekaligus sebagai pihak yang terdampak perubahan iklim harus segera dicarikan solusi tuntas agar kontribusi mereka terhadap terjadinya dampak negatif perubahan iklim bisa minimum. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri dari para pemangku kepentingan UKM dan perubahan iklim, untuk mencari cari bagaimana mereduksi dampak perubahan iklim yang bersumber dari UKM ini. Situasi internal terkait pemahaman, pengetahuan dan idealisme pengusaha maupun karyawan UKM yang relatif rendah dalam berbisnis disinyalir merupakan sumber dari semua tantangan tersebut. 

    Salah satu solusi penting dari dunia bisnis terkait perubahan iklim berhubungan dengan perlunya reorientasi operasional bisnis yang mereka lakukan. Jika sebelumnya pelaku bisnis terkesan seenaknya untuk melakukan ekploitasi sumber daya untuk memperoleh profit, maka fakta terkait dampak perubahan iklim harus turut membuat pengusaha memikirkan kembali mengenai orientasi bisnis mereka. Bagi perusahaan besar, hal ini sebenarnya sudah menjadi keharusan  karena mereka memiliki berbagai sumber daya (finansial, fasilitas, pengetahuan dan sebagainya) yang dapat membantu mereka berkontribusi untuk meminimalisir perubahan iklim. Namun pertanyaannya, bagaimana dengan UKM dengan segala karakteristik dan keterbatasannya?

    Hasil riset yang kami lakukan terhadap pelaku UKM di beberapa wilayah di Sumatera Barat terkait perubahan iklim dan kemauan mereka untuk melakukan reorientasi bisnis ke arah yang lebih ramah lingkungan sayangnya memperlihatkan hal yang kurang menggembirakan. Temuan kami selanjutnya menunjukkan bahwa ternyata pelaku UKM pada konteks studi memiliki pengetahuan/knowledge diatas rata-rata dan memiliki kesadaran/awareness cukup tinggi terhadap penyebab dan dampak perubahan iklim. Yang mengherankan adalah tingkat pengetahuan dan kesadaran yang dimiliki pelaku UKM tersebut ternyata tidak mampu menjadi pendorong dan motivasi utama mereka untuk melakukan reorientasi bisnis kearah yang lebih ramah lingkungan alam. Pertanyaan besarnya tentunya, mengapa demikian? Konstruksi berpikir seperti apa yang sebenarnya terjadi didalam diri pelaku UKM kita?

    Satu hal yang kami simpulkan dari studi/riset tersebut adalah bahwa ternyata pengetahuan maupun kesadaran akan perubahan iklim ternyata tidak mampu membuat pelaku UKM untuk bersedia melakukan reorientasi bisnis dan merubah perilaku untuk jadi lebih ramah lingkungan. Hal ini tentunya memprihatinkan. Konsepsi maupun temuan empiris terkait pendidikan dan pembelajaran yang dihubungkan dengan perubahan perilaku individu selalu menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesadaran/awareness akan sesuatu merupakan hal yang akan jadi pendorong perubahan perilaku kearah yang lebih positif. Namun dalam konteks perilaku berbisnis pelaku UKM, ternyata hal ini tidak terjadi. Walaupun mereka memiliki tingkat pengetahuan memadai dan ditambah dengan kesadaran akan perubahan lingkungan, ternyata hal itu tidak mampu merubah perilaku dan orientasi mereka dalam berbisnis untuk masa depan.

    Hal riset kami lebih lanjut menghasilkan temuan mengejutkan bahwa pengusaha UKM ternyata  lebih mementingkan memperoleh pendapatan untuk bertahan hidup dalam jangka pendek, ketimbang berpikir jangka panjang untuk melakukan reorientasi berbisnis guna meredam dampak negatif perubahan iklim.Pragmatisme berpikir seperti  ini ternyata merupakan alasan utama bagi pelaku UKM walaupun sesungguhnya mereka sadar dan tahu mengenai penyebab maupun dampak perubahan iklim yang akan merugikan mereka.  Situasi ini tentunya merupakan dilemma tersendiri bagi pemangku kepentingan terkait kebijakan yang dipilih dalam mengantisipasi perubahan iklim. Disatu sisi, perkembangan/pertumbuhan perekonomian wilayah membutuhkan kontribusi dari roda bisnis yang digenjot UKM sebagai entitas pelaku bisnis terbesar. Namun disisi lain, bahaya laten masa depan umat manusia sudah mendatangi umat manusia dan UKM sebagai pelaku bisnis ternyata tidak mau merubah orientasi berbisnis mereka. 

    Dalam situasi tersebut, tentunya dibutuhkan win-win solution bagi kedua kepentingan tersebut. Walaupun terdapat pertimbangan multidimensional, pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya harus secermat mungkin untuk merancang kebijakan, skema ataupun intervensi seperti apa yang perlu dilakukan untuk menghasilkan jalan tengah terbaik. Namun yang pasti, pemikiran untuk menyelamatkan generasi mendatang sebaiknya haruslah dijadikan pondasi, pedoman, rujukan dan pijakan utama dalam pembuatan kebijakan maupun intervensi terkait hal ini. Mempertebal dan meningkatkan kesadaran untuk berinisiatif melakukan praktek baik terkait kepedulian pada lingkungan sosial maupun lingkungan alam harus menjadi fokus yang perlu ditanamkan pada anak sedari dini agar timbul kontrol sosial pada masing-masing anggota masyarakat. Perubahan iklim dengan segala dampak negatifnya adalah nyata dan itu terjadi karena kelalaian manusia untuk mengantisipasi. Sehingga kedepannya kita jangan lagi melakukan kesalahan yang sama. Bagaimanapun, anak cucu kita masih butuh akan kesegaran dan keindahan bumi ini sebagai bekal mereka untuk bertahan hidup dan sejahtera dimasa depan. Kita harus turut bertanggung jawab untuk menyediakan itu bagi mereka.

    ***** 

    Hafiz Rahman -- Dosen-Peneliti Kewirausahaan dan UKM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Univ. Andalas. Direktur - Center for Excellence in Entrepreneurial Dynamics (CEEDy) – Universitas Andalas,  Research Fellow - Brandenburgische Technische Universitaet (BTU) Cottbus-Senftenberg, Jerman