×

Iklan


Cerita Inspiratif Dua Mahasiswa TI PNP: Belum Lulus Kuliah, Tapi Sudah Diterima Bekerja

07 Jun 2021 | 08:25:36 WIB Last Updated 2021-06-07T08:25:36+00:00
    Share
iklan
Cerita Inspiratif Dua Mahasiswa TI PNP: Belum Lulus Kuliah, Tapi Sudah Diterima Bekerja
Awak Khazminang.id, saat berbincang dengan dua mahasiswa TI PNP, Judang Rizki dan Boby Putra melalui Zoom Meeting yang difasilitasi Ketua Prodi TRPL, Dwiny Meidelfi dan Sekjur TI, Rahmat Hidayat.

Sudah lulus kuliah dan diterima kerja mungkin sudah biasa. Tetapi belum lulus dan sudah menjadi karyawan saat masih berstatus mahasiswa, itu baru luar biasa. Mungkin hanya sebagian kecil yang mengalaminya.

Padang, Khazminang.id-- Dua mahasiswa Teknologi Informasi (TI) Politeknik Negeri Padang (PNP), yakninya Boby Putra dan Judang Rizki, patut diacungkan dua jempol. Betapa tidak, di samping berstatus sebagai mahasiswa aktif di PNP, mereka sudah bekerja dan menjadi karyawan tetap. 

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) ini, sudah bekerja di Reka Cipta Digital (RCD), sebuah perusahaan penyedia jasa solusi digital yang berlokasi di Jakarta dan berfokus pada Web Development serta Digital Marketing.

    "Alhamdulillah, Bang. Saya bekerja di Reka Cipta Digital, perusahaan penyedia jasa solusi digital yang fokusnya bikin website, aplikasi ponsel, hingga instalasi jaringan. Di sana, saya sebagai Front End Developer," kata Boby Putra saat memulai pembicaraan dengan Khazminang.id, baru-baru ini.

    Untuk diketahui, Front End Developer adalah orang yang berperan mengembangkan tampilan situs website atau aplikasi melalui HTML, CSS, dan JavaScript. Sementara, back end adalah orang yang berperan agar situs atau aplikasi dapat bekerja.

    Mahasiswa tingkat akhir itu menyebutkan, ia sudah mulai bekerja di Reka Cipta Digital sejak Agustus 2020 lalu. Dirinya bercerita, saat itu, ia sering melihat lowongan pekerjaan bidang IT di media sosialnya.

    "Saya biasa lihat job di Instagram untuk orang IT. Waktu itu kebetulan (dosen saya) Buk Dwiny kasih info di grup Telegram bahwa ada (perusahaan) yang butuh aplikasi dibikin dari bahasa pemrograman Javascript dan ReactJS dan gak apa-apa jika masih kuliah. Saya pelajari itu, ternyata cocok dan diterima bulan Agustusnya," sambung dia.


    Dirinya mengaku senang dan bersyukur bisa bekerja sebelum diwisuda, apalagi pekerjaan tersebut sesuai dengan passion yang dimilikinya. Betapa tidak, di tengah sulitnya mencari pekerjaan saat pandemi Covid-19 dan bahkan banyak buruh yang di-PHK maupun dirumahkan, Boby justru beruntung diterima menjadi karyawan

    "Ya senang. Saya berharap setelah selesai, saya sudah punya pengalaman. Karena kan kebanyakan sekarang, kalau mau daftar kerja, harus punya pengalaman. Mungkin bisa dari magang 6 bulan. Nah, kebetulan ada kesempatan, saya coba dan Alhamdulillah diterima," bebernya.

    Boby mengaku, orang tuanya juga senang dan bersyukur melihat dirinya bisa bekerja sebelum diwisuda. Namun, orang tuanya berpesan agar jangan sampai pekerjaan membuat perkuliahannya terbengkalai.

    "Orang tua juga senang dan bersyukur. Tapi beliau berpesan, jangan sampai kuliah terbengkalai. Mudah-mudahan tidak (terbengkalai), sebenarnya kan pandai-pandai membagi waktu saja," ujarnya.

    Meskipun banyak pekerjaan, tugas dan project-project yang harus dikerjakannya, Boby merasa, baik perkuliahannya maupun pekerjaaannya itu sama sekali tak terganggu.

    "Sebenarnya yang saya rasakan, belum. Karena jika kerjaan sudah selesai, saya bisa cari kegiatan lain, seperti urusin perkuliahan. Kan pekerjaan saya per project," ungkapnya.

    Hal yang sama, juga dialami dan dirasakan Judang Rizki. Berbekal informasi dari Boby bahwasannya perusahaan tersebut membutuhkan karyawan lagi, dirinya pun mencoba peluang tersebut.

    "Seingat saya, mulai bekerjanya pertengahan September 2020. Boby waktu itu bilang, perusahaan itu butuh karyawan lagi. Di situ saya berpikir dan ingin mencoba. Akhirnya saya coba lamar, dan diterima sebagai UI/UX Designer," kata dia.

