×

Iklan

SUMBAR DARURAT LGBT
Astaghfirullahaladzim, Prostitusi Online Sesama Jenis (Gay) di Padang Diungkap Polisi

21 Jul 2021 | 23:09:13 WIB Last Updated 2021-07-21T23:09:13+00:00
    Share
iklan
Astaghfirullahaladzim, Prostitusi Online Sesama Jenis (Gay) di Padang Diungkap Polisi
Polisi tengah menggeladah tempat kos pelaku prostitusi online sesama jenis di kawasan Sawahan Padang (foto: Arief Pratama).

Padang, Khazminang.id-- Dua orang pria penyuka sesama jenis (gay) digelandang warga ke Mapolresta Padang usai berkelahi dipinggir Jalan Raya Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Rabu (21/7).

 

Dari pemeriksaan polisi keduanya diketahui merupakan pasangan sesaama jenis dan juga  pelaku prostitusi online gay tersebut salahsatunya berperan sebagai muncikari dengan tarif Rp250 hingga Rp1 juta persekali kencan.


    Keduanya yaitu A
    V (15) pelajar di salah satu SMA swasta di Kota Padang dan HN (28) salah seorang karyawan swasta, keduanya langsung ditahan di ruangan unit PPA Polresta Padang.

     
    Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol Rico Fernanda mengatakan, keduanya di
    tangkap warga  setelah bertengkar di pinggir Jalan Raya Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang karena dipicu permasalahan setoran prostitusi online yang tidak sesuai dengan kesepakatan mereka.

     

    “Dalam menjalankan bisnisnya AV mengaku menerapkan tarif Rp250 hingga Rp1 juta dalam sekali kencan dengan sejumlah pria hidung belang. Pelanggan bisa memesan melalui aplikasi online sesama jenis dan mensetorkan uang Rp150 ribu,” kata Rico, Rabu (21/7).


    Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan pengembangan dari kasus prostitusi online sesama jenis ini.

     

    "Selanjutnya kami selidiki dan ternyata ada dugaan penjualan terhadap anak ini dengan pelaku sesama jenis," katanya.

     

    Rico menyebutkan, kedua melakukan perbuatan LGBT dan salah seorang merupakan anak di bawah umur.

     

    Dijelaskannya, korban dijual kepada orang-orang yang memiliki kelainan seksual di dalam aplikasi khusus tersebut.

     

    “Pelaku dijerat dengan Pasal Eksploitasi Seksual Anak di bawah umur dan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara,” ujar Rico.

     

    Adapun aplikasi yang digunakan pelaku LGBT dalam dugaan menjual anak di bawah umur ke sesama jenis telah di download jutaan orang di Play Store, dan diketahui pasangan tersebut berstatus pacaran.

     

    Pasangan sesama jenis ini diduga melakukan praktik prostitusi secara online menggunakan aplikasi Walla dan Hornet.

     

    Aplikasi yang digunakan tersebut tersedia di Play Store dan sudah ada jutaan yang mendownloadnya.

     

    Aplikasi Hornet - Gay Social Network sudah didownload sebanyak 10 juta lebih.

    Sedangkan, aplikasi Walla - Gay Chat & Dating sudah didownload sebanyak 5 juta lebih pengguna.

    Dalam pemeriksaan polisi tersangka HN mengakui sebelumnya memiliki pasangan seorang perempuan dan akhirnya hubungannya berakhir karena kehadiran inisial AV dan dirinya ketahuan.

     

    Terkait aplikasi Walla yang sudah terpasang di HP miliknya atas nama inisial AV tersebut dibenarkannya ada di HP miliknya.

     

    Ia menjelaskan, keduanya sudah berhubungan dan juga sudah melakukan tes HIV sekitar 2 bulan yang lalu dan hasilnya negatif.

     

    Dikatakan HN dirinya masuk ke dunia LGBT setelah selesai kuliah dan berteman dengan dunia malam, HN mengaku dijebak oleh teman-temannya untuk menjadi berondong yang cowok dan dikasih jajan.

     

    Korban AV  mengatakan dirinya dijual oleh pasangannya HN memakai aplikasi khusus LGBT bernama Walla dan Hornet.

     

    "Pakai aplikasi bernama Walla dan Hornet, di HP Abang HN," ujar AV.

     

    Ia mengaku, melayani sesama jenis karena masalah ekonomi dan tidak ada uang.

    Dijelaskannya, dari hasil tesebut didapatkan uang mulai Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.

     

    Selanjutnya, uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dari untuk makan, beli baju dan keperluan lainnya.

     

    Isu tentang Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Sumatera Barat masih menjadi topik panas belakangan ini karena dianggap meresahkan dan kerap menjadi kontroversi.

     

    Pada akhir 2019 lalu, jumlah atau populasi LGBT terbanyak di Indonesia berada di Sumatera Barat yang mencapai belasan ribu orang.

     

    Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Sumatra Barat ketika itu, Nasrul Abit yang menyatakan angka 18.000 LGBT di Sumatra Barat tersebut menjadi yang terbanyak di Indonesia.

     

    Angka tersebut didapatkan dari data hasil tim konselor penelitian perkembangan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

     

    Dikatakannya, LGBT menjadi satu dari penyebab penularan HIV/AIDS dan dirinya khawatir, angka LGBT yang cukup besar turut meningkatkan penyakit HIV/AIDS di Sumatera Barat (Novrizal Sadewa).

     

    Sumber: https://padang.tribunnews.com/2021/07/21/dugaan-praktik-prostitusi-online-sesama-jenis-di-padang-aplikasi-didownload-jutaan-di-play-store

     














     

     

     

     

     

     

     

    /////////////////////////////////////