×

Iklan


9 Bulan Berlalu, Advokat yang Jadi Korban Penganiayaan Pertanyakan Proses Hukum

18 Feb 2021 | 14:04:20 WIB Last Updated 2021-02-18T14:04:20+00:00
    Share
iklan
9 Bulan Berlalu, Advokat yang Jadi Korban Penganiayaan Pertanyakan Proses Hukum
Didi Cahyadi yang merupakan korban penganiayaan (tengah), didampingi Kuasa Hukum Guntur Abdurrahman, Fanny Fauzie dan tim, melakukan jumpa pers bersama awak media di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pergerakan.

Padang, Khazminang.id-- Setelah sekian lama menjadi korban penganiayaan yang nyaris merenggut nyawa, Didi Cahyadi yang berprofesi sebagai advokat (pengacara), mempertanyakan kasus tersebut kepada pihak berwajib. Pasalnya, sudah sembilan bulan lamanya, hingga kini kasus penganiayaan terhadap dirinya, belum menemukan titik terang. Menurutnya saat didampingi kuasa hukumnya sekaligus rekan seprofesinya mengatakan, penyerangan tersebut terjadi pada 10 Mei 2020 lalu.

“Korban bersama kliennya tengah menjalankan tugas profesi, yang berada di objek perkara, di mana waktu itu di wilayah Polres Sijunjung. Saat itu korban bersama kliennya, tengah melihat objek perkara. Lalu sekitar 30 orang pelaku pengeroyokan, dan salah satu di antaranya menggunakan senjata tajam, para pelaku bersama cukong kayu berinisial DMP, menggiring korban untuk keluar dari objek tanah, dengan mengendari tiga mobil dan dua sepeda motor,” kata dia, Kamis (18/2).

Dikatakan, saat itu, dia bersama kliennya bermaksud untuk mencari buka puasa, tiba-tiba saja pihak DMP mengancam membunuh korban, sehingga terjadilah pengeroyokan dan pembacokan terhadap korban tepat dibagian kepala hingga robek. Korban pun bersama rombongan melarikan diri ke Polsek Sijunjung. Para pelaku masih menggiring korban ke kantor Polsek, dan masih mengulangi kekerasan yang sama kepada korban, perbuatan tersebut dilakukan di hadapan aparat penegak hukum.

    Guntur Abdurrahman menyebutkan, atas peristiwa tersebut korban mengalami luka di bagian kepala dan harus dijahit. Tak hanya itu, korban melaporkan peristiwa tersebut ke kantor Polsek Kamang Baru.

    “Korban dan saksi-saksi telah beberapa kali diperiksa, sehingga telah terpenuhi syarat pembuktian untuk menangkap dan menahan pelaku. Namun faktanya dari sekian orang pelaku, hanya satu yang ditahan sedangkan yang lainnya belum. Selain itu, beberapa kali aparat kepolisian memfasilitasi untuk upaya damai, namun korban minta untuk diproses hukum, yang lebih mengejutkan lagi, korban diancam dan dituduh melakukan pelanggaran tindak pidana Undang-undang ITE atas pencemaran nama baik,” ujarnya.

    Kuasa hukum korban menilai, tindakan aparat tersebut terkualifikasi sebagai perbuatan yang tidak professional dan menyalahi prinsip-prinsip dasar penegakan hukum.

    “Aparat terkesan tidak objektif bahkan cenderung melindungi para pelaku, saat dilakukan rekonstruksi para pelaku masih melakukan pengancaman terhadap korban dan para saksi di hadapan polisi, atas peristiwa tersebut di atas, maka patut diduga telah terjadi pelanggaran hukum yang serius,” ucapnya.

    Kuasa hukum korban mendesak agar kepolisian menegakan hukum dan menindak tegas seluruh pelaku.

    “Kepada Kapolri menjatuhkan sanksi yang setimpal kepada pelaku, termasuk aparat kepolisian yang diduga melindungi pelaku, dan kepada para pengawas seperti Komnas HAM, Perlindungan Anak serta lembaga lain, untuk mendesak agar adil, profesional, tidak diskriminatif dalam penegakan hukum,” tutupnya.

    Kuasa hukum korban juga memperlihatkan foto-foto korban saat penyerangan kepada awak media.   

    Sementara itu, Kapolres Sijunjung, AKBP Andry Kurniawan saat dikonfirmasi Khazminang.id menyebutkan, kasus tersebut saat ini masih dalam proses di Satuan Reskrim Polres Sijunjung. Pihaknya telah menetapkan tersangka dalam kasus ini.

    Ia tak membantah jika ada kendala dalam proses kasus tersebut. Pihaknya mengaku terkendala lantaran BA Rekonstruksi yang hingga saat ini belum ditandatangani dan belum diserahkan oleh pelapor (Didi Cahyadi).

    "BA Rekonstruksinya belum diserahkan pelapor kepada penyidik dengan alasan masih ingin dibaca dulu di rumah, lalu masih sibuk sidang di MK dan alasan sebagainya," katanya melalui WhatsApp.

    Dikatakan, karena kendala tersebut, pihaknya hingga saat ini belum dapat menyerahkan berkas perkara ke pihak kejaksaan untuk proses selanjutnya.

    "Pihak pelapor atau korban telah kita berikan SP2HP tentang perkembangan hasil penyidikan. Kita berharap pelapor dapat lebih kooperatif dan segera menyerahkan BA Rekonstruksi kepada penyidik sehingga berkas perkaranya dapat segera dilimpahkan ke kejaksaan," tutupnya. (Murdiansyah Eko)