×

Iklan


Aliran Sesat di Solok Selatan Masih Dipantau MUI-PAKEM-FKUB

13 Oktober 2021 | 15:24:23 WIB Last Updated 2021-10-13T15:24:23+00:00
    Share
iklan
Aliran Sesat di Solok Selatan Masih Dipantau MUI-PAKEM-FKUB
Para pengikut 'Agama Muslim' sebuah aliran sesat lainnya di Sumbar ketika disyahadatkan kembali oleh ulama di Sumani Kabupaten Solok beberapa waktu yang lalu (dok: sumbartime.com)

Padang Aro, Khazminang.id -- Masyarakat Solok Selatan resah karena munculnya aliran baru di Solok Selatan yang tidak mewajibkan untuk jamaahnya shalat. Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solok Selatan, masih menunggu kajian lebih lanjut dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan (Pakem) untuk menentukan Aliran Pelindung Kehidupan di kabupaten itu dinyatakan sesat atau tidak.

"Sekarang informasi yang didapat baru dari mulut ke mulut dan perlu dilihat apakah ada AD/RT atau aturan beribadahnya secara tertulis dan harus ditelusuri lagi sehingga kami menunggu kajian dari FKUB dan Pakem," kata Ketua MUI Solok Selatan Syarkawi Aziz di Padang Aro, seperti dikutip laman Antara, Selasa.

Menurutnya sidang majelis ulama baru akan digelar setelah ada hasil kajian dari FKUB dan Pakem, sementara itu MUI pun tetap memantau keberadaan aliran yang juga dihebohkan di Riau itu.

    "Kita tunggu hasil kajian Pakem bersama FKUB menjelang pihak-pihak yang terlibat aliran itu dipanggil ke sidang majelis ulama Solok Selatan,” tutur Syarkawi Aziz.

    Sementara itu Ketua FKUB Solok Selatan Yusriadi mengatakan Aliran Pelindung Kehidupan ini sesuai penelitian Pakem sudah meresahkan masyarakat, salah satunya terkait pernyataan bahwa shalat tidak terlalu perlu. Tentu saja ini sangat berlawanan dengan Ruku Islam.

    "Dalam waktu dekat kami akan turun ke lapangan untuk melihat bagaimana ajaran pelindung kehidupan ini," ujarnya.

    Dari segi kerukunan umat beragama, katanya, ajaran itu sudah meresahkan masyarakat.

    Setelah turun ke lapangan, katanya, kalau diketahui itu sesat maka akan dilakukan pembinaan agar pengikutnya kembali berjalan sesuai syariat Islam.

    "Tugas kami hanya menjaga dan membina kalau sangsi itu hak pemerintahan," ujarnya.

    Sementara itu dikutip dari vivanews,  Wakil Ketua Pekem Solok Selatan M.Fajrin menyebutkan bahwa aliran itu sudah mulai berupaya merekrut jamaah di Solok Selatan.

    Fajrin menyebutkan, pengikut aliran itu, pertama kali ditemukan keberadaannya pada 9 Juni 2021 di daerah Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo. Saat itu terpantau pengikutnya sudah berjumlah sekitar 20 orang.

    Berdasarkan hasil penyelidikan diketahui, jika saat ini aliran Aliran Pelindung Kehidupan sudah mulai berupaya merekrut anggota atau Jemaah. Caranya, melalui sistem pengobatan. Pengikut aliran ini, meyakini bisa melakukan pengobatan dengan cara “menebus hak”.

    “Ajaran ini meyakini bisa melakukan pengobatan dengan cara "menebus hak". Ada tarifnya, Rp2 hingga Rp5 juta. Pengikutnya, dimandikan pada malam hari. Dengan menebus hak, maka sudah dianggap telah bersih. Melalui ini, cara mereka melakukan pendekatan untuk merekrut anggota,” kata M Fajrin. 

    M Fajrin menambahkan, berdasarkan keterangan informasi yang diperoleh di lapangan, ajaran yang menjadi kepercayaan mereka bahwa, cukup melaksanakan shalat satu kali seumur hidup. Itu sudah cukup.

