×

Iklan


“Cik Uniang” Revila, Wanita Pertama Dunia yang Menjabat Chief U9 Unamid

21 Juli 2020 | 22:59:17 WIB Last Updated 2020-07-21T22:59:17+00:00
    Share
iklan
“Cik Uniang” Revila, Wanita Pertama Dunia yang Menjabat Chief U9 Unamid
LETKOL (sus) Revila Oulina, bersama anak-anak Sudan. Revila yang berdarah asli Minang, menjadi wanita pertama di dunia yang mengemban jabatan penting dalam tim Unamid. IST

Siapa bilang perempuan tidak bisa mengimbangi tugas kaum laki-laki? Buktinya, perempuan kelahiran 1972, bernama lengkap Lekol (sus) Revila Oulina, M.Pd, M.Si ini, memberanikan diri untuk ikut tes menjadi seorang prajurit TNI, hingga dipercaya menjadi bagian dari Tim Unamid (United Nation African Union Mission).

Ya, dia adalah seorang Bundo Kanduang, karena memang asli berdarah Minang. Masa kanak-kanak dan sekolahnya, dihabiskan di Kabupaten Padang Pariaman, persisnya di sebuah nagari tersuruk bernama Kampung Dalam. Mulai dari SD hingga SMP. Maka tak heran juga, keseharian Revila, kerap disapa dengan panggilan Cik Uniang

Saat menjadi bagian dari tim Unamid dan diangkat sebagai Chief U9, Revila merupakan satu-satunya perempuan pertama di dunia yang dipercaya mengemban jabatan tersebut. Karena dalam sejarah militer Indonesia, bahkan dunia, memang belum pernah ada perempuan yang menempati jabatan Chie Military Coordination (Cimic).

    “Saya bersyukur dan terharu sekali untuk jabatan ini. Apalagi memang belum pernah ada dijabat oleh wanita. Sayalah wanita militer Indonesia pertama yang mengemban jabatan tersebut,” kata Revila yang merupakan satu dari 9 Chief itu.

    Dia menceritakan, awal mula mencoba mendaftar tes masuk TNI pada tahun 1996. Namun, karena belum nasib, pada tahun itu dia belum lulus. Tetapi Revila tidak berputus asa, pada tahun 1998, dirinya mencoba lagi untuk tes. Dan Alhamdulilah, Revila diterima sebagai TNI Angkatan Udara (TNI AU) dengan penempatan pertama di Bandung.

    Usai menamatkan SMP di Kampung Dalam Padang Pariaman, Revila melanjutkan pendidikan di SPG 2 di Padang. Setelah itu, dia melanjutkan kuliah di FKIP jurusan Bahasa Inggris di Universitas Bung Hatta, Padang. Belum puas sampai (S1), Revila kembali melanjutkan pendidikannya di Uninus dan Unnur Bandung dan dia tamat (S2).

    Ketika mulai duduk di bangku kuliah saat mengambil pendidikan S1 di Bung Hatta dulu, minat dan keinginannya untuk masuk menjadi TNI sebenarnya sudah mulai timbul. Hal itu terbukti dengan keseriusannya menggeluti dan berkecimpung di organisasi kampus yaitu Resimen Mahasiswa (Menwa).

    Walaupun digelar dengan polisi kampus, tetapi untuk lulus tesnya pun setengah mati baru bisa lulus. Latihannya persis kayak militer dan di dalam organisasi Menwa, diajari tentang ilmu kemiliteran dengan disiplin yang tinggi.

    Perempuan yang mengaku bersuku Piliang ini, menceritakan setelah mengikuti pendidikan di Pusdik Kowad Bandung tahun 1998, dia dilantik sebagai Letnan Dua (Letda) dan langsung disekolahkan sebagai bekal di kesatuan. Putri dari pasangan (alm) Mukhtar dan (almh) Hj. Nursina ini, merupakan anak ke 8 dari 9 bersaudara

    Sebagai tempat tugas pertama, Revila ditempatkan di Lanud Sulaiman Bandung. Selama berdinas, Revila juga mengikuti sekolah-sekolah dan kursus untuk menunjang karir. Penempatan di militer tidak hanya satu tempat saja, sekali 2 tahun pindah dari satu satuan ke satuan lain.

