×

Iklan


Cerita Tiga Palu dari Arena Konferensi PWI Sumbar

24 Juli 2022 | 12:38:01 WIB Last Updated 2022-07-24T12:38:01+00:00
    Share
iklan
Cerita Tiga Palu dari Arena Konferensi PWI Sumbar
Thor Putra Odin dari Asgard

Oleh: Eko Yanche Edrie

 

    Jika hari ini diberitakan soal hasil Konferensi Provinsi (Konferprov) XII PWI Sumbar tentu sudah menjadi berita basi, karena beberapa menit saja setelah penghitungan suara hasil votting di forum Konferprov Sabtu kemarin (23/7), beritanya sudah mangalabuik di berbagai media daring.

    Jadi saya hanya mau cerita tentang martil.Tentu saja martil beda (bahkan tak ada hubungan sama sekali) dengan martir. Martil bahasa awaknya panokok, dan bahasa Aiengeknya hammer hehehe. Sedangkan martir adalah  hal yang berbeda lagi.

    Dalam cerita komik besutan Marvel, ada pahlawan yang memiliki senjata martil, namanya Thor. Senjata martil atau palu milik Thor itu disebut Mjolnir. Itu adalah palu yang maha berat, hanya Thor saja di dunia ini yang sanggup mengangkat dan mengayunkannya. Dan begitu diayunkan, itu berarti mengancurkan keangkaramurkaan, menegakkan keadilan.

    Bagi Marvel yang awalnya mengusung Spiderman dan lain-lain, cerita tentang Thor yang aslinya bukan lahir di AS justru menarik mereka. Karena itu Thor dimasukkan ke dalam salah satu tim Avangers oleh Marvel. Thor sudah ada jauh sebelum Spiderman di AS, Thor adalah epic yang tumbuh di negara-negara Nordic, di Eropa Utara. Thor dari negeri Asgard adalah putra Odin, raja di Asgard.

    Kembali ke martilnya, senjata maha berat yang disebut Mjolnir itu. Dalam film terakhir Marvel, Thor: Ragnarok, dikisahkan bahwa senjata hebat itu akhirnya hancur. Tapi penonton yang penasaram dihibur oleh Marvel dalam seri berikutnya, Thor: Love and Thunder senjata itu bisa muncul kembali.

    Martil atau panokok atau palu  dalam diksi kemingkabauan dianggap juga sebagai sebuah kekuatan, pendorong atau memberi semangat (elan) agar orang bergerak, terdorong untuk maju dan bekerja. Pasangan akrab panokok itu adalah pahat. Selalu saja pahat itu diasosiasikan sebagai karakter yang pasif, yang baru bergerak jika palu bergerak. Adagiumnya: cando pahek, ditokok baru manggarik.

    Palu dalam ranah hukum, juga merupakan kekuatan hebat. Begitu hakim mengetukkan palu di meja hijau, maka itu berarti sesuatu akan terjadi: ada yang dihukum, ada yang dibebaskan, ada yang merupakan pertanda dimulai sesuatu persidangan  atau penutupannya.

    Kemarin, dalam arena Konferprov cerita tentang palu saya catat tak kalah menariknya dengan palu Thor dari Asgard itu. Pada sidang paripurna pertama yang dipimpin oleh Steering Commite, H. Amiruddin, Sukri Umar, Jayusdi Effendi, Zulnadi, Nita Arifin dan saya. Kami bersepakat Haji Amir lah yang jadi Ketua Persidangan untuk pengesahan jadwal dan tata tertib Konferprov sebelum pimpinan Konferprov terpilih.

    Haji Amir  meminta saya mencarikan palu untuk diketukkan di meja. Kata saya, pakai mengetuk mikrofon sajalah, tapi Amir tetap meminta palu. Kata dia, kalau pimpinan sidang pakai palu lebih berwibawa, marwahnya lebih terasa.

    Maka saya mencari salah satu anggota OC minta mencarikan palu. Dalam gedung itu ternyata tidak ada palu. Tak lama Charles Zein salah seorang anggota OC datang membawa sepotong kayu, katanya pakai itu saja. Tentu saja jangan Amir, saya pun akan menolak menggunakan kayu jelek itu. Saya minta tetap dicarikan palu, kemanapun.

    Tak lama kemudian datanglah Lailatul Aidil yang betugas di seksei persidangan menghampiri saya, lalu menyerahkan martil baja tuang seberat 2 Kg.

    Hah?

    Tapi Aidil memberikan juga sebuah balok kayu kecil yang menurutnya itu landasan untuk dipukul oleh pimpinan sidang. Ia menerka pikiran saya rupanya, bahwa kalau martil baja tadi dipukulkan ke meja oleh Amir, alamat akan bergawa, bisa remuk daun mejanya. Tapi Amir mencoba memakainya dengan memukulkan pelan-pelan.

    Seperempat jam kemudian, Charles Zein datang lagi menghampiri saya dan menyerahkan sebuah martil baja yang kecil sebesar jempol orang dewasa. Nah ini lumayan lah daripada martil yang seperti senjata Thor tadi. Amir kemudian dengan enteng bisa mengayun dan memukulkannya ke meja.

    Rupanya Konferprov kali ini tak cukup dengan tiga palu saja. Sepenghisapan rokok kemudian, Aidil datang pula. Ia membawa sebuah palu plastik yang memang biasa dipakai untuk sidang-sidang atau untuk keperluan di mimbar.

    “Nah ini dia,” kata Amir tersenyum senang karena akhirnya dapat yang dia inginkan. Maka sejak itu sampai akhir Konferprov, palu ketiga itulah yang melegitimasi setiap kali keputusan diambil. Memang terasa powerful ketukan palu itu sata diketukkan ke meja pimpinan sidang.  Puncaknya adalah ketukan palu keputusan  pleno tentang hasil pemilihan Ketua PWI Sumbar dan Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sumbar periode 2022 – 2027: Basril Basyar terpilih bersama Zul Effendi.

    Cerita tentang palu memalu berakhir sampai di sini, tok…tok…tok.