×

Iklan


Ada Pesan untuk Wirausahawan Minang di Lustrum ke-XIII Unand

08 September 2022 | 17:55:41 WIB Last Updated 2022-09-08T17:55:41+00:00
    Share
iklan
Ada Pesan untuk Wirausahawan Minang di Lustrum ke-XIII Unand
Ir. Abdul Aziz, MM.

Oleh: Abdul Aziz*

Semua kegiatan perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas (Unand) pagi ini diarahkan ke Convention Hall (CH). Di depan CH Unand, terlihat jejeran karangan bunga yang bertuliskan ucapan "Selamat Lustrum ke-XIII Unand" yang dikirim oleh berbagai instansi ataupun perorangan sebagai bukti kecintaannya mereka kepada FEB Unand, yang dulunya bernama Fakultas Ekonomi (Fekon), dan sejak 14 Juli 2022 berganti nama menjadi FEB.

Dalam rangka Lustrum ke-XIII Unand yang akan jatuh pada tanggal 13 September 2022 mendatang, pagi dan siang hari Rabu, 7 September 2022, FEB-Unand menggelar Rapat Pimpinan Terbuka dalam rangka Dies Natalis FEB Unand ke-65 dan Orasi Ilmiah yang dihadiri oleh segenap pemangku kepentingan dan mahasiswa FEB Unand. Yang paling menarik pada acara ini adalah adanya orasi ilmiah yang berjudul "Mengapa Kewirausahaan Miangkabau Mundur ?", yang disampaikan oleh Donard Games, SE, M.Bus (Adv), PhD dan orasi kebangsaan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan RI, Bapak Dr. (HC) Ir. Air Langga Hartarto, M.B.A., M.M.T., IPU.

    Dalam orasinya, Donard Games, SE, M.Bus (Adv), PhD menyampaikan ada 3 hal yang menyebabkan kemunduran Kewirausahaan Asal Minangkabau, yakni; Kegamangan tentang nilai-nilai personal yang bermuara pada kemunduran al-amanah, Ketakutan gagal berwira usaha dan Perilaku impulsif. Kegamangan tentang nilai-nilai personal yang bermuara pada kemunduran al-amanah yang ditemukan pada penelitian beliau dan rekan-rekannya pada tahun 2021 menemukan bahwa wirausahawan Miangkabau, baik di rantau maupun di ranah memiliki personal value yang berpengaruh positif dan signifikan pada inovasi sebagai proxy kewirausahawan, dinataranya power dan tradition. 

    Power pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan diri wirausahawan agar bisa dianggap sukses dan berguna. Hal tersebut senada dengan kebijakan orang Minangkabau yang mengajarkan "Karatau madang diulu, babuah babungo balun, Karantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun". Dengan demikian, kewirausahawan adalah bentuk pembuktian diri, sedangkan merantau merupakan pelarian diri dalam mengadu nasib, dan kesuksesan dalam berwira usaha adalah jalan terbaik untuk membuktikan diri untuk pantas dihargai oleh orang lain.

    Nilai personal yang juga mempengaruhi kewirausahaan Minangkabau adalah tradition. Salah satu norma yang biasanya dipegang erat pada tradition adalah kerendah-hatian, maka dalam kenyataannya kewirausahaan Minangkabau harus menjaga keseimbangan antara kebanggan, perasaan ingin dihargai dan kerendah hatian. Hal ini mirip dengan Chinese Entrepreneurship yang menekankan pentingnya konsep "wajah" dalam budaya Konfosius yang memberikan suatu model hubungan antara nilai-nilai personal dan dimensi budaya sosial.

    Orang Minangkabau tampaknya lebih berfokus pada reputasi dan suka menjadi bos untuk membuat mereka menjadi terhormat. Selanjutnya power dan achievement adalah sumber nilai-nilai terkait persepsi kegagalan bisnis. Ketika terjadi kegagalan bisnis, maka mereka akan merasa kehilangan muka dalam masyarakat dan inilah sisi negatif dari power yang bisa menjadi penyebab keengganan untuk mengambil resiko dalam bisnis, sementara power sangat berperan dalam memberikan motivasi yang kuat dalam berinovasi. Disisi lain achievement lebih menekankan pada kompetensi dan kemandirian untuk sukses.