    “Meski informasi demikian, namun kebenaran keterangan itu masih di dalami. Apakah benar mereka memiliki kepercayaan cukup melaksanakan Salat sekali seumur hidup atau tidak, itu sedang kita gali lebih dalam,” ujar M Fajri. 

    Fajri mengatakan, hasil investigasi saat ini menemukan fakta jika, puluhan pengikut aliran Pelindung Kehidupan yang mulanya ditemukan di Jorong Simancuang, saat ini sudah tidak berada di sana lagi. Alias sudah pindah.

     

    Di Riau juga Pernah

     

    Aliran yang sama juga pernah meresahkan umat Islam di Riau pada 2019 lalu. Ketika itu Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau mengimbau umat Islam di provinsi tetangga itu agar waspada dengan adanya informasi penyebaran ajaran menyesatkan. Ajaran itu tidak mewajibkan salat wajib serta membaca Alquran.

    "MUI sudah keluarkan fatwa 10 aliran sesat. Salah satunya ajaran Islam tapi tidak wajib salat. Itu jelas menyimpang," kata Sekretaris MUI Riau Zulhusni Domo ketika itu kepada pers.

    Aliran sesat itu dilaporkan oleh masyarakat ke pemerintah. Saat itu intelijen Kejaksaan Negeri Pekanbaru yang tergabung dalam tim pengawasan aliran kepercayaan masyarakat dan aliran kepercayaan (Pakem) tengah melakukan penyelidikan.

    Di Pesisir Selatan, Aliran Pelindung Kehidupan ini  sempat pula menjadi bahan rapat Kejaksaan Negeri Pessel bersama FKUB, MUI, Kesbangpol, Kemenag dan unsur terkait.  Pada Juni 2021, dilaksankan rapat membahas aliran yang kabarnya mulai ada di Pesisir Selatan. Tapi Rapat ketika itu masih memutuskan untuk meneliti lebih lanjut.

    Di wilayah Kabupaten Solok tahun lalu juga muncul aliran sesat yang menamakan ajarannya dengan 'agama muslim' menghebohkan masyarakat.

    Kelompok yang jumlah pengikutnya puluhan orang itu disebut tidak memercayai Allah sebagai Tuhan, bagi mereka tuhannya adalah Rabbi (yang menciptakan). Dalam ajarannya tidak mewajibkan salat, tetapi wajib mengingat Rabbi.

    Kemudian, aliran itu tidak mewajibkan pengikutnya untuk salat dan puasa. Namun mereka wajib mengingat rabbi dan mengendalikan hawa nafsu.

    Selain itu 'agama muslim' tersebut juga tidak mengakui adanya Nabi Muhammad, yang diakuinya hanya Nabi Ibrahim. Tetapi mereka memercayai Al-Quran.

    Kemudian, kewajiban berhaji hanya untuk para guru aliran yang menamakan 'agama muslim' itu, pengikut yang hendak berhaji bisa diwakilkan kepada guru.

    Tapi untunglah dalam waktu yang toidak terlalu lama, masih tahun 2020, warga Sumani Kabupaten Solok yang terperangkap masuk ke dalam aliran itu kembali bersyahadat.

    Wali Nagari Sumani dan KUA Kecamatan X Koto Singkarak memanggil MS sebagai pengikut aliran sesat yang memahami dan mengamalkan ajaran agama yang menyimpang dari ajaran Al-Quran dan Sunnah itu.

    “Alhamdulillah setelah tim mengadakan beberapa kali dialog baik yang bertempat di kantor KUA X Koto Singkarak maupun di rumah pengikut ajaran, kelihatannya pengikut ajaran kembali menyadari kekeliruannya dan dengan sadar kembali bersyahadat. Kepada tim tentu kita berterimakasih atas usaha mulia ini, semoga menjadi amal shaleh,” kata Kepala Kanwil Kemenag Sumbar yang ketika itu dijabat oleh H. Hendri. (eko/ant/berbagai sumber)