    Ibu dua orang anak ini, kini telah berpangkat Letkol. Sebelumnya mengikuti Pendidikan Seskoau tahun 2015 di Lembang Bandung dan sekarang ibu dari Shayidina Daffa Devilla berdinas di Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (SEKKAU) Halim Perdana Kusuma Jakarta sejak tahun 2018, sampai sekarang.

    Misi PBB di Sudan, Negeri Tanpa Awan

    Revilla bersama 6 (enam) TNI lain pada 12 Juni 2017 diterima Duta Besar RI untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman. Mereka adalah Letkol Cpl Fanlik Efendi, Letkol Laut/P Awang Bawono, Mayor Pnb Arif Sujatmiko, Mayor Laut/P Irianto, Mayor Inf Patria, Mayor Mar Laili N.

    Sudan disebut dengan negeri tanpa awan, karena selama bertugas di Sudan jarang dilihat ada awan, yang ada hanya terik matahari di siang hari yang panasnya mencapai 45 derajat. Kalau pun ada hujan sangat jarang sekali, jangan harap 1 kali dalam sebulan. Tetapi hanya dua kali dalam setahun.

    Disebutkan lagi, dalam menjalankan tugas di HQ Elfasher itu, butuh penyesuaian diri, terutama lingkungan udara yang kurang bersahabat. Apabila siang hari panasnya minta ampun dan kalau malam dinginnya juga minta ampun. Tetapi karena tugas, Revilla dapat melaluinya bersama orang-orang dari negara yang ditugaskan berasal dari berbagai negara belahan dunia dengan culture yang berbeda pula.

    Sebelum kembali ke Tanah Air pada tahun 2018, Revilla melakukan Traveling ke Mesir, untuk melihat ragam budaya dan tempat wisata yang ada di Cairo. “Alhamdulillah, semua dapat berjalan dengan lancar ke tanah air tercinta,” ujarnya.

    Selama bertugas di Sudan banyak pengalaman suka dan duka yang dirasakan. Pada daerah misi, banyak bertemu dan berteman dengan orang-orang yang datang dari berbagai negara dengan tujuan yang sama yaitu ikut misi kemanuasiaan.

    “Walaupun berbeda budaya, agama dan makanan. Tapi tidak menghalangi untuk bersatu di bawah naungan UN Peacekeeper. Bekerja dengan orang luar tidak begitu sulit di dalam penyesuaian diri, mereka sangat baik, ramah tamah dan suka membantu,” ucap Villa.

    Ditambahkan, berteman dengan orang yang beda negara sangat menyenangkan, karena merupakan pengalaman baru buat diri kita, mereka berteman apa adanya dan tidak ada yang bermuka dua, umumnya semua boleh dibilang baik.

    Villa juga berpesan kepada yang berminat ikut misi jangan takut atau kuatir tidak akan ada teman atau dikucilkan di sana, justru banyak sekali yang mau jadi teman. Dengan catatan, harus pandai bahasa asing, seperti Engglish dan bahasa Arab.

    Bahasa yang digunakan sehari-hari di negeri tanpa awan ini adalah bahasa Arab 95 persen, masyarakatnya muslim, semua wanita Sudan yang dijumpai memakai busana muslim. Tetapi belum memakai hijab, mereka memakai selendang menutup kepalanya.

    Demikian kisah Revilla Oulina, dari mengikuti misi PBB di Negara Sudan. Negara yang disebut tanpa awan. Semoga kisah ini dapat penyemangat bagi perempuan lain di Indonesia. “Jangan merasa minder dengan prediket “padusi”,” ucap Villa mengakhiri ceritanya. **