×

Iklan


Buntut Krisis Chip Dunia, Harga HP dan Laptop Kian Mahal

13 Oktober 2021 | 13:36:51 WIB Last Updated 2021-10-13T13:36:51+00:00
    Share
iklan
Buntut Krisis Chip Dunia, Harga HP dan Laptop Kian Mahal
Foto: Ilustrasi (Photo by Jeremy Waterhouse from Pexels)

Padang, Khazminang.id-- Kelangkaan chip semikonduktor di globa mulai berdampak luas. Misalnya membuat harga perangkat seperti ponsel dan komputer naik.

Ini sudah terlihat pada sejumlah ponsel Xiaomi yang mengalami kenaikan harga di Indonesia. Xiaomi Indonesia dalam pengumumannya di akun Instagramnya menyebut kenaikan ponsel sebesar Rp100 ribu.

Ada empat model yang masuk dalam kebijakan ini yaitu Redmi 9A, Redi 9C, Redmi Note 10 5G dan Poco M3 Pro 5G. Dalam pengumumannya itu, Xiaomi menyebut alasan kenaikan harga karena ada masalah kelangkaan komponen di global.

    Namun memang baru Xiaomi yang mengumumkan kenaikan harga di Indonesia. Belum ada pengumuman serupa dari vendor lain seperti Samsung, Oppo, Vivo, Realme dan Apple.

    Soal kenaikan itu, Direktur Riset Forrester Research Gleen O'Donnel telah memprediksinya. Menurutnya harga akan naik lebih dari 10% pada akhir tahun dan melonjak lebih tinggi lagi pada 2022.

    O'Donnel mengatakan kurangnya pasokan chip membuat harga lebih tinggi. Lalu diserap oleh produk yang diteruskan pada konsumen.

    "Dengan demikian, harga untuk smartphone dan hampir semua hal lainnya sudah naik. Kami memperkirakan kenaikan ini akan melebihi 10% pada akhir tahun dan meningkat lebih tinggi lagi hingga 2022," kata O'Donnel dikutip Straits Times.

    Selain harga, perusahaan teknologi juga harus menghadapi pengurangan unit produksi. Misalnya Apple yang kabarnya mengurangi 10 juta unit dari iPhone 13.

    Apa yang Terjadi?

    Jutaan produk mulai dari mobil, mesin cuci, hingga smartphone bergantung pada chip komputer, atau dikenal sebagai semikonduktor. Namun saat ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan industri dan banyak produk populer yang mengalami masalah pasokan.

    Analisa Koray Kose dari Gartner mengatakan munculnya 5G juga mendorong peningkatan permintaan. Termasuk juga keputusan Amerika Serikat (AS) melakukan pencegahan penjualan semikonduktor dan teknologi lain dari Huawei, dikutip dari BBC, Rabu (13/10/2021).

    Alasan terakhir membuat pembuat chip di luar AS kebanjiran pesanan dari perusahaan China.

    BBC menuliskan kompleksitas manufaktur lain yang kurang jelas juga membuat chip jadi langka. Misalnya terdapat dua pendekatan utama produksi menggunakan 200mm atau 300mm, yang mengacu pada diameter wafer pada circular silicon wafer yang dibagi jadi beberapa chip kecil.

    Wafer yang lebih mahal sering digunakan untuk perangkat yang lebih canggih. Namun lonjakan permintaan pada chip dengan biaya rendah tertanam pada berbagai produk konsumen, artinya teknologi 200mm lebih dicari dari sebelumnya.

    Pandemi juga membuat pemesanan chip melonjak tajam. Ini terlihat dari orang yang bekerja dari rumah membutuhkan perangkat seperti laptop, tablet dan webcam, namun pada saat bersamaan pabrik chip juga tutup saat lockdown.

    Namun menurut Kose, pandemi bukan jadi satu-satunya penyebab chip yang langka. "Itu mungkin hanya tetes terakhir dari ember".

    Serangan bertubi-tubi ini juga diperburuk masalah baru. Yakni badai musim dingin ekstrim yang menutup pabrik semikonduktor di Texas serta kebakaran di pabrik Jepang, yang membuat penundaan.

    Dari sisi logistik juga menambah masalah baru. Oliver Chapman yang merupakan chief executive OCI, mitra rantai pasokan global, menyebut selama bertahun-tahun biaya pengiriman tidka jadi perhatian untuk perusahaan teknologi.

    Biaya yang didapatkan relatif kecil. Namun pandemi membuat biaya pengiriman membengkak karena perubahan permintaan. (berbagai sumber)