    Meskipun juga banyak pekerjaan, tugas dan project-project yang harus dikerjakannya, Judang juga merasa, hal tersebut tidak mengganggu kegiatan perkuliahan maupun pekerjaannya.

    "Jadi, saya kan SMA di Bekasi. Kuliah merantau ke sini (PNP). Kalau kendala, tentu pasti ada, namun Alhamdulillah masih bisa diatasi. Yang pasti tidak mengganggu perkuliahan dan pekerjaan," kata dia lagi.


    Dikatakan Judang, orang tuanya juga senang dan bersyukur melihat dirinya bisa bekerja sebelum lulus kuliah. Namun, orang tuanya juga berpesan agar jangan sampai pekerjaan membuat perkuliahannya terbengkalai.

    "Respon orang tua sama sih kayak (respon orang tua) Boby. Sebenarnya lebih nyaranin fokus dulu ke kuliah. Tapi orang tua bilang, kalau nggak mengganggu (perkuliahan), silakan lanjutkan," ujarnya.

    Dirinya pun mengaku tidak iri melihat teman-temannya yang mempunyai kesibukan di batas wajar, yang tugasnya hanya kuliah, pulang, main dan kerjakan tugas. Ia malah senang, bisa punya penghasilan sendiri dan bisa membantu beban orang tua.

    "Sebenarnya itu balik lagi ke masing-masing orang. Mereka sudah punya planning, mungkin tapi dikerjain setelah lulus. Atau ada yang ingin menikmati masa muda. Saya sendiri membuat tekanan ke diri saya untuk bisa lebih cepat mendapat opportunitiy yang lebih besar di masa muda," katanya.

    Tak Ganggu Perkuliahan

    Sementara, Ketua Prodi TRPL, Dwiny Meidelfi menjelaskan, meskipun dua mahasiswanya itu sudah bekerja, namun hal tersebut tidak akan mengganggu perkuliahan.

    "Boby kan sekarang posisinya tingkat akhir, perkuliahan juga tidak ada, dia juga sedang melaksanakan magang industri selama 6 bulan. Kebetulan dia sudah diterima kerja, ya dia langsung magang di sana. Jadi, tidak ada perkuliahan," kata Dwiny.

    Menurutnya, ini merupakan salah satu pemanfaatan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

    "Memang ada satu mata kuliah lagi, tapi sudah include di mata kuliah magang. Kan aturan yang baru sekarang disebutkan jika mahasiswa magang di industri selama 6 bulan, ekuivalen nilainya adalah minimal 20 SKS," sambung dia.

    Dwiny juga membenarkan bahwa Judang sudah bekerja dan masih menjalani perkuliahan di tahun ketiga. Namun hal itu, kata dia, juga tidak akan mengganggu perkuliahan.

    "Judang ini kan masih di tahun ketiga, masih ada kuliah. Hanya saja, seperti yang disampaikannya, di perkuliahannya juga ada mata kuliah project. Jadi, project yang dikerjakannya di tempat dia bekerja, bisa dibawanya juga ke kampus untuk dijadikan bahan project perkuliahan," ungkapnya.

    Di kesempatan yang sama, Sekretaris Jurusan (Sekjur) TI PNP, Rahmat Hidayat juga memberikan masukan kepada dua mahasiswanya tersebut. Dirinya berpesan agar mahasiswanya terus mengasah skill agar lebih siap ketika menginjak dunia kerja nantinya.

    "Kadang di dunia kerja tidak hanya sisi skill coding (membuat program) yang diperlukan. Tapi setelah dunia kerja, lebih banyak networking, termasuk skill komunikasi. Karena nanti akan berkomunikasi satu sama lain. Kalau di dunia kerja, ego kita memang harus diturunkan karena kita bekerja team work, harus bisa saling menutupi kelemahan," kata Rahmat.

    Bentuk Kepercayaan Dunia Industri

    Terpisah, Direktur PNP, Surfa Yondri kepada Khazminang.id, mengaku bersyukur karena dua mahasiswanya lagi-lagi sudah diterima bekerja sebelum lulus kuliah. Menurutnya, ini membuktikan bahwa mahasiswanya mampu, kompeten dan juga bentuk kepercayaan dunia industri terhadap PNP. 

    "Kita tentu bersyukur, mereka sudah diterima bekerja di saat sulit sekarang. Karena di mana-mana ada PHK, dan kalaupun ada penerimaan, tentu perusahaan membutuhkan orang yang sudah berpengalaman. Namun saat ini mahasiswa kita mampu menunjukkan prestasi dan kompetensinya," ujar Boyon, sapaan akrab Surfa Yondri.

    Dirinya berharap, semoga mahasiswanya yang sudah diterima bekerja di sejumlah perusahaan, bisa menunjukkan kinerja yang baik dan mampu memberikan nilai lebih kepada perusahaan tersebut.

    "Kemudian jangan lupa selalu bersyukur terhadap nikmati ini, selalu jujur dan berterima kasihlah kepada orang tua, sanak saudara dan juga guru atau dosen yang telah memberikan ilmu selama ini. Jaga selalu nama baik almamater sehingga PNP semakin mendapat kepercayaan di dunia industri," pungkasnya. (Raihan Al Karim)