×

Iklan

TERKAIT INSTRUKSI GUBERNUR SOAL SWAB GRATIS BAGI PENGUSAHA RESTORAN
Andani Minta Kesampingkan Dulu Birokrasi di Masa Pandemi

22 Oktober 2020 | 11:06:19 WIB Last Updated 2020-10-22T11:06:19+00:00
    Share
iklan
Andani Minta Kesampingkan Dulu Birokrasi di Masa Pandemi
KESAMPINGKAN- Dr.dr Andani Eka Putra memastikan laboratorium PDRPI siap memeriksa sampel dalam rangka menjalankan Instruksi Gubernur Sumbar terkait kewajiban tes swab bagi pengelola rumah makan dan restoran serta meminta semua pihak harus bertindak bersama dan bekerjasama, serta mengesampingkan dulu masalah birokrasi di masa pandemi (foto: Ist/net)

Padang, Khazminang--  Instruksi Gubernur Sumatera Barat yang mewajibkan tes swab bagi pengelola rumah makan dan restoran serta cafe-cafe, tampaknya masih akan terkendala dengan kurangnya kordinasi antar lembaga terkait.  Padahal gubernur menyatakan tes swab bagi pengelola rumah makan dan restoran tersebut sebagai salah satu syarat untuk izin operasional.

 

    Satu hari setelah gubernur menerbitkan Instruksi Gubernur untuk pengelola dan karyawan restoran/rumah makan dan cafe melakukan tes swab, bagi pemerintah dijadikan dasar mencabut izin usaha dan menutup usaha restoran dan cate.

    Namun persoalan di lapangan mengeluhkan kurangnya koordinasi antar lembaga dalam menerapkan instruksi gubernur tersebut.


    “Repot kita. Kemarin saya dan karyawan ke Puskesmas di Padang untuk pemeriksaan atas dasar instruksi gubernur. Namun pihak Puskesmas bilang belum ada perintah Dinas Kesehatan Kota Padang,”ujar Pajok pemilik ayam penyet di bilangan Lubuk Lintah Padang.


    Sementara Kepala Pusat Diagnostik Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran (PDRPI FK) Unand Padang, Dr.dr Andani Eka Putra memastikan laboratorium PDRPI siap memeriksa sampel dalam rangka menjalankan Instruksi Gubernur Sumbar yang terbit Selasa (20/10) lalu itu.


    “Kita siap amankan Instruksi Gubernur Sumbar. Kini pandemi masih belum tahu kapan berakhirnya, jadi semua pihak baik tenaga kesehatan di puskesmas sampai rumah sakit hingga laboratorium harus bertindak bersama dan bekerjasama, kesampingkan dululah birokrasi berada di masa sebelum pandemi ini,” ujar Andani.


    Bahkan Andani  juga sudah memberikan prosedur pemeriksaan swab gratis bagi pengelola dan karyawan restoran dan cafe berdasarkan Insturksi Gubernur Sumbar.


    “Perlu dipahami perang covid adalah perang kita semua, jadi jangan anggap ini kerja pemerintah dan tenaga kesehatan serta laboratorium saja. Soal test swab gratis bagi pengusaha atau pemilik restoran. Laboratorium PDRPI FK Unand tidak melakukan pengambilan spesimen, karena kita testing dan juga  tenaga PDRPI terbatas,” ujar penerima Indonesia Award 2020 kategori Profesional itu.

    Bahkan Andani memastikan hasil swab restoran dan karyawannya itu tidak dipublish ke masyarakat luas.


    Sikap Andani tidak mempublish didukung Wakil Ketua Komisi Informasi Sumbar Adrian Tuswandi yang terkenal dengan tagarnya #AyoSwabNoSakit dan #Pakaimaskertu.


    “Mengecualikan informasi hasil swab bagi pengusaha dan karyawan restoran dan cafe sudah tepat dan sesuai UU 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Karena test swab pengelola dan karyawan kategorinya informasi dikecualikan, jika dibuka ke publik bisa berdampak kepada persaingan usaha tidak sehat,” ujar Adrian.


    Sebelumnya Andani juga menyoroti pembiaran pelaksanaan kegiatan keramaian seperti pesta pernikahan terutama di daerah zona merah ditengarai menjadi salah satu faktor  penyebab tingginya kasus positif harian Covid-19 di Sumbar.


    ”Seharusnya kegiatan keramaian seperti pesta perkawinan dilarang dulu untuk daerah zona merah Covid-19 karena potensi persebaran virus di situ sangat tinggi,” kata Andani awalbulan lalu.



    Saat ini, sebagian daerah masih mengizinkan pelaksanaan keramaian seperti pesta perkawinan tersebut, salah satunya di Kota Padang, padahal setiap pekan Kota Padang selalu masuk zona merah Covid-19 di Sumbar.


    Andani menilai perlu ketegasan dari pemerintah daerah untuk melarang kegiatan keramaian itu sementara waktu hingga kondisi stabil kembali.


    Selain faktor itu, masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan hingga tidak menggunakan masker di luar rumah, kedatangan orang dari luar provinsi yang tidak bisa dicegah dan belum maksimalnya pengendalian pasien positif yang melakukan isolasi mandiri juga menjadi faktor pendukung tingginya persebaran Covid-19 di Sumbar. (Ant/Novrizal Sadewa).