    Ketakutan gagal dalam berwirausaha, mencerminkan kegamangan yang berujung pada kemunduran kewirausahaan. Ketakutan gagal ini kadangkala lebih menakutkan daripada kegagalan bisnis (business failure). Menurut Global Entrepreneurship Monitor tahun 2022 menemukan bahwa 25 persen orang dewasa Indonesia mengetahui adanya peluang bisnis yang bagus, tapi mereka tidak mau memulai bisnis itu karena takut gagal dalam berwirausaha. Dari penelitian Games dkk tahun 2020, juga menemukan bahwa orang-orang Minangkabau melihat ketakutan sebagai bagian dari adaptasi yang tidak bisa mereka ubah seperti ketakutan lainnya, seperti potensi Tsunami. Orang Minangkabau cenderung tidak menindak lanjuti ketakutan itu dalam bentuk persiapan dalam mereduksi dampak negatif dari ketakutan itu.

    Perilaku impulsif yang merupakan perilaku yang didasari pada ketidak sadaran bahwa konsekuensi akibat kiat keputusan yang ditandai dengan kurang pertimbangan (lack of premediation), mencari sensasi (sensation seeking) dan kurang tekun (lack of perseverance) menjadi faktor kemunduran kewirausahaan Minangkabau. Sumatera Barat memiliki 60 persen penduduk kategori millennial dan generasi Z yang memiliki karakteristik berbeda termasuk dalam hal kewirausahaan. Generasi ini sangat mudah menerima perubahan terutama yang berkaitan dengan teknologi dan implementasinya dalam berinovasi. Terlalu banyak pikir, justru akan membuat banyak kehilangan potensi keberhasilan. Dimasa-masa krusial, para wirausahawan harus mampu mengambil keputusan yang tepat termasuk bagi para srartup.

    Sebagian besar kaum muda Minangkabau kaya dengan potensi tapi mereka tidak memiliki kekayaan pengalaman dan kemampuan untuk memutuskan sesuatu yang berbasis multi perspektif. Idealnya terjadi transfer dan interaksi pengetahuan dimana kaum muda menawarkan penguasaan teknologi dan kaum tua menawarkan kebijaksanaan.

    Apapun yang ditemukan dari hasil riset dan penelitian diatas, yang paling penting bahwa untuk kebangkitan ekonomi melalui kewirausahaan sangat diperlukan adanya kerjasama yang kuat antar pengusaha. Kekuatan berkongsi sebagai kekuatan bisnis etnis Tionghoa telah membuktikan bahwa keberhasilan dan kesuksesan akan cepat terwujud dengan kebersamaan. Saling percaya, saling dukung dan saling mendorong untuk sukses adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh generasi muda Minangkabau untuk lebih sukses sebagai pengusaha, dalam berkarir dan berinovasi.

    Pada ksempatan berikutnya, Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan RI, Bpk. Dr. (HC) Ir. Air Langga Hartarto M.B.A., M.M.T., IPU juga menyampaikan dalam Orasi Kebangsaannya bahwa Negara memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia dalam berwirausaha melalui Perpres Nomor 2 tahun 2022 yang mengatur penetapan kebijakan pemerintah dalam melakukan pengembangan Kewirausahaan Nasional yang ditetapkan untuk tahun 2021 sampai tahun 2024 mendatang.

    Meredith (2002), mengemukakan nilai hakiki penting dari jiwa wirausaha adalah: percaya diri (self confidence), berorientasi tugas dan hasil, keberanian mengambil risiko, berorientasi ke masa depan, kreativitas dan inovasi. Di mana semua nilai hakiki itu sangat penting untuk dipupuk dan ditumbuh kembangkan dalam jiwa dan semangat kewirausahaan orang Minangkau. Tidak harus menunggu lama, mulai dari sekarang atau siap terlindas oleh roda teknologi dan kemajuan zaman.

    *) Penulis merupakan mahasiswa PDIM Universitas Andalas Padang.